Kitab yang tak Suci

  • Whatsapp

Karya: R Sutandya Yudha Khaidar

‘Sebuah kitab yang hilang dari catatan para sejarawan terkemuka Kerajaan Sriwijaya. Yang gagal ditemukan Gillespie, sekalipun dia telah bersusah payah menerapkan politik “Divide et Impera” nya di Pulau Bangka. Yang bersampul dua puluh empat warna. Yang beratnya harus diangkut seekor kerbau. Sebuah kitab yang ingin kucatat ulang jika Tuhan menghendaki, dan hatiku tergerak untuk membocorkan sedikit isinya di sini.’

Secara tak sengaja aku mengetahui rahasia kitab ini, dimulai dari keisengan guru pelajaran PMP yang kemudian berubah menjadi PPKN atau sekarang kau kenal PKn. Seorang guru Madrasah Ibtidaiyah yang senang mendongeng saat jam pelajaran berlangsung. Dan karena itu, aku selalu menunggu-nunggu jam pelajaran PKn. Sekali dalam seminggu, setiap hari Rabu.
Pak Ibrahim namanya, guru yang berpostur tidak terlalu tinggi, berdada bidang, berhidung melesak ke dalam, dan berkumis seperti penampilan laki-laki Melayu pada umumnya; Ku taksir umurnya belum empat puluh tahun pada saat itu dan kami memanggilnya Pak Brahim.
“Belanda itu tak punya tanah sebenarnya, mereka menjajah kita demi untuk menguasai kebun-kebun lada dan tambang timah. Setelah lada dipetik dan timah ditambang oleh penduduk pribumi, mereka mengambilnya kemudian menjualnya ke Eropa dengan keuntungan sangat tinggi. Karena itu, mereka memiliki banyak uang. Uang yang dipakai untuk membeli tanah dari negara-negara tetangga mereka, untuk menimbun lautan. Lautan ditimbun terus-menerus dan jadilah daratan baru tempat mereka membangun rumah, kincir angin, kebun-kebun gandum, dan kebun-kebun bunga tulip,” ujar Pak Brahim dalam sebuah dongengnya.
Dongeng-dongeng yang keluar dari mulut Pak Brahim menyusup ke dalam aliran darahku. Menafkahi daging yang kemudian membentuk jaringan badaniah, hingga aku menjadi dewasa. Karena hobinya itu, Pak Brahim tidak pernah membebankan kami dengan tugas, atau pekerjaan rumah dan sejenisnya.
Perlu kau tahu, aku bukanlah murid yang rajin membuat PR. PR matematika saja hanya sekali ku kerjakan semasa duduk di kelas enam Madrasah Ibtidaiyah. Tak pernah peduli pada kegeraman guru-guruku. Bahkan sekali waktu di kelas empat, angka merah menebar di raporku.
Sebenarnya aku tidak bodoh-bodoh amat, aku hanya marah pada guru matematika yang senang mencubit kemaluan murid-muridnya yang tidak berhasil mengerjakan soal di papan tulis. Demi kemaslahatan bersama, ada baiknya nama guru tersebut tak perlu ku tulis di sini.
Kembali pada Pak Brahim, hari itu cuaca begitu cerah. Kembang sepatu berwarna kemerah-merahan bermekaran di halaman sekolah, pohon yang saat itu terlihat begitu menjulang, menaungi kami saat senam pagi. Pak Brahim muncul di depan kelas, menarik kursi guru yang berada di belakang meja ke tengah-tengah kelas.
Setelah mengucapkan salam dan menanyakan keadaan kami, ia berkata, “Kalian tahu bahwa negara kita dijajah Belanda selama tiga ratus lima puluh tahun? Tiga setengah abad negara itu berhasil menjajah kita. Tapi kalian juga harus tahu, itu tidak terjadi di daerah kita. Atok-Nek kita tidak pernah hilang akal untuk berperang melawan kaum penjajah. Kalian pernah tahu apa yang dilakukan orang-orang di Pulau Bangka? Yang membuat galiung Belanda tidak jadi berlabuh di sana? Padahal mereka sudah mempersiapkan pasukan untuk menyerang Bangka dari pantai Toboali. Tentu kalian tidak pernah tahu karena cerita itu tidak pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun di muka bumi.”
Lelaki itu berhenti sebentar, mengambil rokok dari saku kemeja hijau pupusnya lalu memantik rokok, mengisapnya perlahan. Kemudian ia berkata, “Saat saya kecil dulu, saya pergi mengaji ke Mendo Barat. Saya diantar oleh bapak saya untuk menimba ilmu agama di sana. Tinggal di sebuah pondok yang dihuni oleh sepuluh santri, pondok bertiang yang dipenuhi gantungan baju dan tempat kami merebahkan diri bila selesai membaca kitab-kitab agama.”
“Bagaimana Bapak bisa jadi guru Madrasah Ibtidaiyah sementara latar pendidikan Bapak mengaji di pondok? Bukan bersekolah seperti guru lainnya?” Maryanti yang berkulit putih, memiliki senyum paling manis dan paling menonjol di antara kami, tiba-tiba mengajukan pertanyaan.
“Setelah keluar dari pondok, orang tua saya memasukkan saya ke PGA (Pendidikan Guru Agama), Maryanti.” Ia kembali mengisap rokok, mengembuskan asapnya yang berbentuk bulatan-bulatan kecil. Saat itu belum ada larangan merokok untuk guru, hanya murid yang tidak boleh merokok. Seperti pasal pertama dalam perpeloncoan, guru tak pernah salah. Jika murid yang ketahuan merokok, bersiaplah dihajar dengan rotan, dipermalukan di depan kelas sebelum kemudian dipanggil orang tuanya.
Pak Brahim kembali melanjutkan cerita, “Salah satu dari teman kami itu bernama Salahuddin, kami memanggilnya Din. Din adalah anak seorang petinggi kampung yang memiliki sawah separuh kecamatan. Kekayaan orang tua Din yang membuat dia menjadi anak manja dan paling egois di antara kami. Anak itu tak pernah menyentuh makanan tak enak, yang kadang ikannya kekurangan garam atau menjadi sangat keras karena digoreng dihari sebelumnya, membuat gigi menjerit saat mengunyahnya.”
“Ibunda Din selalu mengantarkan lauk-pauk dari rumah, yang membuat air liur kami meleleh. Kami selalu berharap ditawarkan cumi-cumi sambal terasi atau lempah kuning ikan atau sepotong ayam kampung yang diantar ibundanya. Tetapi Din terlalu pelit untuk itu, dia meletakkan makanannya di dalam lemari pakaiannya yang dikunci dengan gembok perak; memakannya diam-diam saat kami sedang tidak di kelas. Suatu hari setan-setan membisikkan sebuah muslihat kepada kami. Ketika Din pergi mandi di sungai, kami mencongkel lemari anak itu dan menghabiskan ayam masak mirah yang baru diantar kakak Din. Din menangis saat mendapati makanannya tak bersisa, dan melaporkan pada ibunya keesokan hari. Saya dan teman-teman lainnya dipanggil guru kelas untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kami. Teman-teman saya dihukum untuk membersihkan wc, menghafal satu surah, dan berdiri selama satu jam di bawah sinar terik matahari selama satu minggu. Karena saya tak kunjung mengakui perbuatan saya, guru kelas menjadi putus asa dan menyerahkan saya pada Atok Toboali,” tuturnya.
Karisma dan hikmah seperti mengikuti Atok Toboali, meski usia sudah sepuh, rambut berubah putih, tak ada yang berani membantah lelaki itu. Jangankan membantah, menatap wajahnya saja orang tak mampu. Ada cahaya tauhid berpendar di dahinya, cahaya putih keemasan yang menyilaukan mata.
“Sesampai di rumah Atok, saya tidak ditanyai mengenai perbuatan saya pada Din. Atok malah menyuruh saya mencuci tangan dan menjamu saya makan malam satu meja dengan dirinya. Istri Atok sudah menghidangkan lempah kuning ikan belanak beserta nasi mengepul yang sangat menggugah selera. Tanpa banyak bicara, saya langsung mencuci tangan dan makan satu meja dengan Atok Toboali, mensyukuri keberuntungan yang sedang mendatangi saya. Setelah selesai makan, hati saya kembali dag-dig-dug, menunggu dengan cemas apa yang akan terjadi pada saya selanjutnya. Yang tidak saya duga sebelumnya, Atok Toboali malah bertanya, kamu tahu kenapa Belanda frustrasi di Bangka?” Saya menggeleng-geleng kepala. Lalu Atok bercerita,…
“Suatu masa dulu, ketika saya masih sangat muda, kami mendengar Kerajaan Sriwijaya telah jatuh. Sultan menyerah demi menyelamatkan keluarganya, kami melihat dua galiung besar mendekati pantai Toboali. Dua kapalnya yang dilengkapi meriam telah mengapung di dekat pantai, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Meriam-meriam telah diarahkan ke daratan. Saat itu, para tetua bersama ulama duduk bermufakat, membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil. Tidak ada kata menyerah pada para kafir, para tetua dan ulama satu kata untuk melawan, keluar sebagai pemenang, atau mati terhormat. Untuk itu, salah satu dari mereka yang bernama Abdul Rohim atau lebih sering dipanggil Drohim mengajukan satu muslihat, muslihat yang berasal dalam kitab rahasia yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya; Kitab Yang Tak Suci.”

****

Bedul yang duduk di sudut belakang kelas tiba-tiba menangis, kemudian hidung kami mencium aroma pesing. Anak itu tak berani meminta izin untuk ke kamar kecil pada Pak Brahim. Karena tak tahan lagi, dia buang air dalam celana di kursinya. Semua mata mengarah pada teman kami yang penakut itu, dan kami hanya bisa mengutuknya dalam hati.
Pak Brahim menghentikan ceritanya, menyuruh kami membantu Bedul mengangkut air dari sumur yang berada di belakang sekolah, mencuci lantai dan kursi yang telah terkena Najis Mutawassithah teman kami itu. Dan lonceng jam pelajaran selesai berbunyi tepat setelah kami berhasil mengelap lantai dengan kain yang diambil Pak Brahim dari kantor guru. Meski Pak Brahim berjanji akan melanjutkan ceritanya minggu depan, kami tetap sangat kecewa. Beberapa diantara kami bahkan mulai menyalahkan Bedul.
Seminggu terasa cukup lama untuk menunggu. Dua galiung Belanda yang sedang mengapung di pantai Toboali sampai terbawa ke dalam mimpi. Aku melihat kedua galiung berbendera tiga warna; merah, putih, biru muncul dari Pulau Maspari. Bersandar di pantai Toboali, merangsek ke arah kebun lada kami, di mana aku duduk di pondok kebun. Ketakutan, aku berlari sekuat tenaga di antara kayu-kayu penyangga pokok lada, menuju rumah, sampai sandalku hilang. Aku terbangun dengan keringat bercucuran dan tak habis-habisnya mengutuki Bedul.
Rabu, jam pelajaran PKn di kelas kami akhirnya tiba juga, setelah sebelumnya berulang kali kami mengejek Bedul, si tukang ngompol di kelas. Pak Brahim masuk kelas, berdehem, membuat kami terdiam. Ketika kami menagih janjinya untuk melanjutkan cerita apa yang dilakukan oleh orang pribumi untuk menghalangi dua galiung Belanda berlabuh, Pak Brahim mulai mempermainkan kami. Berpura-pura lupa, sudah sampai di mana dia telah bercerita.
“Sampai pada bagian Drohim mengajukan sebuah muslihat yang berasal dari Kitab Yang Tak Suci, Pak.” Lagi, Maryanti menyelamatkan kami.
Seperti minggu-minggu sebelumnya, Pak Brahim kembali mengeluarkan rokok dari saku kemeja, kali ini kemeja warna ungu melambangkan kedudaan beliau. Kemudian memantik rokok dan mengisapnya di depan kami, dan dia mulai bercerita.
“Atok Toboali bercerita kepada saya, Drohim, lelaki yang memiliki lima belas kebijaksanaan, berkulit paling cerah diantara kami. Menunjuk tangan dan memberi usul yang mengagetkan seisi majelis, yang membuat para tetua dan ulama berbeda pendapat akan hal itu. Mereka terus berdebat hingga tengah malam, memberikan alasan-alasan yang masuk akal dan alasan-alasan yang tidak masuk akal terhadap usulan Drohim.”
“Apa yang sebenarnya diusulkan Drohim, Atok?” tanya saya yang tidak kuat menahan rasa penasaran lebih lama lagi. Atok tersenyum, kemudian menjawab.
“Sabar dulu, sampai saya tiba pada bagian itu.”
“Setelah tengah malam, akhirnya ulama dan tetua sudah memutuskan untuk melaksanakan usul Drohim yang berasal dari Kitab Yang Tak Suci. Kami pulang ke rumah sebentar untuk bersiap-siap. Sebelum matahari terbit di ufuk timur, saya dan para laki-laki di kampung kami dan kampung tetangga sudah berkumpul di pinggir pantai Toboali. Kami melepaskan baju, celana, dan kancut hingga telanjang bulat, saling mengecat badan kami dengan arang, kemudian berbaris membelakangi pantai kira-kira sepanjang dua kilometer. Saat matahari hampir terbit, kami rukuk, kepala mendekati tanah dengan posisi pantat ke arah dua galiung Belanda, tak kami pedulikan angin dingin yang mengembusi ketelanjangan kami. Kira-kira dua jam kemudian, Belanda menarik jangkar dan meninggalkan laut Bangka. Mereka pasti berpikir, meriam-meriam telah dibariskan di pinggir pantai untuk menyambut kedatangan mereka.”
“Atok Toboali tersenyum puas kepada saya, dan menanyai saya. Lalu, muslihat apa yang bisa kamu lakukan untuk mengelak hukuman guru kelas? Saya menjadi malu sendiri, kemudian mengakui perbuatan saya dan bersedia menjalani hukuman seperti teman saya yang lain.”
Pak Brahim mengakhiri ceritanya.

****

Tapi cerita itu tak pernah berakhir dalam kepalaku. Mulai saat itu, aku bersumpah untuk menemukan Kitab Yang Tak Suci milik keluarga Drohim. Aku mulai rajin belajar, melanjutkan sekolah hingga selesai kuliah, kemudian berkelana dari satu kampung ke kampung lainnya di Pulau Bangka. Sampai aku ditakdirkan untuk menemukan kitab tersebut dan berencana untuk menyusun ulang. Jika kau sangat penasaran pada Kitab Yang Tak Suci, bersabarlah, lain kali pasti akan kuceritakan lebih banyak padamu. (***)

Related posts