Komunikasi Efektif dalam Memberikan Pelayanan Sosial

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Manusia adalah zoon politicon atau mahluk yang pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia yang lainnya (Aristoteles, 384-322 M). Status mahluk sosial melekat pada diri setiap individu. Manusia tidak dapat bertahan hidup secara utuh hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Sejak lahir sampai meninggal dunia manusia memerlukan bantuan atau kerja sama dengan orang lain.
Dalam kehidupan bermasyarakat, komunikasi merupakan kegiatan yang tidak dapat dihindari guna mencapai kesejahteraan sosial. Melalui komunikasi yang efektif, informasi dapat disampaikan ke semua lapisan masyarakat, sehingga terciptanya hubungan komunikasi dua arah. Pekerja sosial harus dapat berkomunikasi secara efektif. Hal ini bertujuan agar masyarakat atau Ppenerima manfaat dapat mengerti, memahami dan merespon informasi yang disampaikan oleh pekerja sosial tersebut.
Menurut Steven, komunikasi terjadi kapan saja dan tergantung pada organisme merespon suatu objek di dalam lingkungan atau pada diri seseorang. Komunikasi merupakan paket isyarat antara verbal dan nonverbal (isyarat tubuh), yang bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain sehingga terciptanya komunikasi dua arah di dalam kehidupan bermasyarakat. 
Komunikasi yang efektif akan sangat membantu si pemberi pelayanan kesejahteraan sosial termasuk pekerja sosial di dalamnya. Seorang pekerja sosial berperan ganda dalam suatu komunikasi, yaitu sebagai komunikan dan komunikator. Artinya, pekerja sosial dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial masyarakat. Ketika berada pada posisi sebagai konselor pekerja sosial memiliki kemampuan untuk menerima dan memaknai informasi dari masyarakat atau penerima manfaat serta memberikan informasi atau respon dari hasil pemaknaan tersebut.
Terkadang kita jumpai seseorang yang memiliki persoalan dalam komunikasi. Hal ini perlu diperhatikan mengingat masyarakat berhak mendapatkan pelayanan prima dari pihak penyelenggara kesejahteraan sosial. Salah dalam memberikan informasi yang diakibatkan komunikasi yang tidak efektif menyebabkan penerima manfaat akan berkeluh kesah dan tidak puas. Apalagi masyarakat tersebut datang dari tempat yang jauh tentu ini akan melahirkan kekecewaan.
Hambatan dalam KomunikasiHerbert J. Chruden dan Arthur W. Sherman membagi hambatan-hambatan dalam komunikasi menjadi tiga, yaitu Pertama, diakibatkan oleh perbedaan antara individu-individu. Setiap manusia dilahirkan dengan kemampuan yang berlainan sehingga dalam komunikasi dapat menyebabkan hambatan dalam hal ini karena adanya perbedaan persepsi, perbedaan dalam usia, perbedaan dalam kemampuan mendengarkan, perbedaan dalam penafsiran (semantik).
Kedua, hambatan yang ditimbulkan oleh suasana psikologis. Biasanya keadaan ini diakibatkan karena gugup dan tidak percaya diri ketika berkomunikasi dengan masyarakat atau penerima manfaat. Keadaan ini, disebabkan oleh kondisi si pemberi layanan kesejahteraan sosial yang berpikiran bahwa tugas yang ia lakukan penuh dengan tantangan, sehingga mengakibatkan pernafasan kurang baik, suara labil, dan timbul sikap tidak percaya diri.
Keadaan ini, biasanya terjadi bila masyarakat atau penerima manfaat tidak sabaran ketika mengantri untuk mendapatkan layanan. Saat kondisi masyarakat kehilangan kesabaran dan berbiara dengan nada tinggi dan mata melotot cukup sering membuat si pemberi layanan kesejahteraan sosial tertekan dan komunikasinya dengan masyarakat menjadi masalah.
Ketiga, hambatan dalam mekanika komunikasi. Seringkali seseorang mengalami masalah dalam berkomunikasi diakibatkan masalah teknis. Seperti lupa apa yang akan disampaikan kepada masyarakat atau penerima manfaat. Menurut Psikologi Umum teori tentang lupa, yaitu: Decay Theory menyatakan bahwa informasi yang disimpan dalam memori hilang karena tidak pernah diulang atau dipakai kembali,biasanya disimpan pada memori sensoris yang memiliki kemampuan menyimpan informasi dalam waktu yang  amat pendek (informasi yang disimpan tersebut cepat lupa). 

Hasil penelitian para ahli, informasi yang disimpan dalam memori sensoris akan mulai menghilang persepuluh detik dan hilang sama sekali setelah satu detik. Inveresy theory menyatakan bahwa informasi yang disimpan dalam memori terganggu karena munculnya informasi yang baru. Dua teori ini memberikan gambaran kepada pemberi layanan kesejahteraan sosial bahwa suatu waktu bisa saja, program/ kegiatan, alur, teknis dan S.O.P yang ada di institusi sosial lupa. Oleh karenanya penting, semua hal yang tadi penulis sebutkan ditempel di papan tulis atau mading, sehingga dapat membantu si pemberi layanan dalam menjelaskan program/ kegiatan apa saja yang ada dan bagaimana cara mengaksesnya.
Perkara teknis lainnya yang cukup sering mengganggu dalam berkomunikasi, yaitu tidak mempunyai rencana tertentu. Hambatan ini, dikarenakan tidak diketahui siapa yang akan berkomunikasi dan bagaimana mengomunikasikan informasi atau pesan kepada masyarakat (penerima manfaat). Hal ini, dapat diatasi ketika si pemberi layanan memahami struktur organisasi, bidang apa saja dan apa saja tupoksi masing-masing bidang. Dengan demikian, ketika ada masyarakat atau penerima manfaat mengakses program tersebut, si pemberi layanan dapat menghubungkannya pada bidang yang tepat.
Selain iu juga, faktor kurangnya kemampuan untuk membaca turut andil menyebabkan terhambatnya komunikasi seseorang dengan yang lainnya. Komunikasi dipengaruhi juga oleh kemampuan membaca seseorang. Sebagai si pemberi layanan kesejahteraan sosial yang tidak memiliki kemampuan (kecakapan) dalam membaca akan mengalami kesulitan dalam memulai pembicaraan dan tidak menguasai keseluruhan materi yang akan disampaikan kepada masyarakat atau penerima manfaat. Hal ini menyebabkan informasi yang diterima masyarakat tidak jelas.

Komunikasi EfektifBerangkat dari hal di atas, penulis menganggap penting memaparkan tentang lima hukum komunikasi yang efektif. Hukum yang pertama dalam komunikasi yang efektif adalah sikap hormat dan saling menghargai terhadap komunikan (dalam hali ini masyarakat atau penerima manfaat), hukum kedua adalah empati, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Sebagai si pemberi layanan kesejahteraan sosial sebaiknya mengetahui latar belakang, golongan, lapisan sosial, tingkatan umur, pendidikan dari masyarakat atau penerima manfaat yang akan kita ajak berkomunikasi. Hukum ketiga adalah audible (pesan yang disampakan dapat diterima, didengarkan, serta dimengerti dengan baik), hukum ini juga mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui medium atau delivery channel sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat atau penerima manfaat. Oleh karena itu, sebagai si pemberi layanan kesejahteraan sosialyang professional kita harus memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai media guna mendukung kelancaran komunikasi dengan masyarakat. Media yang dimaksud bisa dalam bentuk alur S.O.P yang ada pada poster yang ditempel di mading atau liflet yang berada di atas meja.
Hukum keempat adalah kejelasan dari pesan yang disampaikan (clarity) sehingga tidak menimbulkan multi interprestasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity bergantung pada kualitas suara dan bahasa yang digunakan. Hukum kelima adalah sikap rendah hati yang dapat menimbulkan respon positif dari masyarakat atau penerima manfaat.
Pembaca yang budiman, bagi si pemberi layanan kesejahteraan sosial kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis adalah modal yang sangat penting dalam menghadapi permasalahan sosial yang semakin lama semakin kompleks. Melalui komunikasi yang efektif, akan lebih mudah menyelesaikan masalah sosial di dalam masyarakat. Selain itu juga, informasi dapat disampaikan ke semua lapisan masyarakat sehingga terciptanya hubungan komunikasi dua arah yang saling mengerti satu sama lain.
Sebagai penutup, kaidah komunikasi yang efektif dalam pandangan Islam, yaitu dengan menyampaikan sesuai dengan apa yang dimengerti oleh lawan bicara (dalam hal ini adalah masyarakat atau penerima manfaat). Berkata Al-Bukhari ra., Ali ra., berkata, “berbicaralah kepaa manusia sesuai apa yang ia ketahui..” (Shahih Al-Bukhari, Fathul Baari 1/225). Ini artinya, si pemberi layanan harus dapat menggunakan dan memilih diksi bahasa yang tepat yang dapat dimengerti dan dipahami. Di sisi lain, si pemberi layanan kesejahteraan sosial hendaknya menguasi informasi intitusi penyelenggara kesehateraan sosial dimana Ia bernaung, sehingga dapat berkomunikasi dengan efektif saat memberikan layanan prima. Wallahu’alam. (****).

No Response

Leave a reply "Komunikasi Efektif dalam Memberikan Pelayanan Sosial"