Kompetisi Tidak Tepat untuk Anak

  • Whatsapp

Oleh: Deddy Kristian Aritonang, S.S., M.Hum
Guru SMP/SMA Sutomo 2 Medan dan Dosen PTS

Bila anda adalah orang tua yang selalu mendorong anak anda agar selalu meraih juara satu, baik di sekolah maupun dalam berbagai jenis perlombaan akademis, mudah-mudahan tulisan ini bisa mengubah persepsi anda tentang hakikat pendidikan bagi anak.
Orang tua merasa bangga ketika anaknya berprestasi merupakan hal yang wajar. Tak jarang, keberhasilan itu diumbar di media sosial atau dengan cara bercerita ke para tetangga. Ini juga masih sah-sah saja. Yang menjadi tidak wajar adalah, disadari atau tidak, munculnya keegoisan dalam diri para orang tua ketika menjadikan prestasi dalam kompetisi sebagai indikator utama untuk menentukan kesuksesan pendidikan anak.
Orang tua sering terlalu memaksakan keinginan dalam mengarahkan kemana sang anak harus bergerak. Padahal, keinginan anak belum tentu seperti yang orang tua mau. Salahkah? Tentu saja! Apalagi jika obsesi itu menjadi begitu besarnya sehingga ketika anak-anak tidak meraih juara atau menurun prestasinya, hukuman fisik diberikan demi menyadarkan sang anak bahwa ketidakberhasilan mereka adalah hal yang sangat buruk. Dampaknya, segala macam perlombaan menjadi begitu diagung-agungkan. Anak-anak kemudian selalu didorong bukan hanya untuk berpartisipasi tapi juga dituntut meraih prestasi.

Tidak Mendidik

Kompetisi tidak baik dalam paradigma pendidikan. Metode perlombaan sebenarnya gagal menggali serta memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh seorang anak.
Dalam film Three Idiots, Viru Sahastrabuddhe, sang profesor ‘killer’ selalu menekankan pada para mahasiswanya bahwa life is a race (hidup adalah perlombaan). Dia sangat tergila-gila pada persaingan yang kompetitif, sehingga menyebabkan anak kandung dan mahasiswanya bunuh diri akibat stress yang luar biasa. Pada akhirnya, metode Virus, nama si profesor yang diplesetkan para mahasiswanya, dipatahkan oleh seorang mahasiswa jenius. Pandangannya soal pendidikan pun berubah drastis.
Memang Three Idiots hanyalah sebuah film. Akan tetapi moral lesson yang terkandung dalam ceritanya sangat relevan dengan apa yang sedang terjadi dalam pendidikan sekarang. Film ini mencoba mengkritisi pola didik yang salah terutama pada konteks masifnya penggunaan sistem kompetisi.
Dalam kompetisi, kita sering menyebut “Bersainglah dengan sehat.” Pada kenyataannya persaingan tidak akan pernah menjadi sehat selagi ia masih dalam bentuk persaingan. Pasalnya, seorang anak akan menganggap peserta lain sebagai penghalang bagi dirinya menuju kemenangan. Maka, semua kompetitior harus dikalahkan meski dalam kesehariannya mereka berteman. Lihatlah betapa sering relasi sosial di antara anak-anak menjadi rusak karena kompetisi.
Sistem rangking di sekolah juga tidak tepat. Dalam satu kelas biasanya ada puluhan peserta didik. Dari puluhan jumlah itu, hanya ada satu anak yang akan dianggap murid terbaik karena meraih juara satu. Tak jarang, sang juara diberi hadiah seperti piagam penghargaan hingga beasiswa.
Lantas bagaimana dengan murid-murid lainnya? Murid-murid yang kurang baik pencapaiannya akan merasa terpinggirkan. Mereka akan menganggap dirinya gagal dan tidak mampu. Padahal bisa saja keahlian mereka ada di bidang lain, namun tidak diakomodir di sekolah. Jurang pemisah antara anak-anak yang berprestasi dengan yang tidak akan semakin lebar.
Setiap anak adalah pribadi unik dengan bakat, keistimewaan dan kebutuhan belajar yang heterogen. Oleh sebab itu, persaingan hanya akan menumbuhkan pemahaman yang salah, yang juara akan selalu menganggap dirinya melebihi teman-temannya, sementara yang tidak, apalagi yang berada di ranking buncit akan selalu merasa kalah dan bodoh.
Kompetisi juga membangkitkan diskriminasi secara terselubung. Selalu muncul perbedaan perlakuan terhadap anak yang juara dengan anak yang tidak. Mereka yang juara dianggap cerdas, dan menjadi prioritas untuk mewakili sekolah ketika ada ajang perlombaan seperti olimpiade, lomba pidato, dan lain-lain. Mereka dianggap sosok yang mengharumkan nama sekolah ketika juara. Anak-anak yang tidak juara di kelas menjadi teralineasi. Mereka tidak punya peluang menonjolkan keahliannya karena ditutup oleh sistem kompetisi tadi.
Penulis bukan hendak mendiskreditkan anak-anak berprestasi serta usaha-usaha keras guru dan sekolah membimbing dalam mereka hingga berhasil menorehkan prestasi. Penulis hanya mencoba mengkritisi betapa kita selama ini salah kaprah dalam memahami kompetisi. Dan, meski Kurikulum 2013 sudah menghapus perangkingan, faktanya, sistem kompetisi masih banyak diadopsi oleh pengambil kebijakan di sektor pendidikan negara kita sehingga tanpa disadari sekolah, guru dan murid menjadi korban.

Model Kooperatif

Sistem kompetisi memang menjadi dualisme dalam dunia pendidikan global. Negara-negara yang masih setia menganut paham sangat welcome dengan ajang persaingan di kalangan pelajar melalui olimpiade bidang-bidang studi tertentu. Indonesia adalah salah satunya. Uniknya, Finlandia yang metode pendidikannya banyak menjadi acuan negara-negara lain justru tidak mendukung paham ini. Mereka memilih model kooperatif.
Sistem kooperatif memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berperan dalam setiap kegiatan atau project. Kebersamaan ini memupuk nilai kesetaraan. Selain itu, sikap memandang anak lainnya sebagai pihak yang sama penting (equally important) juga terwujud. Pada akhirnya, ketika semua merasa punya kontribusi, kepercayaan diri pun meningkat.
Dalam sistem kooperatif, para peserta didik memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda, sehingga memberikan ruang yang luas untuk menemukan potensi dalam diri masing-masing. Perbedaan peran ini jugalah yang memberikan pemahaman bahwa setiap anak itu unik dan memiliki kelebihan yang saling melengkapi.
Sebagai contoh, ketika siswa-siswi dibentuk dalam sebuah tim untuk pementasan drama, anak-anak yang jago akting akan mengambil peran sebagai pemain, yang piawai dalam urusan dekorasi akan bertugas menata panggung, yang terampil dalam hal dokumentasi akan bertugas sebagai fotografer dan yang berbakat dalam urusan public relation dan marketing akan diberi tugas mencari dana dan mengiklankan pementasan drama ke khalayak ramai.
Dengan demikian, sistem kooperatif lebih mengakomodir perbedaan kebutuhan belajar, minat dan bakat dalam diri seorang pelajar, sehingga harus lebih dikedepankan. Kompetisi hanya tepat sebagai ajang mengenali kemampuan bukan indikator utama dan satu-satunya untuk menakar kesuksesan seorang anak. (***).

Related posts