by

Komisi III Usut Proyek Embung Mentas

-NEWS-152 views
Dinding embung Gunung Mentas di Kabupaten Belitung yang ambruk, menurut anggota Komisi III DPRD Babel hingga awal Maret 2019 kemarin, belum diperbaiki kontraktor. Proyek ini diusut DPRD. (Foto: IST/Roni Bayu)

Diduga Dikerjakan tak Sesuai RAB
Anggota DPRD Babel Datangi Kementerian

PANGKALPINANG – Kegiatan pembangunan infrastruktur yang dilakukan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen SDA PUPR) di Kabupaten Belitung, mendapat perhatian dari DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Melalui Komisi III, DPRD Babel menyoroti mega proyek sumber air baku Embung Gunung Mentas, di Desa Kapayang, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung dengan nilai Rp123 milliar yang dinilai ada ketidakberesan.
DPRD menurut Ketua Komisi III, Deddi Wijaya akan memintai pertanggungjawaban baik itu dari jajaran PUPR maupun kontraktor atau rekanan yang mengerjakan proyek itu.
“Baru berapa bulan selesai, ditemukan banyak kerusakan-kerusakan. Kami sudah melaporkan itu ke Kementerian, DPR RI juga kita minta untuk melakukan fungsi pengawasan di Belitung,” katanya kepada wartawan, Kamis (14/3/2019).
Deddi mengaku proyek tersebut dikerjakan oleh PT Fatimah bekerjasama dengan PT Bangka Cakra selaku KSO. Ia menyebutkan kerusakan dalam pembangunan proyek itu sudah dibuatkan surat untuk segera diperbaiki. Namun sampai sekarang belum ada perbaikan sama sekali.
Anggota Komisi III Dapil Belitung, Abdullah Ma’ruf juga menyesalkan fakta yang ditemukan di lapangan. Secara kasat mata, pembangunan embung Air Baku, Gunung Mentas, Desa Kapayang itu menurutnya dapat dilihat beberapa kerusakan signifikan.
“Kita lihat ada beberapa hal kasat mata talud jebol, ambrol, ada yang tidak ditalud, tidak dicor, pondasi menggantung. Kita lapor ke Ketua DPRD dan komisi untuk ditindaklanjuti. Kita datangi Kemen PUPR SDA. Mereka sudah mengetahui hal ini, tapi laporan satu titik jebol dan ambrol,” urainya.
Kementerian disampaikan Ma’ruf juga sudah sampaikan surat kepada Balai Besar SDA Sumbagsel di Palembang untuk menindaklanjuti temuan itu. Proyek yang menggunakan system multiyear situ pun dinilai tidak sesuai spesifikasi teknis, dan diduga dibuat asal-asalan.
“Komisi III akan meninjau tindak lanjut pembangunan ini. Kita ke lapangan 1 Maret belum ada perbaikan sama sekali,” tukasnya.
Sementara, Taufik Mardin Sekretaris Komisi III yang juga wakil rakyat dari Pulau Belitung mengatakan, pembangunan embung itu sebenarnya sangat diharapkan masyarakat Belitung untuk kebutuhan air baku. Namun kondisi bangunan yang dikerjakan kontraktor disesalkannya.
“Pembangunan banyak yang tidak ditalud. Kondisi talud luar biasa tidak sesuai spesifikasi. Embung tidak mungkin hanya dibangun demikian. Kita minta DPR RI Komisi V mengawasi dan turun ke Belitung. Karena embung ini diharapkan masyarakat Belitung,” tandasnya.
“Sumber air bersih sudah sulit didapatkan di Belitung ini. Kita harapkan jangan ada pembangunan dengan dana APBN dibuat asal-asalan. Harus lebih ketat pengawasan dan ada tindak lanjut serta perbaikan,” imbuhnya.
Terakhir diberitakan, Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobi, telah meninjau Embung Air Baku Gunung Mentas itu, Kamis (21/02/2019) sore. Saat peninjauan, wakil bupati didampingi Kepala Bappeda Belitung Hendra Caya, Kabid SDA Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), Rizaldi, Kabag Umum KA. Azhami, Inspektorat, dan Dinas Pariwisata.
Kepada Rakyat Pos, Isyak Meirobi mengatakan Pemkab Belitung menunggu penyerahan hasil pekerjaan proyek itu dari pemerintah pusat, karena pembangunan embung ini adalah proyek pusat menggunakan dana APBN.
“Selanjutnya, kita serahkan pengelolaannya kepada managemen profesional. Kita akan melakukan perombakan jajaran direksi di PDAM yang akan ditunjuk sebagai operator. Kita akan bahas bisnis plan, proyeksi bisnis kedepan,” kata Isyak.
Terlebih, Embung Air Baku Gunung Mentas ini memiliki deposit air yang banyak, kadar air bagus dan akan dialirkan ke potensi-potensi pasar, seperti hotel, restoran dengan kontrak jangka panjang.
“Kita butuh jajaran direksi dan managemen yang profesional,” tandas Isyak.
Terkait ambruknya dinding embung air baku yang sempat ramai diperbincangkan, kini sudah ada tanda-tanda akan mulai diperbaiki. Kontraktor pelaksana pembangunan embung, PT. Fatimah Indah Utama dan PT. Bangka Cakra Karya selaku KSO pun, telah mulai menyiapkan material untuk segera melakukan perbaikan dinding embung yang ambruk atau longsor sepanjang 18 meter.
“Itukan masih dalam tahap pemeliharaan, masih menjadi tanggungjawab perusahaan,” kata pengawas proyek, Sastra Sasmita perwakilan Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Sumatera VIII Provinsi Babel, Kamis (21/02/2019).
Dia membenarkan ada sekitar 18 meter dinding embung yang ambruk sejak 22 Januari 2019 lalu. Pihak kontraktor, kata Sastra Sasmita sudah mengetahui ambruknya dinding embung, dan Satker PJPA Sumatera VIII Provinsi Bangka Belitung pun telah melayangkan surat kepada kontraktor agar segera memperbaiki dinding embung yang ambruk.
“Minggu depan, perbaikan sudah dikerjakan,” tandas Sastra Sasmita.
Mega proyek yang menghabiskan APBN tahun anggaran 2016, 2017 dan 2018 dengan dana lebih dari Rp123 miliar itu, sempat ramai diperbincangan setelah dinding embungnya ambruk beberapa kali. Tak diketahui pasti penyebab ambruknya dinding embung. Namun kemungkinan kondisi tanah yang masih labil dan belum padat.
“Kemungkinan itu (kondisi tanah),” jelas Sastra sembari menyangkal jika ambruknya dinding embung disebabkan kualitas pekerjaan yang kurang baik.
Diketahui Embung Air Baku Gunung Mentas di Dusun Kepayang seluas 11 hektar ini sejatinya mampu mengalirkan air 240 liter per detik. Di sekeliling kolam embung tertata tanaman palm putri dan dilengkapi dengan lampu penerangan berkapasitas 345.000 VA, serta jaringan pipa transmisi sepanjang 8,3 Km.
Terkait batu bata penahan pinggir jalan di sekeliling embung yang terlihat masih berantakan, Sastra menjelaskan, jika bata itu semula sudah terpasang. Tapi, karena tanah timbunan masih lembek dan jalan dilewati kendaraan sehingga pasangan bata penahan jalan ikut bergeser.
“Kontraktor sudah menyatakan akan segera melakukan perbaikan,” pungkas Sastra.
Sebelumnya, Kepala Satker PJPA Sumatera VIII Provinsi Bangka Belitung, Joni Rahaisyah telah mengirimkan surat kepada kontraktor PT Fatimah Indah Utama dan PT Bangka Cakra Karya (KSO) tertanggal 7 Februari 2019 dengan perihal menginstruksikan perbaikan selama masa pemeliharaan dan pembuatan pintu air dengan dana CSR perusahaan itu.
Instruksi itu yakni agar rekanan melakukan perbaikan longsoran talud pada sisi selatan (dinding embung) sepanjang kurang lebih 18 meter, kemudian mengganti tanaman yang mati di sekitar area tanggul jalan inspeksi. Lalu penggantian kabel dari trafo ke panel ATS dan segera melakukan pekerjaan pembuatan pintu air.
Dari empat instruksi itu, sudah diindahkan kontraktor yakni penggantian kabel dari trafo ke panel ATS. Sedangkan perbaikan longsoran talud dijanjikan segera dilakukan. Kontraktor diketahui memiliki waktu satu tahun untuk melakukan perbaikan dalam masa pemeliharaan. Jika tidak diperbaiki, maka jaminan penawarannya akan dicairkan pihak Satker PJPA dan uangnya digunakan untuk memperbaiki kerusakan tersebut. (ron/1)

Comment

BERITA TERBARU