Kodrat yang Teraniaya

No comment 342 views

Karya: Rusmin

Usai subuh, kesibukan perempuan itu dimulai. Di dapur Laila, nama perempuan itu memulai awal pagi dengan satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Pelu membasahi pipinya. Demikain dengan kakinya. Terasa sangat pegal. Soal wajahnya jangan ditanya. Berantakan sekali. Menghapus pernik kecantikan yang eksotis sebagai seorang perempuan. Pekerjaan dapur dengan segala tetek bengeknya, seolah tak ada habisnya.
Laila memang menolak saat keluarganya meminta untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi usai menamatkan pendidikan jenjang SMA. Dirinya sudah menduga bahwa akhirnya akan berlakon seperti ini dan dalam posisi sekarang ini.
Menolak melanjutkan pendidikan tinggi bukan berarti Laila menentang kehendak kedua orangtuanya. Tidak sama sekali. Ilmu bagi perempuan ini media untuk membuka cakrawala berpikir dan membuat perspektif baru yang membuat manusia menjadi cerdas dan bukan hanya pintar.
Keinginan ayah dan ibunya agar Laila bisa menikah dengan lelaki pilihan yang bergelar, membuat ambiasi Laila menuntut ilmu kandas bak perahu nelayan di lautan luas. Ia tak kuasa menolak keinginan kedua orang tuanya yang usainya sudah makin merenta. Adalah sebuah ketidaklogisan baginya sebagai anak untuk menolak keinginan baik kedua orang tuanya itu agar dirinya bermasa depan yang indah dan cemerlang.
“Cagal itu dokter Nak, Dokter. Masa depannya jelas,” bujuk ibunya.
“Kami hanya ingin kamu bahagia dan memiliki masa depan yang cemerlang. Apalagi masa depan sekarang sudah tak jelas akibat berbagai kebijakan pemimpin,” sebut sang ayah.
Laila tak mengerti pula bagaimana akhirnya dirinya bisa hidup bersama lelaki yang tak pernah dicintainya itu. Laila juga tak mengerti bagaimana alur rumah tangga mereka. Sama sekali tak dipahaminya. Namun dilakoninya hingga sudah berjalan tahunan.
Pulang bekerja suaminya asyik dengan kesendiriannya. Kadang kembali ke rumah sakit untuk melakukan tindakan medis terhadap pasien yang memerlukan pertolongan segera. Demikianlah alur kehidupan dirinya dan sang suami. Tak ada pertengkaran. Tak ada dialog sebagaimana layaknya pasangan suami istri lainnya. Tak ada. Keromantisan? Tak usahlah diceritakan. Terlalu panjang dan rumit.
Namun begitu Laila tak mau menyesali apa yang terjadi dalam alur kehidupan rumah tangganya. Tak ada gunanya menyesali apa yang sudah diputuskan bersama dengan kedua orang tua dan pamannya. Ketika dirinya merasa putus asa dengan perjalanan cintanya yang tak jelas dengan lelaki pilihannya yang juga tak jelas akan meminangnya. Sementara usianya tak terbendung. Makin hari kian berrtambah. Apakah dirinya siap menerima sebutan gadis tua dari warga Kampung? Atau predikat gadis lapuk yang tak laku-laku sebagaimana syair sebuah grup band yang pernah didengarnya?
Perempuan itu pun menerima keputusan sang ayah dan ibunya ketika meminta dia tidak bekerja. Ketika menikah dengan sang dokter. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter ini meminta ayah dan ibu Laila untuk membujuknya tidak bekerja ketika mereka menikah.
“Saya mohon dengan hormat kepada Bapak dan Ibu untuk menyampaikan kepada Dik Laila untuk tidak bekerja saat kami menikah,” pinta sang suami kepada ayahnya.
“Insha Allah akan kami sampaikan Nak Dokter,” janji ayahnya.
Laila sama sekali tak menyangka bahwa ayah dan ibunya justru ikut-ikutan melarangnya untuk bekerja sebagai tenaga honorer di kecamatan saat menikah nanti. Alasannya sebagai perempaun harus mengurus suami dan anak di rumah.
“Lagipula apa kekurangan suamimu itu dalam keuangan?” tanya ayahnya saat Laila ngotot untuk bekerja.
“Dia itu dokter Nak. Kalau hanya untuk kalian berdua sudah sangat cukup dan cukup,” lanjut sang ayah.
“Ayah harus mengerti, Laila sangat mencintai pekerjaan itu. Walaupun masih honorer dan bergaji kecil tapi pekerjaan itu banyak membantu masyarakat kampung kita, Ayah,” pintanya.
“Suamimu menginginkan ananda tidak bekerja lagi usai kalian menikah. Dia cemburu. khawatir kamu lebih mencintai pekerjaan daripada dirinya,” lanjut sang ayah.
“Dasar lelaki kurang kerjaan,” jawab laila sembari meninggalkan ayah dan ibunya yang masih terbengong di ruang tamu mereka.
Laila sangat meradang bahkan teramat meradang. Namun ditekanya kuat-kuat dengan ucapan istigfar. Melembutkan kembali raganya. Basuhan air wudhu membuat raganya jernih sejernih air wudhu yang baru saja mengaliri seluruh badannya. Dari ujung rambut hingga ujung kepala.
Laila kini amat mengerti bahwa sebagai orang tua, ayah dan ibunya tak ingin masa depan dirinya sebagai anak tak jelas dan susah. Sudah banyak contoh di kampung mereka karena perkawinan tanpa landasan ekonomi yang rapuh. Ekonomi tampaknya tak dapat dilepaskan dari alur kehidupan berumah tangga dan perkawinanan. Bagaimana mau makan kalau tak ada beras. Demikian pula bagaimana mau menyekolahkan anak kalau tak ada duit untuk membeli baju seragam dan buku.
Laila tak setuju dengan cara pandang ayah dan ibunya yang memperlakukan dirinya sebagai wanita harus mengurus rumah tangga semata. Itu yang ingin diluruskannya sehingga ayah dan ibunya paham perspektif ke depan tentang peran perempuan. Bukankah ayah dan ibunya sering mendengar siaran tipi tentang kiprah perempuan dalam kancah perpolitikan bangsa ini? Bukankah ayahnya sering membaca koran yang dibawanya dari Kantor Kecamatan setiap sore?
Usai menikah, Laila memang memusatkan hidup dan pikirannya kepada pekerjaan rumah tangganya. Dia ingin mengabdi sebagai istri walaupun dengan hati mati dan jiwa yang teraniaya. Dari mulai mencuci, menyeterika, memasak hingga mengepel dilakukannya sendiri.
Setiap pagi sebelum suaminya ke Puskesmas, sudah tersedia kopi plus makanan kecil seperti pisang goreng di atas meja. Suaminya tampak menikmati sereput kopi dengan nikmat. Jiwanya amat bahagia. Tergambar dari cara dia menikmati kopi itu. Sementara Laila hanya terdiam menyaksikan seruputan kopi bikinannya dinikmati sang suami dengan sebuah kenikmatan yang luarbiasa.
Diluar rumah, cahaya mentari mulai menerangi bumi. Seterang jiwa suaminya yang mulai melangkah menuju mobil dinasnya dengan siulan yang menggambarkan kebahagian batinnya sebagai seorang lelaki dan seorang suami. Dan sebuah kecupan dia lontarkan di kening Laila. Setiap hari tanpa jemu. Mesin mobil dinas sang suami menderu sebagai tanda sudah bergerak meninggalkan halaman rumahnya, sebagiamana dirinya mulai bergerak menyusuri kamar, dapur hingga halaman belakang rumah untuk bekerja dan mengabdikan diri sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. (**)

No Response

Leave a reply "Kodrat yang Teraniaya"