Cerpen

Kisah Enam Kisah

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

Kisah 1 : Lompatan Pertama
Jika sinar matahari pagi jatuh dengan kemiringan 34°, maka berapakah panjang bayangan tubuh seseorang? Berapa lebih panjang bayangan itu daripada tubuh yang menjadi sumbernya?

Sudah lama ia tergoda oleh pertanyaan yang mirip soal matematika ini. Sebab, setiap kali melintasi alun-alun kota pada pagi hari, sembari sesekali menoleh ke kiri, ia menyaksikan bayangannya seperti ditarik sehingga tampak rusak anatominya. Lebih kurus, tipis, sedikit melengkung.

Bayangannya merunduk sebagaimana ia merunduk—demi mencermati setiap jengkal tanah untuk menemukan, misalnya, sisa makanan atau puntung yang ditinggalkan mereka yang begadang tadi malam, tetapi kemerundukannya itu bukanlah kemerundukan ia yang tengah dirundung masalah. Rundukan itu terkesan tidak peduli kepada semua hal.

“Tak risau barang sedikit,” ia menggerutu. Maka setelah bosan menduga-duga, ia berhenti. Dalam kemiringan sinar matahari yang kini 45° ia merasakan panas membakar punggungnya. Ia menilik panjang bayangannya. Hampir dua kali, ia mengira. Ia bertolak pinggang, si bayangan juga. Ia meludahi kepala bayangannya, tetapi yang bersangkutan hanya diam. Lagi, tetap diam. Tetapi, sesaat kemudian ia menyaksikan bayangannya mulai bergerak.

Demikianlah, pembaca yang budiman, dari hamparan rerumputan tempatnya berbaring, karena tengah asyik mandi sinar matahari, si bayangan menyaksikan lelaki ringkih itu menggigil dan memegangi perutnya. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya sebagai bayangan ia mesti melompat sebab, jika tidak, ia akan tertimpa oleh tubuh di depannya itu.

Kisah 2 : Jam Tangan dan Astronot
Sudah lama ia ingin menulis sebuah cerita yang tokoh utamanya menghadapi kesulitan luar biasa dan menyebabkan kehancuran si tokoh di akhir cerita. Maka ia menaruh sebuah jam tangan di sebuah planet. Ketika cerita bermula si jam tangan sudah mengeluh, apalah gunanya waktu di sebuah planet jika mesti ditandai dengan peranti yang biasa digunakan manusia di bumi. Bukankah penampakan di planet itu sama saja dari waktu ke waktu, bergerak antara terang dan gelap. Seluruh perangkat mahakecil dalam dirinya pun mogok. Jika tidak bisa menandai waktu, keluh si jam tangan lagi, apalah makna sebuah jam tangan semacam dirinya, baik di bumi, di planet ini, maupun di planet lain di jagat raya mahaluas ini.

Pages: 1 2 3 4

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

ads






To Top