Kiat Interaksi Orang Tua dan Anak dalam Menghadapi Dampak Teknologi Internet

  • Whatsapp

Oleh: Novia Nur Hermawati

Muat Lebih

Mahasiswi Universita Bangka Belitung

Sejak mulai dikenalnya internet pada tahun 1989, mulai banyak hal dilakukan melalui internet. Pada tahun 1990-an John Romkey menciptakan perangkat pemanggang roti yang bisa dinyalakan dan dimatikan menggunakan internet, serta sampai abad ini manusia sangat berpegang pada internet dan mampu mendominasi setiap pekerjaan manusia.

Internet menjadi kebutuhan pokok manusia yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa berdampak negatif maupun  positif,  tergantung manusia itu sendiri bagaimana cara dia memanfaatkan internet untuk menunjang kebutuhannya dalam segi menggunakannya. Ketika kita lihat realita saat ini, internet sudah digunakan dari semua kalangan baik dari pelajar atau anak-anak maupun orang dewasa. Apabila kita melihat secara umum di Indonesia, perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat juga telah dirasakan akibat masuknya pengaruh internet. Teknologi ini dapat di akses oleh berbagai kalangan masyarakat. Remaja sebagai salah satu pengguna fasilitas internet belum mampu mengelola aktivitas internet yang bermanfaat, mereka cenderung  mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu efek positif atau negatif yang akan diterima pada saat melakukan aktivitas internet.

Sebuah Studi dari Ahmedabad, india pada tahun 2016 menunjukan bahwa 11,8% siswa memiliki kecanduan internet, hal ini diprediksi dari waktu yang telah dihabiskan untuk melakukan kegiatan Online, penggunakan situs berjejaring sosial atau chat room dan juga karena ada kecemasan dan stress. Di Indonesia penggunaan internet terbesar adalah remaja dengan rentang usia 15-24 tahun dengan kisaran tentang presentase 26,7% – 30%, kemudian akses internet tidak selamanya berdampak positif, hampir 80% remaja berusia 10-19 tahun yang terbesar di 11 provinsi di Indonesia kecanduan internet, dan sebagian besar remaja menggunakan internet untuk hal-hal yang tidak semestinya. 24% mengaku menggunakan internet untuk berinteraksi dengan orang-orang yang tidak dikenal, 14% mengakses konten pornografi dan sisanya untuk game online dan kepentingan lainnya.

Dalam pencarian google di Indonesia dengan memasukkan kata kunci “internet remaja” ditemukan sekitar 522.000 hasil dan sebagai besar merupakan berita bernada negatif seperti bahaya internet yang dapat berupa pornografi, peretasan, penyadapan, transaksi narkoba terorisme, penipuan dan lain sebagainya. Dan dalam penggunaannya teknologi ini bersifat bebas, semua orang bisa mengakses internet, tetapi hal ini akan menjadi suatu masalah besar  bagi dia sendiri maupun lingkungannya.

Apabila seorang anak remaja yang mengakses internet tanpa adanya pendidikan atau berbentuk sosialisasi yang berkaitan dengan penggunaan internet secara langsung kepada anak-anak remaja. Pelajar yang belum mengetahui cara memanfaatkannya itu akan menjadi problem (masalah) apabila anak tersebut mengakses internet dan membuka hal-hal yang kurang baik di dalam tersebut, seperti pornografi, kekerasan, radikalisme penyebaran berita Hoaxs, dan lain sebagainya. Itu akan berdampak besar pada psikologi anak tersebut berdampak pada kehidupan sosialnya di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat, dan kita lihat saat ini sudah memasuki industri 4.0 dalam artian persaingan semakin ketat dan perkembangan teknologi semakin maju bahkan semakin meluas.

Apabila anak-anak muda, pelajar masih memanfaatkan internet secara salah, dan pendidikan internet kurang, terutama pendidikan dari rumah, orang tua  serta lingkungan sekolahnya kurang mendukung, dan apabila kita bersaing dengan negara-negara maju yang sudah memanfaatkan internetnya dengan baik, maka kita akan tertinggal dan belum bisa bersaing dengan mereka. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Untuk merubah itu, tentunya kita harus memulai dari pendidikan di rumah yaitu orang tua,  agar bisa mengontrol anak-anak nya dalam menggunakan internet.

Interaksi dan komunikasi orang tua terhadap anak serta bagaimana orang tua memperlakukan anaknya, melakukan pendekatan, memberikan pengaruh kepada anaknya dalam mengambil sikap, apabila dilakukan dengan cara terus menerus akan membentuk karakter pada diri si anak tersebut. Demikian halnya dengan remaja yang menggunakan  teknologi internet, sikap orang tua yang memberikan contoh kepada remaja tersebut akan berdampak dan mempengaruhi karakternya, yang bisa menyaring informasi dalam  menggunakan teknologi internet, sehingga remaja tidak terjerumus ke dalam hal yang bernuansa negatif.

Interaksi orang tua terhadap anak sangatlah penting untuk mengontrol mereka dalam memanfaatkan internet, tetapi hal ini jarang dilakukan di lingkungan keluarga seperti yang kita lihat saat ini, banyak dari kalangan remaja yang lebih banyak menggunakan waktunya dengan menggunakan internet ketimbang mereka menggunakan waktunya bersama keluarga mereka terutama orang tua. Media lebih banyak mengarah dan menurunkan moral serta karakter mereka  dengan hal-hal yang negatif yang selalu mereka akses seperti yang telah disampaikan di atas, yakni kekerasan, pornografi. Dengan permasalahan yang telah terjadi saat ini, keluarga diharapkan menjadi pendidikan pertama yang bisa mengontrol remaja ke dalam hal-hal seperti itu, terutama memberikan pendidikan moral oleh orang tua,  karena keluarga harus cerdas dalam berinteraksi dengan media.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan keluarga dalam melakukan antisipasi menggunakan internet berlebihan, yaitu harus sering melakukan interaksi secara terbuka antar anggota keluarga. Upaya orang tua membantu anak dalam berinteraksi dengan teknologi yaitu dengan cara mengawasi mereka secara terus menerus dan selalu berkomunikasi langsung.

Berkenaan dengan masalah ini, ada beberapa kiat bagaimana interaksi orang tua  dan anak dalam menghadapi dampak teknologi internet. Pertama, orang tua sebagai sumber informasi utama sebaiknya memposisikan sebagai orang pertama yang bisa mendengar permasalahan yang dihadapi oleh anak tersebut, apalagi seorang anak sudah memasuki waktu puber berarti mereka sudah melewati masa anak-anak, mereka sudah masuk di gerbang kedewasaan, orang tua harus mempersiapkan diri dengan informasi dan masalah-masalah yang akan dihadapi oleh anak, terutama masalah puber, dengan cara menceritakan pengalaman dan pendidikan tentang masalah puber tersebut.

Orang tua jangan membatasi anak untuk bertanya tentang masalah pribadinya kepada orang tua, lakukan dengan cara terbuka agar proses interaksi berjalan dengan baik, dan jangan sungkan-sungkan untuk menjawab pertanyaan anak, karena mereka masih belum mengetahui dan masih labil butuh petunjuk dan pengetahuan terkait dengan permasalahan tersebut, apalagi masalah pornografi dan seks bebas. Orang tua menjelaskan kepada anak pentingnya menghargai dan menjaga kehormatan dirinya, tentunya kenakalan remaja tidak akan pernah terjadi apabila orang tua menjelaskan permasalahan tersebut, dan memberikan informasi tersebut dengan baik dan tepat dengan berbekal panduan yang logis. Maka permasalahan tentang kenakalan remaja dan memanfaatkan internet dengan salah akan terhindarkan. Mendapat penjelasan dari orang terpercaya yaitu orang tua lebih baik dari pada teman-teman sebayanya  atau informasi bebas dari internet.

Kedua, pendidikan nilai agama dan moral sangat diperlukan dan sangat penting bagi anak-anak remaja, karena pendidikan agama yang kuat akan mengarahkan anak dalam hal-hal kebaikan. Anak akan  menahan diri untuk tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik. Apabila dasar-dasar agama kuat, maka moral sang anak akan kuat, dan dalam menggunakan internet mereka akan mencari konten-konten positif yang bisa menambah pengetahuan mereka. Ketiga komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak dalam perkembangan teknologi semakin pesat, maka kekhawatiran orang tua kepada sang anak akan semakin meningkat terhadap bagaimana sang anak dalam menggunakan internet dengan baik. Untuk mencegah hal tersebut perlunya interaksi yang masif antara anak dan orang tua, orang tua harus lebih mengetahui permasalahan yang dihadapi sang anak, misalkan masalah pribadi sang anak dalam kehidupan sosial sang anak baik di lingkungan masyarakat  maupun lingkungan sekolah.  

Keempat, anak harus selalu menghormati orang tua. Orang tua harus memberikan sikap dengan tegas hak dan kewajiban anak untuk membantu orang tua tidaklah berubah, jangan biarkan anak berbuat dan berkata kasar kepada orang tua, walaupun pada masa dan umur tersebut emosi tidak lah stabil, perlu dan pentingnya kesabaran orang tua dalam menanggapi hal tersebut. Kelima memberikan pilihan dan dukungan pada anak ketika seorang sudah beranjak dewasa, ajak mereka berkomunikasi secara terbuka, karena remaja lebih senang bermain dengan teman –temannya di luar daripada di rumah, dan selalu memainkan telpon genggamnya secara sendiri. Dan lebih parahnya lagi mereka lebih menyendiri di kamar, ini akan berdampak buruk ketika orang tua tidak mempedulikan permasalahan si anak.

Dalam proses interaksi dengan anak harus adanya keterbukaan agar anak tidak sungkan menceritakan permasalahannya, karena pada masa puber banyak masalah yang di alami si anak terutama masalah percintaan, dan orang tua jangan mendekte atau mengatur anak. Keenam  memberikan anak privasi dan keluasaan pribadi. Ada beberapa orang tua lebih protektif, mereka lebih mengikuti privasi anak tersebut misalkan adanya penyadapan terhadap alat komunikasi sang anak, mendengar anaknya bertelepon. Memang sang anak perlu dibatasi untuk mencegah hal-hal yang buruk, tetapi harus ingat orang tua memang sudah dewasa, tetapi sang anak sudah memasuki masa pubernya berarti sudah masuk di gerbang kedewasaan, dan orang tua harus memberikan hak kebebasan kepada sang anak tersebut, sehingga mereka bisa menentukan tujuan hidupnya atau jati diri mereka.

Ketujuh,  membangun komunikasi yang baik dengan anak.  Seseorang membutuhkan figur dalam kehidupannya untuk memotivasi mereka atau sebagai contoh dalam kehidupan mereka. Hal ini perlu dan penting kepada orang tua. Dalam proses komunikasi tidak boleh satu arah, dalam artian orang tua hanya menyampaikan saja kepada anak, perlunya komunikasi dua arah agar ada timbal balik antara anak dan orang tua ini menjadi sangat penting untuk anak dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupannya, dengan begitu mereka bisa mengungkapkan ekspresinya kepada orang tua.

Dari permasalahan yang dipaparkan di atas, pentingnya komunikasi yang baik dari orang tua kepada anak agar mencegah dampak buruk dari pergaulan sang anak, baik dalam penggunaan media sosial internet maupun kehidupan sehari-harinya yang semakin berkembang dan lebih maju. Anak tidak akan pernah lepas dari internet, karena sekarang, itu sebuah kebutuhan. Tetapi perlunya peran orang tua dalam mengontrol sang anak supaya anak dapat memanfaatkan internet dengan bijak. (***)

Pos terkait