Khalifah Pertama, Abu Bakar As-Shiddiq r.a.

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi (Syabab Hizb)

Abu Bakar ra. adalah orang yang selalu membenarkan perkataan Nabi Muhmammad SAW sehingga mendapat gelar as-Shiddiq. Beliau adalah sahabat yang langsung beriman ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa beliau ditunjuk sebagai seorang Rasul Allah SWT sebagaimana hadits di atas. Abu Bakar Assiddiq ra merupakan salah seorang sahabat terbaik Rasulullah Muhmmad SAW. Beliau menjadi penerus pertama estafet kepemimpinan umat Islam setelah Rasulullah SAW. Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam melainkan dia tidak langsung menjawab, masih pikir-pikir, dan masih ragu-ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. Tatkala aku berbicara dengannya, dia tidak menunda-nunda (pembenarannya) dan dia tidak ragu-ragu.”.
Beliau pengganti Rasul SAW dalam mengimami kaum muslimin dalam shalat. Dan beliau juga menjadi pengganti Rasulullah SAW dalam kepemimpinan pemerintahan dan negara untuk umat Islam yang dalam tradisi Islam Nusantara nama beliau selalu disebutkan dalam wirid shalat tarawih ramadhan dengan sebutan Khalifah Pertama Abu Bakar As Shiddiq r.a.
Kepribadian Abu Bakar as-Shiddiq ra
Abu Bakar as-Shiddiq r.a. dengan nama asli Abdullah dan biasa dipanggil Atiq (sang tampan) adalah putra Abu Quhafah (Sirah Nabawiyah Juz I/249-250). Beliau adalah seorang sahabat yang ketika masuk Islam langsung menunjukkan sikapnya sebagai seorang muslim tanpa ditutup-tutupi. Beliau selalu menyerukan kepada penduduk Makkah untuk masuk Islam yakni beriman kepada Allah SWT dan kerasulan Baginda Muhammad SAW.
Di antara para sahabat masuk Islam melalui lisan-lisan beliau adalah Utsman bin Affan r.a. yang menjadi Khalifah ketiga pengganti estafet kepemimpinan setelah Umar ibn al-Khaththab ra; Zubair bin Awwam r.a., sang penghunus pedang pertama dijalan Allah SWT; Abdurrahman bin Auf r.a. sahabat yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam berdagang dan juga menjadi ketua pemilihan khalifah setelah Umar ibn al-Khaththab ra; Saad bin Abi Waqash r.a. sang pemilik doa yang mustajab; dan Thalhah bin Ubaidillah r.a. sang syuhada yang berjalan di atas bumi. Orang-orang Quraisy yang didakwahi Abu Bakar as-Shiddiq ra banyak menjadi sahabat-sahabat terbaik Rasulullah SAW.
Abu Bakar as-Shiddiq ra juga pernah berkhutbah dihadapan pemuka-pemuka Quraisy mendakwahkan Islam hingga beliau dipukul sampai pingsan. Yang menakjubkan dari peristiwa tersebut adalah ketika beliau siuman malah beliau langsung menanyakan keadaan kekasih Allah SWT Rasulullah SAW. beliau tak peduli dengan keadaannya yang babak belur, malah beliau menanyakan keadaan orang lain yang ia cintai.
Khalifah Pertama
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, kaum muslimin riuh dan ribut terkait pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW. Kaum Anshar dan Muhajirin khawatir terhadap keadaan kaum muslimin bila tanpa pemimpin yang akan terpecah belah. Namun sosok Abu Bakar as-Shiddiq ra bisa menenangkan kaum muslimin ketika itu.
Dan kemudian Abu Bakar as-Shiddiq r.a. dipilih secara aklamasi di antara perdebatan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah tersebut sebagai pengganti Rasulullah SAW dan dibaiat sebagai Khalifah pertama kaum muslimin. Walau menjadi orang nomor satu di jazirah arab ketika itu, namun beliau tidak pernah merasa dirinya maksum. Beliau selalu memposisikan dirinya sebagai manusia biasa yang juga tunduk terhadap syariat Allah SWT. Lihatlah khutbah pertama beliau dihadapan ahlu hali wal ‘aqdi sesaat setelah di baiat in’iqad,
“Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari kalian. Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolonglah dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka tegurlah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (lihat Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam).
Sebagai seorang Khalifah, beliau selalu menyerukan umat untuk mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya dengan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. beliau tidak segan-segan memerangi orang-orang murtad dan membangkang dalam membayar zakat. Ketika Rasulullah SAW wafat muncul kelompok nabi Palsu, orang-orang murtad dan pembangkang dalam membayar zakat, maka seketika itu sang Khaifah mengumandangkan perang. Beliau berpegang teguh pada sabda Nabi SAW berikut,
“Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan pemerintahan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut (bersahabat) kepada mereka, maka lembutlah kepadanya”. (HR. Muslim).
Beliau pernah berkhutbah dihadapan kaum muslimin untuk menyemangati kaum muslimin dalam memerangi kelompok nabi Palsu, orang-orang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat,
“Wahai kaum muslimin, ketahuilah ketika Allah mengutus Muhammad, kebenaran itu (Al Islam) selalu diremehkan orang dan Islam dimusuhi sehingga banyak orang yang enggan masuk Islam karena takut disiksa. Namun Allah kemudian menolongnya sehingga seluruh bangsa Arab dapat disatukan di bawah naungannya. Demi Allah, aku akan tegakkan agama ini dan aku akan berjuang fi sabilillah sampai Allah memberikan kemenangan atau Allah akan memberikan surga bagi orang yang terbunuh di jalan Allah dan akan memberi kejayaan bagi orang yang mendapatkan kemenangan sehingga dia akan dapat menjadi hamba yang berbakti dengan aman sentausa. Demi Allah, jika mereka tidak mau membayar zakat, walaupun hanya seutas tali, pasti akan aku perangi walaupun jumlah mereka banyak sampai aku terbunuh, karena Allah tidak memisahkan kewajiban zakat dari kewajiban sholat” (lihat Al Kandahlawy, Hayatus Shahabat, juga Kanzul Ummal).
Khatimah
Tentu tulisan ini tidak menggambarkan sosok Abu Bakar as-Shiddiq sang Khalifah pertama kaum muslimin secara sempurna. Gambaran ini diharapkan bisa menjadikan dirinya tauladan bagi kaum muslimin sebagaimana beliau meneladani Rasulullah SAW. Beliaulah yang selalu mendampingi Rasulullah SAW dalam setiap perjalanan dakwahnya.
Beliau merupakan pemimpin yang dikenal tegas dibalik kelembutannya. Beliau menempatkan hukum syariah di atas hawa nafsu manusia dan kepentingan pribadi dan kelompok. Semoga kita bisa kembali di pimpin sosok-sosok yang memimpin dengan metode kenabian sebagaimana yang telah dijanjikan.
“…Tsummaa takuunu khilaafatan ‘ala minhaj annubuwwah…” (HR. Ahmad).
Wallahu a’lam.[] MZiS

Related posts