Ketika Excellence Saja Tidak Cukup

  • Whatsapp

Oleh: Muslim El Hakim Kurniawan
PNS Pemprov. Bangka Belitung/Mahasiswa Program Doctor of Science in Management – ITB

Kata excellence seringkali kita dengar pada istilah-istilah terkait daya saing baik di Pemerintahan maupun di dunia Bisnis seperti service excellence atau pelayanan prima, yang dipelajari oleh Pegawai Negeri Sipil mulai dari pra jabatan hingga ke Diklat Kepemimpinan, dsb. Dalam dunia bisnis-pun sejak berpuluh tahun yang lalu, Tom Peters dikenal sebagai salah satu Management Guru’s menulis buku berjudul in search of excellence sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dan menjadi panduan bagi bisnis-man ataupun CEO yang ingin perusahaan mereka sukses. Bila kita tinjau dari arti kata, beberapa kamus mengartikan excellence sebagai mutu yang baik sekali, luar biasa, ataupun keunggulan. Bahkan karena di dunia ini, tidak ada yang sempurna (perfectionism), maka excellence seringkali menjadi penilaian atau capaian yang paling tinggi dalam berbagai pemeringkatan baik di dunia pendidikan, bisnis, pelayanan, pemerintahan, dsb, yang biasanya dimulai dari Bad (jelek), Average(rata-rata), Good (Baik) dan Excellence (Baik sekali).
Jadi, pada dasarnya mutu yang baik dan luar biasa serta keunggulan tersebut, adalah hal yang ingin dicapai baik oleh Pemerintah dan dunia bisnis ataupun pribadi dan organisasi, agar dapat memenangkan kompetisi. Untuk mencapai tingkatan excellence, banyak sekali upaya yang dilakukan, mulai dari peningkatan kualitas, kapasitas kapabilitas, mengikuti dan mengaplikasikan sertifikasi internasional, menciptakan budaya kerja disiplin dan produktif, menggunakan bahan dan teknologi terpilih, mengutamakan kepuasan stakeholders dan lain sebagainya. Hal ini, dilakukan baik oleh organisasi maupun individu dengan analoginya masing-masing.
Namun, excellence saja ternyata tidak cukup. Pemberitaan akhir-akhir ini membuat kita terpikir tentang hal tersebut. Yang sedang hangat tentunya ketika mantan petinggi salah satu maskapai menjadi tersangka oleh KPK setelah diduga menerima “suap” dari perusahaan terkemuka yang tentu saja excellence atau sangat baik di segala lini, dan memiliki daya saing tinggi. Pemberitaan terakhir yang dirilis berbagai media menunjukkan bahwa perusahaan tersebut diduga telah mengeluarkan 830 juta US dollar untuk memenangkan berbagai kontrak international. Pemberitaan lainnya yang tidak kalah heboh adalah seorang Bupati yang tertangkap tangan oleh KPK karena suap jabatan. Meskipun daerah tersebut sarat akan penghargaan yang menunjukkan kinerja excellence dari aparatur pemerintahnya, ternyata untuk menduduki sebuah jabatan, excellence saja tidak cukup. Sekali lagi, mutu produk yang sangat baik dan kualitas SDM sangat baik ternyata tidak cukup untuk memenangkan persaingan. Penulis kira kita semua sepakat bahwa hal ini sudah menjadi rahasia umum yang melingkupi hampir seluruh lini kehidupan. Pertanyaan selanjutnya yang mengemuka adalah apakah penyuapan atau dalam istilah internasional disebut bribery merupakan faktor laten untuk mencapai atau memenangkan persaingan tersebut? Mungkin mayoritas kita akan berkata Iya, karena membangun keunggulan kompetitif adalah sebuah fenomena yang komplek, apalagi di era yang sangat dinamis seperti sekarang. Sehingga strategi mengoptimalkan sumberdaya internal dan membangun positioning yang baik di eksternal organisasi, dirasa kurang berkesinambungan untuk menang berkompetisi. Excellence itu penting, tapi tidaklah cukup.
Masih ingat beberapa dekade yang lalu pada awal 90-an, Tanri Abeng, sang Manajer 1 Miliar yang fenomenal “diambil” oleh Grup Bakri dari sebuah perusahaan minuman. Perlu kita ingat bahwa uang 1 miliar pada masa tersebut sangatlah tinggi, mungkin sebagai komparasi gaji pegawai negeri sarjana kala itu berkisar dibawah lima ratus ribu rupiah. Beliau diganjar bayaran tersebut karena beliau adalah seorang CEO yang excellence, karena terbukti dapat mendongkrak laba perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya berkali lipat. Walhasil perusahaan Grup Bakrie pun mencatat kenaikan penjualan hingga 14 kali lipat, dan kemudian Pak Tanri Abeng dipercaya untuk menjadi Menteri oleh Presiden Soeharto kala itu. Cerita ini, menggambarkan bahwa bila pimpinan perusahaan ingin memiliki perusahaan yang excellence, ataupun Kepala Daerah baik Bupati, Walikota maupun Gubernur memiliki keinginan agar daerah yang dipimpinnya excellence, maka Penulis rasa mereka akan rela “berkorban” dan berani “membayar mahal” untuk mendapatkan dan mengangkat pemimpin organisasi yang excellence pula, bukan malah sebaliknya, seperti cerita tangkap tangan di atas, sang pejabat yang membayar Kepala Daerahnya untuk jabatan tertentu. Namun, fenomena saat ini, memperlihatkan bahwa ketika tingkat persaingan sangat tinggi, ketika kualitas hampir sama baiknya, maka yang dilakukan oleh individu ataupun perusahaan untuk memenangkan kompetisi adalah dengan menawarkan banyak bonus ataupun hadiah langsung bagi para “penggunanya” untuk menarik perhatian mereka. Namun, sering kali pelanggan tertipu oleh bonus tersebut sehingga menomorduakan kualitas.
Sebagai penutup, dari apa yang iuraikan di atas, dapat kita sarikan bahwa excellence bukanlah kesempurnaan, namun terukur serta dapat dicapai. Excellence bukanlah hal yang berada diluar jangkauan ataupun kemampuan walaupun seringkali berada diluar imajinasi rata-rata manusia. Hal ini, akan dapat tercapai bukan dari kemampuan yang sangat baik (good ability), tapi berawal dari keinginan yang sangat baik (good willing) terlebih dahulu. Bahkan dalam agama niat baik saja sudah dicatat menjadi pahala meskipun belum dieksekusi. Jelas sekali bahwa bribery bukan faktor laten, namun merupakan bahaya laten dalam memenangkan kompetisi. Seorang pemimpin yang baik selalu berupaya agar organisasi yang dipimpinnya tidak hanya “untung” saat ini saja, namun terus berpikir dan bertindak agar organisasi tersebut dapat terus bertahan dan berkesinambungan di masa depan. Semoga dapat menjadi renungan kita semua.(****).

Related posts