Kesiapan Sekolah Melaksanakan Pembelajaran di Era New Normal

  • Whatsapp
Yudi Sapriyanto, S.Pd
Kepala SMA Negeri 1 Simpang Rimba, Bangka Selatan, Babel

Pandemi Covid-19 telah berdampak secara luas pada semua lini kehidupan masyarakat. Kekhawatiran akan menularkan dan tertularkan virus corona serta terjadi penyebaran yang begitu cepat, bahkan mudahnya melalui media perantara membuat terjadinya perubahan perilaku hingga pola baru kehidupan masyarakat.

Mengembalikan produktivitas masyarakat setelah kurang lebih dua bulan stay at home menjadi hal yang sangat penting. Setelah sekian lama beraktivitas bekerja dari rumah (Work for Home-WFH) dan belajar dari rumah (BDR) dilakukan, tentu saja berdampak besar terhadap kondisi perekonomian baik secara mikro maupun makro ekonomi. Berkurangnya pendapatan masyarakat dan pendapatan nasional tentu akan berdampak kepada bidang lain, seperti pendidikan, sosial, budaya dan keamanan nasional.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah kondisi baru untuk mengembalikan semua aktivitas agar dapat berjalan normal. New Normal yang dicetuskan Presiden Jokowi setelah Ia menyampaikan “berdamai” dengan corona. Menindaklanjuti hal ini, kemudian Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian telah menerbitkan pedoman tatanan normal baru atau new normal. Protokol itu mengatur kegiatan Aparatur Sipil Negara (ASN), pusat keramaian hingga ojek online, agar dapat kembali produktif, namun tetap aman dari Covid-19.

Pedoman tersebut, tertuang dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri  Nomor 440-830 Tahun 2020 di teken tanggal 27 Mei 2020, yang kemudian direvisi selang tiga hari menjadi Kepmendagri Nomor 440-842 Tahun 2020 dengan judul sama, yakni Pedoman Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Namun protokol kesehatan yang dilakukan oleh pemda termasuk layanan pendidikan di sekolah hilang dari sejumlah pedoman new normal dari Mendagri.

Baca Lainnya

Walau demikian, setidaknya sekolah dapat mempedomani Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan yang dikeluarkan tanggal 9 Maret 2020. Berdasarkan tingkat risiko penyebaran virus Covid-19, satuan pendidikan dapat diklasifikasikan ke dalam kategori rendah, sedang dan tinggi. Pada kategori sekolah yang berada pada level tinggi, yaitu ada anggota masyarakat terkonfirmasi terjangkit dilingkungannya melakukan pencegahan dengan cara yang lebih kompleks dan lebih sigap dibandingkan pada level sedang dan rendah. Satuan pendidikan dapat melakukan pencegahan berdasarkan pada level tersebut.

Disamping itu, dalam hal memenuhi hak peserta didik dalam belajar untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat penyebaran Covid-19, Setjen Kementerian Pendidikan menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah (BDR) dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 pada tanggal 18 Mei 2020.

Dalam pedoman tersebut satuan pendidikan dapat melakukan Langkah-langkah pelaksanaan BDR sebagai berikut: a) Menetapkan model pengelolaan satuan pendidikan selama BDR; b) Memastikan sistem pembelajaran yang terjangkau bagi semua peserta didik termasuk peserta didik penyandang disabilitas; c) Membuat rencana keberlanjutan pembelajaran; d) Melakukan pembinaan dan pemantauan kepada guru melalui laporan pembelajaran yang dikumpulkan setiap minggu; e) Memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki guru dalam memfasilitasi pembelajaran jarak jauh baik secara daring maupun luring selama darurat COVID-19; f) Membuat pengasuhan untuk mendukung orang tua/wali dalam mendampingi peserta didik belajar, minimal satu kali dalam satu minggu; g) Membentuk tim siaga darurat untuk penanganan COVID-19 di satuan pendidikan, memberikan pembekalan mengenai tugas dan tanggung-jawab kepada tim; h) Memberikan laporan secara berkala kepada dinas pendidikan dan/atau pos pendidikan daerah terkait.

Dalam konteks pemberlakuan sekolah piloting untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada masa pandemi dan transisi pemberlakuan tatanan normal baru yang sempat berjalan satu hari di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kemudian dihentikan kembali oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, setidaknya memberikan beberapa pelajaran, diantaranya untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar diperlukan persiapan suatu kondisi pengetahuan, pemahaman dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di tengah masa pandemi di sekolah dan kesadaran yang berangkat dari kegalauan dan keresahan menurut Dr. Bustami Rahman selaku Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, agar memiliki keyakinan iman, peningkatan imun, kesiapan ilmu dan ekonomi. Tak kalah pentingnya peningkatan imun warga sekolah, juga meningkatkan usaha kesehatan di sekolah, seperti rapid test warga sekolah, sosialisasi kesehatan terus menerus dan audit sarpras kesehatan yang ada di sekolah oleh puskesmas ataupun dinas kesehatan terkait.

Pemberlakuan pembelajaran pada tatanan New Normal yang berarti peserta didik belajar dan guru mengajar di sekolah, selain berarti penerapan surat edaran Setjen Kemendikbud No. 15 Tahun 2020 di sekolah, dan di dukung usaha kesehatan maksimal di sekolah setidaknya diperlukan peran komunikasi sosial. Keberadaan komunikasi yang efektif antara berbagai stakeholder pendidikan di sekolah diharapkan mampu untuk mendukung pembelajaran peserta didik di sekolah. Keberadaan media sosial tak kalah penting dalam menjaga kebersamaan dalam pendidikan. Edukasi peserta didik, guru, orang tua/wali peserta didik dan komite sekolah menjadi hal yang penting untuk diutamakan.

Pandemi Covid-19 ini, setidaknya membelajarkan kita semua bahwa lingkungan terus berubah. Kesiapan kita untuk memulai kembali pembelajaran di sekolah di era Covid-19, membutuhkan suasana kebersamaan dan kekompakan yang dibangun atas dasar kepentingan yang sama, menjadikan pendidikan sebagai satu-satunya jalan untuk menjadikan diri, keluarga dan masyarakat menjadi baik dan maju.(***).

Related posts