by

Kesenjangan Pendidikan Pemuda di Indonesia

-Opini-183 views

Oleh: Jimmy Saputra Sebayang
Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik Pangkalpinang

Masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas para pemuda-nya, yang salah satunya diukur dari segi pendidikan. Pendidikan bagi para pemuda menjadi modal penting bagi suatu bangsa agar dapat bersaing dan tidak tertinggal dengan kemajuan bangsa-bangsa lain. Merekalah yang nantinya akan menjalankan dan membawa kemana arah suatu bangsa di masa yang akan datang. Bahkan saat ini, para pemuda memiiki kontribusi yang sangat besar dan menjadi prioner terdepan dalam kemajuan global yang berkembang sangat pesat belakangan ini.
Oleh karena itu, tidak hanya peningkatan kualitas pendidikan, jaminan pendidikan yang mendukung kesempatan belajar yang sama bagi semua golongan pemuda yang ada di seluruh wilayah negara Indonesia juga harus dapat dipastikan. Karena pada kenyataannya, kesenjangan pendidikan masih sangat jelas terjadi. Kesenjangan tersebut dapat terjadi antara mereka yang miskin dan yang kaya, mereka yang tinggal di perkotaan dan perdesaan maupun kesenjangan antara mereka yang berada pada wilayah barat dan wilayah timur. Permasalahan kesenjangan (disparitas) tersebut rasanya sudah bukan menjadi sesuatu yang baru lagi. Mengakar dan rasanya tidak mudah untuk dicabut.
Untuk melihat seberapa besar disparitas pendidikan yang terjadi di kalangan para pemuda Indonesia, ada beberapa indikator yang dapat digunakan diantaranya kemampuan untuk membaca dan menulis, tingkat partisipasi sekolah dan pendidikan tertinggi yang ditamatkan.
Indikator pertama adalah kemampuan untuk membaca dan menulis yang merupakan suatu kemampuan dasar bagi seseorang dan berkaitan langsung bagaimana seseorang dapat memperoleh pengetahuan. Untuk menggambarkan tinggi rendahnya kemampuan membaca dan menulis para para pemuda saat ini, angka buta huruf dapat digunakan. Angka tersebut merupakan salah satu indikator global yang menjadi target dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Meski secara nasional hampir tidak ada pemuda yang buta huruf, berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), angka buta huruf antara pemuda di perdesaan dan perkotaan masih menunjukkan kesenjangan. Para pemuda di pedesaan yang tidak dapat membaca dan menulis jumlahnya hampir delapan kali lebih banyak dari para pemuda di perkotaan per tahun 2017 lalu.
Indikator kedua adalah Angka Partisipasi Sekolah (APS) yang menggambarkan tingkat partisipasi penduduk usia sekolah dalam mengenyam pendidikan. Semakin tinggi angkanya menandakan semakin banyak penduduk usia sekolah yang telah merasakan pendidikan di sekolah. Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS, meski pada tahun 2017 lalu hanya terdapat 0,86 persen pemuda yang tidak/belum pernah bersekolah, masih terdapat kesenjangan baik antara pemuda yang tinggal di perdesaan dan perkotaan maupun antara pemuda yang miskin dan yang kaya. Jumlah pemuda yang tidak/belum pernah bersekolah di perdesaan jumlahnya tiga kali lebih banyak dari para pemuda di perkotaan. Kemudian, jika dilihat dari kelompok pengeluaran rumah tangga juga terdapat kesenjangan yang signifikan. Pemuda dengan kelompok pengeluaran rumah tangga 20 persen teratas menunjukkan partisipasi yang lebih tinggi di setiap jenjang umur.
Indikator ketiga adalah pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Indikator tersebut menggambarkan sampai sejauh mana kemampuan seseorang untuk dapat menamatkan pendidikannya. Semakin tinggi pendidikan seseorang diharapkan semakin banyak pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang ia miliki. Dengan demikian diharapkan sumber daya manusia yang dihasilkan akan lebih berkualitas.

Pada indikator ketiga tersebut, kesenjangan pendidikan juga dapat terlihat dengan jelas. Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS, mayoritas pemuda dengan kelompok pengeluaran 20 persen teratas mampu menempuh pendidikan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sederajat. Bahkan hampir 1 dari 5 orang yang berada pada kelompok pengeluaran tersebut mampu menempuh pendidikan jenjang Perguruan Tinggi. Sedangkan kelompok pengeluaran 40 persen terbawah mayoritas hanya mampu menamatkan pendidikan di jenjang SMP/sederajat. Sementara jika dibandingkan antara daerah perkotaan dan perdesaan, juga terdapat kesenjangan. Pemuda di perkotaan yang menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sederajat persentasenya lebih besar dibanding pemuda di perdesaan.

Dari ketiga indikator tersebut, dapat dilihat dengan jelas bahwa disparitas pendidikan bagi para pemuda di Indonesia sangat nyata terjadi. Terbatasnya akses akibat belum meratanya pembangunan fasilitas pendidikan diduga sebagai pemicu kesenjangan tersebut. Biasanya siasat yang dilakukan dengan melakukan migrasi ke perkotaan atau wilayah dengan akses fasilitas pendidikan yang mudah dijangkau. Namun, sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang baru-baru ini diterapkan sepertinya sudah mengkhianati siasat tersebut.
Meskipun bertujuan baik yakni untuk melakukan pemerataan, menghilangkan ekslusivitas dan sebagainya, jangan sampai sistem zonasi tersebut malah semakin menambah disparitas dalam dunia pendidikan di Indonesia. Mereka yang tinggal jauh dari fasiltas pendidikan seperti di perdesaan semakin hilang kesempatannya untuk memperoleh pendidikan sehingga diharapkan perhatian pemerintah dalam penyediaan fasilitas pendidikan di perdesaan yang mudah dijangkau.

Selain itu, diperlukan juga bantuan dana pendidikan bagi mereka dengan kelompok pengeluaran 40 terbawah ke bawah. Dengan demikian diharapkan kesenjangan pendidikan antar pemuda baik mereka yang tinggal di perkotaan dan perdesaan, yang miskin dan yang kaya, di Indonesia semakin kecil, sehingga diharapkan pilar keempat dari SDGs yang menyebutkan bahwa di tahun 2030 nanti seluruh penduduk kelompok usia sekolah telah memiliki akses terhadap pendidikan dasar dan menengah dapat terwujud.(***).

Comment

BERITA TERBARU