Kesempatan Kedua

No comment 604 views

Karya: Musda Quraitul Aini
(Siswa SMP Negeri 2 Tukak Sadai)

Matahari baru saja menerangi bumi. Suara ayam berkokok dan kicauan burung-burung saling bersahutan seakan mengiringi sang surya bangun dari peraduannya. Semilir angin meniup dedaunan kering di pohon, yang kemudian jatuh dan berserakan di tepi jalan. Dari kejauhan, terlihat seorang anak berseragam merah putih sedang berjalan menuju sekolah bersama teman-temannya. Di lengan baju sebelah kiri tertulis “SD NEGERI 2 TUKAK SADAI” yang menandakan asal sekolah mereka.
“Hei.. tungguin aku,” terdengar suara dari arah belakang mereka.
Terlihat seorang anak kecil berseragam lengkap berlari ke arah mereka. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, ia mencoba mensejajari langkah teman-temannya. Akbar, nama yang tertera di dada sebelah kanannya. Siswa sekolah dasar ini dikenal oleh teman-temannya sebagai anak yang baik, rajin dan pintar. Walaupun berasal dari keluarga yang tak mampu tetapi Akbar sangat senang membantu orang tua dan juga teman-temannya. Bahkan ia tak sungkan membantu ayahnya pergi melaut.
Ayah Akbar merupakan nelayan di desanya. Maklum saja, desa itu terkenal dengan hasil laut yang masih sangat melimpah. Mayoritas penduduk di desa itu berprofesi sebagai nelayan, tak terkecuali ayahnya Akbar. Ia menggantungkan hidup seluruh anggota keluarganya dengan cara melaut. Setiap kali ayahnya pergi melaut, Akbar pasti ikut membantu. Pernah sesekali ayahnya melarang Akbar ikut melaut. Karena takut akan menggangu sekolahnya. Namun, Akbar tetap kekeuh ingin membantu ayahnya. Teman temannya juga sangat menyukai sifat Akbar.
***

Hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian nasional tingkat sekolah dasar. Akbar dan teman-temannya sudah tidak sabar menunggu datangnya hari ini. Hari penentuan apakah mereka dapat melanjutkan sekolah ke tingkat SMP atau tidak. Seluruh orang tua siswa sudah berkumpul di sana, rasa deg-degan menyelimuti hati para siswa tak terkecuali Akbar. Karena bila lulus, ia ingin bersekolah di SMP impiannya. Tapi jika tidak, hancurlah impiannya selama ini.
Terlihat jarum jam di dinding menunjukkan pukul 09.30, tidak lama setelah itu terdengar pemberitahuan kepada semua murid untuk memasuki kelas. Dan tibalah saat pengumuman kelulusan. Jantung Akbar semakin berdegup kencang. Satu-persatu siswa dipanggil untuk menerima amplop kelulusan. Kini tiba giliran Akbar.
“Akbar,” panggil walikelas. Akbar dan ibunya menerima amplop pengumuman. Akbar membuka amplop itu secara pelan-pelan. Tertera tulisan “LULUS” dalam kertas yang dibacanya. Dirinya sangat senang, sampai-sampai ia melompat kegirangan. Ibu guru juga memberitahu tidak hanya lulus dalam ujian, Akbar juga berhasil mendapatkan nilai tertinggi hampir di setiap mata pelajaran. Akbar yang mendengar itu terkejut dan langsung memeluk ibunya.
“Selamat atas keberhasilanmu ya, Akbar,” kata ibu guru.
“Terimakasih Bu,” jawab Akbar.
Semua teman-temannya memberikan selamat. Akbar tak henti-hentinya melemparkan senyuman kepada mereka. Tampak kebahagiaan di wajah Akbar dan ibunya kala itu.
***

Sebulan dari hari pengumuman itu, SMP yang diimpikan Akbar sudah membuka pendaftaran siswa baru. Bahkan sudah sejak seminggu yang lalu. Telah banyak teman-temannya yang mendaftar di SMP tersebut tak terkecuali dengan Akbar. Akhirnya impiannya selama ini untuk dapat bersekolah di sekolah itu terwujud.

Sampai pada suatu hari, seluruh orang tua siswa dipanggil untuk mengikuti rapat di sekolah. Untuk membahas biaya seragam sekolah dan hal lainnya. Rupanya, biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Ibunya memberitahukan biaya sekolah Akbar kepada ayahnya. Ayahnya berjanji akan mencarikan biaya itu untuk anaknya.
“Malam ini, aku akan pergi melaut,” ucap ayahnya. “Jangan khawatir seminggu lagi aku pulang membawa uang untuk biaya Akbar, doakan saja ya Bu,” imbuhnya.
***

Hari demi hari silih berganti, tak terasa sudah lebih dari seminggu lamanya ayah Akbar pergi melaut. Akbar selalu menanyakan kepulangan ayahnya kepada sang ibu. Karena ibunya pernah mengatakan ayahnya sedang mencari uang untuk keperluan sekolahnya. Ibunya menjadi was-was menunggu kedatangan suaminya.
“Tidak biasanya, ia pergi melaut selama ini,” pikirnya dalam hati sembari melihat Akbar yang sedang duduk di depan rumah sambil menunggu kedatangan ayahnya.
“Ayah cepatlah pulang, aku sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan Ayah,” ucap Akbar. Namun sudah lebih dari dua minggu tetapi ayahnya belum kunjung datang. Saat Akbar ingin masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja ada seorang pria, teman ayahnya berlari menuju rumah.
“Assalamualaikum,” kata pria itu.
“Waalaikumussalam, ada apa Paman?” tanya Akbar penasaran.
“Itu… itu ayahmu,“ sambil menunjuk ke arah laut.
“Kenapa dengan ayah, Paman?” kata Akbar khawatir.
Mendengar suara Akbar, ibu dan neneknya keluar rumah.
“Ada apa Akbar?” tanya ibu.
“Eh.. kamu di sini lalu dimana ayahnya Akbar?” tanya nenek kepada lelaki itu.
“Itu Nek… ayahnya Akbar…..” kata pria itu terbata-bata memberi tahu.
“Ada apa dengan ayahnya Akbar?” kata ibu mulai gelisah.
Rupanya kedatangan pria itu untuk memberitahu bahwa kapal yang digunakan ayah Akbar saat melaut menabrak karang, dan ayahnya ditemukan meninggal karena tenggelam di laut.
***

Sejak kematian ayahnya, Akbar menjadi anak yang pendiam. Di sekolah, ia hanya berdiam diri di kelas. Ia malu karena hanya dirinyalah yang belum mempunyai seragam putih biru lantaran belum mempunyai uang untuk membelinya. Saat ini, ibunya lah yang mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jangankan untuk membeli baju seragam, makan sehari-hari saja masih kekurangan.

Kesulitan keuangan yang dialami keluarganya, membuat ibu Akbar pernah mengatakan bahwa beliau tidak dapat menyekolahkannya lagi. Awalnya Akbar tidak ingin putus sekolah. Namun keadaan ibunya yang sudah semakin menua, membuat dirinya harus membantu menghdupi keluarga. Akhirnya dengan berat hati, Akbar memutuskan untuk berhenti sekolah. Mulai saat itu Akbar berjualan es lilin dan kue buatan ibunya. Semua itu ia lakukan untuk bisa mengumpulkan uang agar kelak ia bisa bersekolah lagi.
***

Jam dinding masih menunjukkan pukul 03.00 pagi, namun Akbar sudah bangun dari tidurnya. Saat mentari masih tertidur diperaduannya, saat ayam jantan belum mengeluarkan suaranya untuk membangunkan umat manusia, dan saat anak-anak seusianya masih terlelap menikmati mimpi indahnya, Akbar telah sibuk membantu ibunya membuat kue yang akan dijual pada hari itu. Dinginnya udara pagi tak dihiraukannya lagi. Seakan-akan ia telah berteman baik dengan udara dingin yang selalu menemani saat membantu ibunya.

Matahari perlahan mulai merangkak naik, Akbar pun sibuk menata dagangannya. Seperti biasanya, setiap hari Minggu ia akan berjualan di Pantai Kerasak. Pantai itu selalu ramai didatangi pengunjung saat hari libur. Maklum saja, selain terkenal dengan limpahan hasil lautnya. Tempat tinggal Akbar terkenal dengan pantainya. Saat musim liburan banyak pengunjung yang berasal dari luar kota datang ke Pantai Kerasak untuk menyaksikan keindahan panorama pantai itu.

Akbar berjalan menjajakan dagangan ke setiap pengunjung yang ditemuinya. Peluh mengalir ke setiap bagian tubuhnya. Bibirnya tak berhenti berucap menawarkan apa yang dijualnya. “Kuenya Pak, Bu.. ada es lilin juga Dek, kue.. kue.. es lilin,” katanya. Sesekali ia berhenti untuk beristirahat, menyeka keringat yang mengalir di wajahnya.
Tak hanya Akbar, para pedagang lainnya pun berlomba-lomba menawarkan dagangan ke pengunjung yang datang. Ketika Akbar sedang menjajakan dagangannya, ia melihat teman-teman SMP-nya dulu tengah bersama gurunya. Ternyata mereka sedang mengadakan perkemahan di Pantai Kerasak.
Salah satu temannya melihat Akbar dan memberitahu kepada guru. Guru itu pun menanyakan sebab Akbar sampai putus sekolah. Akbar menjelaskan bahwa ia terpaksa berhenti sekolah. Sejujurnya ia sangat ingin bersekolah, namun keadaan ekonomi keluarganya tidak berpihak kepadanya. Setelah mendengarkan perkataan Akbar, guru itupun menyarankan Akbar untuk bertemu kepala sekolah.
“Baiklah, besok kamu ke sekolah. Lalu temui kepala sekolah,” saran guru itu kepada Akbar. Akbar mengangguk. Ia pun lalu pamit untuk kembali berjualan.
***

“Jadi begini Ibu, maksud kami memanggil Ibu dan Akbar ke sekolah untuk mengajak Akbar kembali bersekolah lagi,” jelas kepala sekolah.
Kepala sekolah memberitahu Ibunya Akbar, bahwa ada program pemerintah untuk membantu anak-anak yang putus sekolah karena keterbatasan biaya. Bantuan ini semacam beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu namun masih ingin melanjutkan sekolahnya.
“Jadi, mulai hari ini kamu dapat bersekolah lagi,” kata kepala sekolah. “Kamu tidak perlu pusing dengan biaya sekolah lagi karena semua sudah ditanggung oleh pemerintah,” imbuhnya.
“Dan ini seragam baru untukmu,” kata kepala sekolah sambil menyerahkan seragam putih biru kepada Akbar.
Mendengar hal itu, Akbar merasa memiliki kesempatan kedua untuk meraih cita-citanya. Akbar dan ibunya mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah. Ia merasa senang, matanya berbinar. Tampak sekali aura kebahagiaan di wajahnya. Akhirnya ia dapat bersekolah lagi, seperti teman-temannya seusianya.
***
Matahari baru saja menerangi bumi. Suara ayam berkokok dan kicauan burung-burung saling bersahutan seakan mengiringi sang surya bangun dari peraduannya. Semilir angin meniup dedaunan kering di pohon, yang kemudian jatuh dan berserakan di tepi jalan. Dari kejauhan, terlihat seorang anak berseragam putih biru berjalan menuju sekolah bersama teman-temannya. Di lengan baju sebelah kirinya tertulis “SMP NEGERI 2 TUKAK SADAI” yang menandakan asal sekolah mereka.
“Hei.. Tungguin aku,” terdengar suara dari arah belakang mereka. Terlihat seorang anak remaja berseragam lengkap berlari ke arah mereka. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, ia mencoba mensejajari langkah teman-temannya. Akbar, nama yang tertera di dada sebelah kanannya. Nama yang amat singkat, namun kehidupan dirinya penuh dengan lika-liku yang tak sesingkat namanya. Tapi, lika-liku itulah yang nantinya akan menjadikan dirinya “Akbar” seperti nama yang diberikan orang tuanya. (Sadai, 23 September 2017). (**)

No Response

Leave a reply "Kesempatan Kedua"