Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi Guru

No comment 241 views

Oleh: Magdalena, S.Pd.
Guru Kimia SMA Negeri 4 Pangkalpinang

Magdalena, S.Pd

Negara menjamin hak konstitusional setiap orang untuk mendapatkan pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta pengakuan yang sama dihadapan hukum sebagai sarana perlindungan hak asasi manusia. Oleh karena itu, negara bertanggung jawab terhadap pemberian bantuan hukum bagi orang yang tidak mampu sebagai perwujudan akses terhadap keadilan.

Sejarah panjang tentang perlindungan guru dan tenaga kependidikan di Indonesia untuk pertama kali diatur dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Penjabaran pelaksanaan perlindungan hukum bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya telah dituangkan di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan. Di dalam peraturan Pemerintah ini, perlindungan terhadap tenaga kependidikan dimaksud meliputi perlindungan untuk rasa aman, perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja, dan perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.

Berkaitan perlindungan Guru, secara tegas Pasal 40 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan “Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual”. Sejalan dengan itu, Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan “Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas”. Lebih lanjut, Pasal 40 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru menyebutkan “Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari Pemerintah, Pemerintah Daerah, satuan pendidikan, Organisasi Profesi Guru, dan/atau Masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing”.

Dalam konteks peningkatan mutu Guru, selain aspek penghargaan dan kesejahteraan, aspek perlindungan menjadi hal yang sangat penting. Dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008, ranah perlindungan dimaksud meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, dan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan hak kekayaan intelektual.

Kebijakan perlindungan tenaga kependidikan menimbulkan adanya rasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugas profesinya yang dapat membentuk karakter dan kepribadian yang secara kondusif dapat mendorong tenaga kependidikan kreatif dan inovatif. Pada kenyataannya, kondisi ketidaknyamanan masih terus dialami oleh sebagian tenaga kependidikan tanpa adanya sistem perlindungan yang memadai.

Ketika menghadapi berbagai permasalahan hukum dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, sebagian tenaga kependidikan memilih menempuh jalannya sendiri. Ada yang menerima realitas tersebut berjuang secara perorangan, meminta bantuan organisasi bantuan hukum (OBH), meminta bantuan hukum kepada organisasi profesinya, atau dinas pendidikan dan/atau pihak lainnya. Fakta di lapangan menunjukkan banyak peristiwa hukum dapat dicatat berkenaan dengan hak tenaga kependidikan yang seharusnya dilindungi oleh Undang-undang. Namun, dalam kenyataan belum terwujud dengan baik dan tepat, maka akan memberi ketenangan dan kegairahan kerja dan hasil yang baik untuk setiap kegiatan yang dilaksanakan.

Demikian halnya dengan kesehatan dan keselamatan kerja di sekolah, secara khusus di laboratorium adalah sangat penting untuk diperhatikan mengingat bahaya kecelakaan yang dapat ditimbulkan. Di laboratorium, banyak bahan kimia berbahaya yang bersifat racun. Oleh karena itu, setiap praktik harus berhati-hati dalam melakukan kegiatan-kegiatan di laboratorium.

Dalam kurikulum K13 untuk kelas X semester satu terdapat kompetensi dasar tentang memahami metode ilmiah, hakikat ilmu kimia, keselamatan dan keamanan kimia di laboratorium, serta peranan kimia dalam kehidupan. Dari kompetensi dasar tersebut, diharapkan pada kegiatan pembelajaran siswa dapat memahami prosedur standar tentang keselamatan dan keamanan kimia di laboratorium.

Berdasarkan hal tersebut, sebagai seorang guru kimia, Penulis secara pribadi sangat merasa penting untuk dapat memahami dan mengerti dengan baik tentang prinsip K3 di laboratorium. Karena saat kita melakukan praktikum bersama peserta didik, bisa saja terjadi hal yang tidak kita inginkan. Sebagai contoh, bahan kimia yang mempunyai potensi bahaya kebakaran yang amat besar adalah berupa ammonium nitrat (NH4NO3) dan gas cair. Bahan ini mudah meledak jika tidak segera ditangani dengan benar.

Berdasarkan hal tersebut di atas, Penulis merasa sangat perlu untuk menjelaskan tentang K3 kepada peserta didik, antara lain menjelaskan apa sajakah faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan di laboratorium? Bagaimana sikap kita jika terjadi kecelakaan di laboratorium? Tindakan apa saja yang dilakukan? Dan sangat diharapkan peserta didik memahami tentang jenis alat pemadam kebakaran yang dapat digunakan di laboratorium.

Salah satu kegiatan yang telah dilakukan Penulis bersama peserta didik di SMA Negeri 4 Pangkalpinang Bangka Belitung yang berhubungan dengan K3 adalah melakukan simulasi tentang cara penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan juga pemadaman api dengan alat tradisional bersama pihak Damkar Kota Pangkalpinang.

Dari kegiatan tersebut, peserta didik sudah mulai mengenal jenis-jenis kebakaran (api), cara penanganan jika terjadi kebakaran dan penggunaan APAR untuk skala kebakaran kecil dilabortorium. Selain itu, kegiatan tersebut juga memberi dampak yang positif kepada penulis (guru kimia) dan juga pihak sekolah.

Karena itu, Penulis sangat berharap dengan adanya kegiatan Bimbingan Teknis Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang diselengarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan ini, Penulis diberikan kesempatan untuk dapat mengikutinya, sehingga Penulis semakin memahami dan mengerti tentang K3 di sekolah dan dapat menerapkanya di sekolah nanti. Karena, selain mengajar Kimia di SMA, Penulis juga sedang mengikuti kegiatan Keahlian Ganda yang diselengarakan dari pusat, sehingga nantinya Penulis juga akan mengajar di SMK jurusan Nautikal Kapal Niaga. Dimana K3 sangatlah diperlukan dalam pelaksanaan praktek pelajaran NKN di kapal nantinya.

Kesimpulan dari tulisan ini, Penulis merasa bahwa setiap guru (kimia, fisika, biologi) sangatlah penting untuk dapat memahami, mengerti dan dapat menerapkan tentang K3 di sekolah secara khusus di laboratorium. Karena, ujung tombak pelajaran ini adalah praktikum di laboratorium, sehingga setiap kegiatan pembelajaran di laboratorium dapat berlangsung dengan aman, tertib, lancar, dan akhirnya setiap peserta didik merasa aman, nyaman dan menikmati saat KBM berlangsung dan membuahkan hasil yang maksimal.(****).

No Response

Leave a reply "Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi Guru"