by

Kepsek Pukuli Murid SD, Bonyok

-NEWS-86 views

Siswa Dicubit, Wajah Dipukul dan Bengkak
Dilapor ke Polisi Berujung Damai

PANGKALPINANG – Sepertinya Komisi Perlindungan Anak Daerah Provinsi Bangka Belitung (KPAD Babel) harus lebih sering turun tangan melihat dan menyikapi tindak kekerasan yang sering kali terjadi di Babel. Salah satunya tindak kekerasan terhadap anak dibawah umur, didunia pendidikan.
Sebab, pekan kemarin seorang siswi sekolah dasar (SD) yang bersekolah di salah satu sekolah swasta di Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, Provinsi Babel mengalami luka memar dan membiru akibat dipukul guru sekaligus menjabat kepala sekolah.
Sang kepala sekolah berinisial SR itu diduga mencubit bagian perut, dada dan tangan siswi berinisial KE, bahkan memukul bagian kepala siswinya hingga bengkak di muka hanya karena sang murid tidak hafal perkalian.
Tidak terima anaknya mendapat tindak kekerasan seperti itu, CI sebagai orang tua KE kemudian melaporkan SR ke Polsek Taman Sari, pada Sabtu (7/1/2017).
Di hadapan petugas SPKT Mapolsek Taman Sari, CI mengadu bahwa anaknya telah dipukul oleh kepala sekolah saat proses belajar mengajar di sekolah. Sambil menunjukkan beberapa bekas luka cubitan di bagian perut dan dada serta bengkak di bagian wajah dan telapak tangan yang sudah hilang karena bekas pukulan SR, pelapor meminta keadilan untuk anaknya.
Apalagi, kata CI, ternyata perbuatan kepala sekolah tersebut sudah dilakukan berulang kali, dan bukan kali ini saja yang terjadi Sabtu pagi.
“Awalnya saya tidak mau melapor. Ku pikir bakal berhenti di situ saja. Tapi, hari ini (Sabtu-red) yang paling parah. Saya tidak bisa tinggal diam dengan
perlakuan ini,” tegas CI kepada petugas.
KE, sang anak pun ikut menerangkan bahwa dirinya diajarkan terpisah oleh Kepala SD tersebut. KE dibawa ke dalam ruangan SR sendirian, lalu dia diminta untuk menghafalkan perkalian. Karena tidak hafal, KE kemudian mendapat tindak kekerasan itu yang dianggap hukuman.
“Saya minta anak saya disitu untuk diajarkan, kami sekolah juga bayar, tapi kenapa dilakukan kayak gini,” ujar CI kesal.
CI mengakui bahwa dirinya pernah menitipkan pesan kepada pengajar di SD anaknya, agar agak tegas dalam memberikan pendidikan terhadap KE. Diketahui juga bahwa KE merupakan murid pindahan dari sekolah lain. Sehingga CI meminta gurunya agar bisa mengajarkan anaknya dengan
Baik. CI tidak mempermasalahkan jika anaknya hanya dicubit oleh sang guru untuk tujuan mendidik. “Saya tidak masalah kalau cubit atau mukul. Tapi jangan sering-sering. Tapi sejak beberapa hari kemarin (5/1/2017), dipukul tiap hari,” kata CI.
Usai mendapat laporan itu, polisi segera menindaklanjuti dengan memanggil terlapor hari itu juga. Meski sempat memeriksa terlapor SR, namun kemudian petugas kepolisian mempertemukan orang tua KE dengan terlapor dan membantu memediasi laporan tersebut, sehingga berujung damai.
Kapolsek Taman Sari, Kompol Irwan kepada wartawan saat dikonfirmasi tak menampik pihaknya membantu memediasi proses perdamaian antara pelapor dan terlapor. Ia mengklaim perdamaian itu untuk azas manfaat kedua belah pihak.
“Memang benar ada laporan terkait dugaan tindak kekerasan terhadap seorang murid SD di salah satu wilayah hukum kita. Laporannya kita terima dan kita tindaklanjuti dulu. Setelah kita minta keterangan dari kedua belah pihak, mereka memilih mediasi. Akhirnya, keduanya lebih memilih untuk berdamai. Jadi, kita juga tidak melanjutkan laporan tersebut untuk asas manfaat bersama,” kata Irwan. (das/1)

Comment

BERITA TERBARU