Kepicikan di Benak Cheng Ho (bagian 2)

  • Whatsapp

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

Nah, kisah ini ada kaitannya dengan hikayat Sunda Kelapa, bagaimana pelabuhan yang pernah jaya tersebut bernama demikian syahdu. Begini kakekku dulu bercerita: Konon ketika pertama menginjakkan kaki di sana, pelaut besar itu bertanya apa nama tempat yang disinggahi kepada seorang penduduk yang kebetulan sedang memetik kelapa di pantai. Entahlah kebetulan semata atau sudah takdir, telunjuk Cheng Ho yang menunjuk tanah ternyata tepat mengarah pada sebutir kelapa. Karena mengira orang bertanya apa nama buah, penduduk itu pun serta merta menjawab: “Kelapa!”

Maka jadilah Sunda Kelapa, yang di kemudian hari kesohor sebagai pelabuhan besar nan sibuk tempat berlabuh kapal-kapal dari penjuru negeri. Bahkan sampai sekarang orang-orang Tionghoa masih sering menyebut Jakarta sebagai Pa Sang, Pa dari kata kelapa. Atau Jai Sang, yang berarti Bandar Kelapa. Begitulah.

Namun lantaran iri melihat indahnya pantai dengan nyiur hijau melambai-lambai, selanjutnya sang laksamana menganjurkan para penduduk di sana menyalakan api di bawah batang-batang kelapa mereka. Supaya terhindar dari hama dan tanahnya kian subur, demikian alasan orang kebiri itu. Padahal niat di hati sebetulnya agar batang-batang menjulang tinggi itu hangus terbakar.

Toh, lagi-lagi para penduduk dengan lugasnya bertanya, tak matikah pohon kelapa? Ya, kau pastinya sudah tahu apa jawaban Cheng Ho, sehingga tradisi ini kemudian terpelihara dari generasi ke generasi dan tersebar luas ke seantero tempat berkat para pelaut.

Apakah kau percaya jika buah duku dulunya beracun?

Mungkin kakekku memang cuma ngelantur karena iseng. Tak pernah kutahu dari mana ia pungut semua kisah liar ini. Apakah karangannya sendiri saat tenggelam dalam lamunan? Atau bualan yang didengarnya dari seseorang di kedai-kedai kopi? Entahlah.

Tapi ambillah sebutir duku, kupaslah kulitnya dan amati baik-baik isinya. Pasti kau mendapatkan sebekas goresan kuku di setiap keping dagingnya yang putih, bukan? Tak perlu kaget, tak perlu bertanya, aku beritahu saja padamu rahasia ini. Sesungguhnya itulah bekas kuku jempol Cheng Ho tatkala ia menghasut para penduduk sebuah desa kecil di Jawa Barat makan buah duku yang beracun!

Ai, waktu itu, ketika ia bersama serombongan kecil prajuritnya mampir ke desa tersebut dengan maksud membeli damar, memang sedang musim buah. Melihat lebatnya buah-buahan berkulit kuning yang tampak menggiurkan di hutan pinggir desa dan banyaknya buah-buah jatuh yang dibiarkan berserakan di bawah batang, Cheng Ho dengan spontan pun bertanya, “Kenapa tak ada yang memetik buah-buah ini, Kisanak?” Dan dijawab, “Buah ini tak bisa dimakan, Tuan.”

Penasaran, ia lalu memetik sebutir duku yang bergelantungan di dahan rendah dan membuka kulitnya. Dia teliti isi buah yang baru kali pertama ditemui itu, ditekan daging buah dengan kuku jempolnya hingga tergores dan berair. Saat itulah, tiba-tiba timbul lagi kepicikan di benaknya.

“Siapa bilang buah ini tak boleh dimakan? Boleh kok!” katanya kepada para penduduk yang mengerumuni.

“Tidakkah beracun, Tuan?” tanya seorang lelaki separuh baya yang tampak bingung di sampingnya, “Apa tidak mati kalau dimakan?”

“Oh, tidak, tidak. Makanlah!” tersenyum diulurkannya daging duku yang terkupas di tangannya kepada penduduk itu. Mungkin terpukau oleh sosoknya yang berkharisma, mungkin juga suaranya yang lembut, ramah dan berwibawa, tanpa ragu-ragu lagi si penduduk kemudian memakan duku yang diberikan. Dan seketika, lenyaplah racun buah-buahan itu oleh kata-katanya yang bertuah. Ketika dikunyah, ternyata memang begitu manis rasa daging buah itu.

Sejak itulah, kau tahu, duku bukan lagi buah-buahan hutan yang tumbuh liar, tetapi para penduduk beramai-ramai suka menanam pohonnya yang besar dan rimbun di kebun maupun pekarangan rumah. Sejak itu pulalah, goresan kuku jempol Cheng Ho tertinggal di dagingnya yang putih, membekas untuk selamanya. Kau suka buah duku? Beruntunglah!

Ai, masih ada beberapa kisah semacam ini yang kudengar dari kakekku pada masa kanak-kanak. Tapi akan kuceritakan satu lagi untukmu. Kali ini tentang buah durian.

Kau gemar makan durian juga kan? Aku suka. Apalagi kalau dagingnya berwarna kuning dan tebal-tebal. Harum dan lezat sekali. Enak pula jika dibuat Serabi Durian. Pada musim buah, belum lagi bila harganya murah, setiap hari bisa lima durian besar aku habiskan sendirian. Jika orang lain tak berani makan terlalu banyak karena takut panas dalam, aku tidak. Aku punya cara mujarab menawar panas dalamnya. Waktu kecil, setiap paman dan bibiku membawa banyak durian hasil kebunnya di kampung, ibuku selalu menyuruhku minum air yang ditampung pada kulit durian sehabis kami ludes menyikat oleh-oleh itu.

“Cheng Ho lah yang telah mengajari orang-orang di sini,” tukas ibuku. Semua orang di kampung halamanku juga melakukan hal yang sama, turun-temurun.

“Lalu apa yang salah dengan itu? Bukankah ia telah menularkan pengetahuannya yang baik tentang durian pada penduduk?” gugatmu.

Ya, tentunya kau benar jika saja memang demikian adanya. Tapi pada Ramadan bertarikh 1407 Masehi itu tatkala singgah di pantai Tanjung Ketapang, Bau Bo Li [3], Cheng Ho sama sekali tidak bermaksud mengajari penduduk di ujung selatan Pulau Bangka cara makan durian yang masih dipraktikkan hingga kini tersebut. Saat berbuka puasa di bukit yang kelak akan disebut Liu Lian Liang atau Bukit Durian, ia justru berniat mempermainkan orang-orang kampung yang lugu. Karena tahu, kulit durian sebetulnya malah lebih panas daripada isi buah berduri itu. Kau kaget lagi? Begitu pula halnya diriku waktu kecil saat mendengar cerita kakekku ini. Namun seperti yang sudah bisa kau duga, orang-orang pribumi selalu saja dengan polosnya bertanya: “Buat apa minum air kulit durian, Laksamana?”

Tak pelak dengan santai, Cheng Ho pun menjawab bahwa kulit durian berkhasiat menghilangkan panas dalam. Jawabannya itulah, kata kakekku, yang sebenarnya menjadi obat mujarab untuk mengatasi panas dalam. Berkat mulutnya yang bertuahlah, kulit durian pun akhirnya benar-benar menjadi penawar manjur seperti yang ia katakan. Ya, sampai sekarang, Kawan.

****
Ai, tentu saja aku berharap kisah-kisah liar ini tidaklah mengurangi kekagumanmu pada pelaut suku Hui itu. Sebagaimana tak sedikit pun, riwayat yang sulit ditelusuri sanad-nya ini bakal mengubah rasa hormatku padanya. Demikian halnya orang-orang Tionghoa di Toboali. Terutama mereka yang masih keturunan Wang Jinghong alias Atok Toboali, tak sedikit pun meragukan kepahlawanan sang laksamana dan begitu setia memuja patungnya yang keramat di kelenteng dekat Pelabuhan Toboali.

Semua catatan sejarah yang kau beberkan kembali itu tidaklah pernah aku ragukan, Kawan. Sama sekali tidak. Selain nahkoda yang baik, barangkali ia memang seorang muslim yang tak pernah melalaikan kemakmuran masjid sebagaimana katamu. Ingatlah, bagaimana pada 1413 ia memugar Masjid Qinging di timur laut Kabupaten Zian, juga Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar pada 1430. Tak segan pula ia menyampaikan khotbah Jumat tatkala berlabuh di Surabaya. Tapi adakah ia memang semulia yang digambarkan sejarah?

Tentu kau mafhum kalau pelaut besar itu tak sesuci Nabi bukan? Aku tahu kau memikirkan hal ini, meskipun tetap tak bakal berkenan menerima ceritaku yang mirip dongeng. Ai…

Jadi, lupakanlah!
Catatan:

[1] Nanyang: Samudera Selatan, Nusantara.
[2] Samo Lung: Semarang
[3] Bau Bo Li: Toboali, sekarang ibukota kabupaten Bangka Selatan. Berasal dari kata Tobo = tebu, kepunyaan Ali. Daerah penghasil nanas dan terasi, dan tentunya kampung halaman ku juga.

Related posts