Kepicikan di Benak Cheng Ho (bagian 1)

  • Whatsapp

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

‘Bagaimana mesti aku rawikan riwayat Cheng Ho yang serupa dongeng ini? Oh, kisah-kisah liar yang tak mungkin kau temukan dalam catatan sejarah. Tapi begitulah, cerita-cerita tak jelas asal muasal ini telah kudengar di masa kanak-kanak dan lama mengendap dalam ingatan yang mirip belukar semak.’

Tentu kau tahu banyak cerita tentang pelaut besar itu. Bagaimana pelayarannya yang luar biasa,ah, 114 tahun sebelum Magellan merintis penjelajahan samudera mengelilingi bumi, mengubah peta navigasi dunia sampai abad kelima belas.Atau, bagaimana selama 28 tahun, tak urung lebih dari 30 negeri di Asia, Timur Tengah, dan Afrika telah disinggahi dalam tujuh kali ekspedisi yang kesohor itu demi memperluas pengaruh Kaisar Ming sebagai Putra Langit dan menjalin hubungan perniagaan dengan banyak negeri.

Kendati armadanya membentang hampir seribu meter di garis cakrawala, memanjang 1,5 kilometer di lautan, toh berbeda dari penjelajah Eropa yang rakus, tak dibawanya semangat penaklukan dan keserakahan. Bahkan, syahdan kapal-kapal itu lebih banyak membawa ragam cinderamata yang akan dipersembahkan kepada raja-raja berbagai negeri ketimbang senjata.

Ai, demikianlah sejarah lebih suka mencatat jasa, misi mulia, dan kepahlawanannya di sepanjang jalur pelayaran. Karena itu, tak kausangsikan lagi riwayat yang mengisahkan kemurahan hati orang kasim itu. Tengoklah, katamu, tatkala merapat di Tuban dan Gresik misalnya, kepada penduduk pribumi tak segan ia ajarkan beragam teknik pertanian dan peternakan, juga tata cara pertukangan dan perikanan.

Oh, tentu tak hendak kuremehkan kebesaran Cheng Ho, Kawan! Tapi percayakah dirimu, kalau kukatakan bahwa dalam pelayarannya yang panjang itu, beberapa kali sempat terlintas kepicikanseorang Cheng Ho untuk mencelakai para penduduk Nanyang [1] yang ia sambangi? Tahukah dirimu, atau pernahkah kau mendengar bahwa mulut pelaut ulung itu sesungguhnya mengandung tuah? Tak pelak apa pun yang diucapkan kerap dengan segera menjelma jadi kenyataan; hal yang tak benar pun menjadi benar. Ya, sebab itulah niat buruknya tak pernah kesampaian, Kawan.

Kau heran, kau menyangkaku berkelakar? Ai, anggap saja Tuhan selalu memberkahi perjalanan muhibahnya, senantiasa menjaga keagungan namanya, karena itu tak pernah membiarkannya melakukan keculasan.

“Itu tak mungkin! Cheng Ho…,” bantahmu dengan nada tak senang,“adalah pelaut budiman. Bahkan ia lebih suka tuntaskan masalah dengan diplomasi daripada kekerasan.”

Lantas kau menunjukkan lagi padaku kisah ketika ia mengirim para utusan kehormatan kaisar ke Kerajaan Blambangan saat berlabuh di Samo Lung. [2] Lebih dari separuh utusan tak bersenjata ini tewas dibantai Majapahit yang mengira Blambangan sedang meminta bantuan Kaisar Ming.

Terkejut oleh serangan, ia pun mengerahkan seluruh armada ke Majapahit dan arahkan semua meriam kapal perangnya ke daratan. Toh, sebelum bola-bola mesiu itu dimuntahkan, ia melakukan tindakan mengejutkan. Dengan menggunakan kapal kecil dan hanya ditemani beberapa pengawal, ia malah memutuskan menghadap Raja Majapahit untuk menanyakan kenapa utusannya diserang. Tak pelak sang raja pun menyadari kesalahpahaman dan perkara dapat diselesaikan dengan damai.

“Sungguh menakjubkan apa yang ia lakukan,” pujimu kagum. Karena itu, wajar apabila kau bersikeras menyangkal habis-habisan sejumlah kisah yang kudengar dari kakekku di masa kecil ini.

Ai, baiklah, anggap saja aku memang keliru dan hanya mengingau. Toh, aku pun tak bisa menunjukkan kebenarannya padamu. Tak ada sepotong pun catatan sahih yang bisa kurujuk sebagai pegangan kecuali kisah-kisah ini kudengar dari mulut kakekku puluhan tahun silam. Membelukar dalam ingatan. Tak ada bukti bisa diuji layaknya lonceng raksasa Cakrado yang dihadiahkannya kepada Sultan Aceh, atau piring bertuliskan Ayat Kursi yang saat ini masih tersimpan baik di Kraton Kasepuhan Cirebon.

Namun tak ada salahnya bukan, jika cerita-cerita kecil ini aku ungkapkan kepada pembaca? Sebab bagiku, di sini persoalannya bukanlah sejauh mana kebenaran kisah-kisah itu, tapi bagaimana sesekali kita mencoba melihat sisi lain dari versi sejarah yang resmi.

Hmmm…, beginilah cerita yang kau tuduh sebagai fitnah keji itu. Cerita-cerita yang kau anggap musykil.

Ai, sini kukatakan kepadamu, sesungguhnya rumah panggung yang tegak dari Semenanjung Malaya hingga bumi Betawi tak lepas dari riwayat pelayaran laksamana agung itu. Bahwa, sejarah tiang-tiang penopang rumah itu berpangkal dari sebuah niat jahat yang tebersit di benak Cheng Ho tatkala armada rayanya, ya, sebagaimana dicatat Ma Huan dalam kitab Ying-yai Sheng-lan, terdiri atas 27.000 awak dan 307 kapal besar dan kecilmenyusuri pesisir timur Sumatera.

“Dirikanlah rumah di atas pancang tiang, niscaya kalian bakal terhindar dari ancaman binatang buas,” katanya kepada orang-orang Melayu di Riau dan Malaka,
“Tinggikanlah rumah agar kalian tak disapu ombak dan sungai yang meluap,” sarannya kepada penduduk yang berdiam di pesisir Jambi, bantalan Batanghari dan Musi.

Ai, kendati tak mampu kutunjukkan tanda betapa rumah-rumah panggung itu adalah jejak kepicikannya yang nyata, toh terang dapat kau tangkap maksud dan tujuan nasihat itu bukan? Bahwa tak lain supaya orang-orang Melayu mengalami celaka, mati ketimpa rumah panggung mereka yang roboh apabila tiang-tiang penyanggah merapuh dan patah.

Ya, bisa saja sebaliknya kau amsal bentuk arsitektur tua itu sebagai salah satu tanda kemurahan hatinya berbagi ilmu, sebab para penduduk pribumi dengan lugunya telah bertanya, “Tak robohkah rumah kami, Tuan Nahkoda?”

“Oh, Tidak. Tidak akan roboh. Percayalah!”

Mulut bertuah, sakti ucapannya, manjur katakatanya. Sekali bilang tidak, berarti memang tidak. Akibatnya para penduduk pun selamat dari malapetaka. Karena itu sampai sekarang, masih dapat kautemukan rumah panggung tegak di mana-mana selama belum hilang Melayu di bumi.

Ai, kau masih menganggapku mengarang-ngarang cerita? Silakan saja. Tapi dengarkanlah dulu ceritaku perihal pohon kelapa.

Kau tahu kenapa para penduduk di pesisir suka membakar daun-daun, pelepah dan reranting kering di bawah batang-batang kelapa? Bahkan saban sore kakekku dulu selalu melakukan. Biasanya dengan sapu lidi dia kumpulkan sampah daun dan ranting yang berserakan di pekarangan rumah kami yang tak jauh dari pantai, juga pelepah kelapa kering atau rumput yang habis ditebas. Lalu dia tumpukkan di bawah beberapa batang kelapa kami sebelum kemudian beliau bakar.

“Kenapa membakar di bawah batang kelapa, Kek?” tanyaku penasaran waktu itu.

“Ya tentu saja biar batangnya subur dan nanti berbuah lebat,” beliau tertawa, “Sesuai yang dianjurkan Cheng Ho. Mau kau mendengar ceritanya?”

bersambung****

Related posts