Kepedulian Orang Tua Terhadap Keberhasilan Pendidikan Anak

  • Whatsapp

Oleh: Ati Lasmanawati, M.Pd.
Guru SMA Negeri 1 Sungailiat Bangka

Ati Lasmanawati, M.Pd.

Kepedulian berasal dari kata peduli yang kemudian diberi awalan dan akhiran ke-an. Peduli, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan”. Kepedulian dalam KBBI diartikan sebagai “prihal sangat peduli, sikap mengindahkan“. Pengertian orang tua adalah ayah dan ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial (Shochib, 1998). Sedangkan pendidikan diartikan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai “daya upaya untuk memberikan bantuan pada segala kekuatan kodrat yang pada anak, agar mereka baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan lahir batin yang setinggi-tingginya”.
Pendidikan merupakan suatu usaha dari setiap bangsa dan negara untuk mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi. Pendidikan tersebut juga diharapkan dapat menciptakan generasi bangsa yang berkualitas dan berdaya saing yang tinggi untuk menghadapi persaingan di era globalisasi dewasa ini. Melalui proses pendidikan sumber daya manusia dapat ditingkatkan. Suatu bangsa yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan generasi penerusnya, maka akan melahirkan bangsa yang maju, beradab dan bermartabat. Hal ini sesuai dengan kata bijak dari Goerge Washington bahwa awal dari suatu keberhasilan adalah kedisplinan, harga diri, dan kepedulian. Sehingga bangsa yang peduli dengan pendidikan sumber daya manusianya, maka akan melahirkan manusia yang lebih produktif, karena dengan pengetahuan, keahlian dan wawasan yang dimilikinya, pekerjaan yang dilakukan akan menjadi lebih efektif dan efisien dengan mendapatkan hasil yang lebih memuaskan.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu penekanan dari tujuan pendidikan, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka antara pemerintah, keluarga dan masyarakat mempunyai kepedulian dan tanggung jawab yang sama dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak sebagai generasi yang akan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ternyata, dukungan yang utama dan menjadi pendidikan pertama yang dikenal oleh anak adalah pendidikan yang berlangsung dalam keluarga yang diberikan oleh orang tuanya di mana anak lahir dan dibesarkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sukmadinata (2004) bahwa keluarga sering disebut sebagai lingkungan pertama, sebab dalam lingkungan inilah pertama-tama anak mendapatkan pendidikan, bimbingan, asuhan, pembiasaan, dan latihan. Keluarga bukan hanya menjadi tempat anak dipelihara dan dibesarkan, tetapi juga tempat anak hidup dan dididik pertama kali. Pola maupun cara-cara pendidikan dalam keluarga yang dibentuk oleh orang tua sebagai guru pertama dalam kehidupan anak, akan selalu mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi pekerti dan kepribadian setiap anak dari kecil sampai tumbuh dewasa.
Pendidikan dalam keluarga, terutama peran orang tua sangat berpengaruh besar pada pendidikan anak di sekolah, karena dengan perhatian, kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak ternyata dapat menimbulkan motivasi dan perilaku belajar yang benar. Pendidikan anak yang dimulai dari pendidikan orang tua di rumah, membuat orang tua mempunyai tanggung jawab utama terhadap masa depan anak-anak mereka. Karena bagaimanapun, sekolah hanya merupakan lembaga yang membantu proses tersebut. Sehingga peran aktif dan kepedulian dari orang tua sangat diperlukan bagi keberhasilan pendidikan anak-anaknya.
Orang tua merupakan orang pertama yang mendapat kesempatan membentuk karakter anak. Sehingga peran orang tua sangat penting bagi perkembangan pendidikan anak. Oleh karenanya, anak tidak harus kehilangan kesempatan berkembang hanya karena kesibukan orang tua. Terlepas dari beragamnya asumsi masyarakat, ungkapan “buah tak akan pernah jauh jatuh dari pohonnya” adalah sebuah gambaran bahwa betapa kuatnya pengaruh orang tua terhadap perkembangan anaknya. Peran orang tua dalam hal pendidikan anak sudah seharusnya berada pada urutan pertama, para orang tua-lah yang paling mengerti benar akan sifat-sifat baik dan buruk anak-anaknya, apa saja yang mereka sukai dan apa saja yang mereka tidak sukai. Para orang tua-lah yang pertama kali tahu bagaimana perubahan dan perkembangan karakter dan kepribadian anak-anaknya. Para orang tualah yang nantinya akan menjadikan anak-anak mereka seorang yang memiliki kepribadian yang baik ataukah buruk. Keberhasilan anak dalam meraih pendidikannya sangat dipengaruhi oleh kepedulian orang tuanya.
Pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya sendiri merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam proses perkembangan dari sang anak. Dengan memberikan pola asuh dan juga pola pendidikan yang baik, maka anak tersebut akan ikut mencontoh perbuatan baik, dan begitu pula sebaliknya. Orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian anak. Banyak perilaku anak menyimpang, yang biasanya disebabkan oleh ketidak pedulian orang tua dalam mendidik anaknya. Pendidikan sendiri bukan hanya sekedar materi dan juga teori di dalam sekolah yang didapat anak melalui gurunya, namun pendidikan berkaitan pula dengan norma, tata karma, sopan santun, hingga pembentukan pola berpikir seorang anak yang ternyata akan diperolah anak sebagai pendidikan awal dari orang tuanya. Kurangnya rasa peduli, perhatian dan kasih sayang orang tua dapat mengakibatkan pengaruh lebih buruk lagi bagi jiwa anak yang masih rapuh dan labil. Banyaknya tindakan kriminal yang dilakukan generasi muda saat ini tidak terlepas dari kelengahan bahkan ketidakpedulian para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Disinilah sangat pentingnya kepedulian orang tua terhadap keberhasilan pendidikan anaknya. Bagaimanapun, keluarga terutama orang tua adalah pusat pendidikan bagi seorang anak. Melalui peran orang tua yang peduli terhadap anaknya, keberhasilan pendidikan anak sebagai generasi penerus bangsa sangat ditentukan.
Orang tua mungkin bisa menyerahkan dan mempercayakan pendidikan kepada para ahli yang telah mumpuni, tetapi pendidikan anak tetaplah menjadi tanggung jawab orang tua. Peran orang tua tidak bisa tergantikan oleh sekolah, lembaga pendidikan, ataupun lembaga yang dapat menyalurkan bakat anaknya. Bukti yang mengingatkan kita pada tulisan Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan, “Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan Ibu Bapak, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas.”
Orang tua dan sekolah merupakan dua unsur yang saling berkaitan dan memiliki keterkaitan yang kuat satu sama lain. Salah satu bentuk kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah adalah perhatian yang ditunjukan oleh orang tua kepada anak dalam proses belajarnya di sekolah baik berupa pemberian bantuan, bimbingan, motivasi, pengawasan dan pengaruh agar kegiatan belajar anaknya di sekolah dapat berlangsung dengan baik. Pemberian motivasi belajar pada anak akan menjadi penggerak dan pendorong bagi anak untuk lebih giat serta rajin saat belajar di rumah maupun di sekolah. Apalagi dengan adanya dukungan kelengkapan fasilitas belajar anak, akan lebih dapat mendorong anak aktif dalam belajar.
Kepedulian orang tua terhadap keberhasilan pendidikan anaknya, dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, diantaranya dengan memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap, tetap mendampingi dan membantu mengarahkan anak saat menentukan pilihan sebuah sekolah yang akan dijadikan tempat anak dalam menimba ilmu sesuai dengan minatnya. Orang tua harus menyempatkan waktu untuk mendampingi anak saat belajar di rumah, dan mengontrol waktu belajar dengan waktu bermain anak sehingga anak akan tahu kapan waktunya mereka boleh bermain serta kapan waktunya harus belajar. Orang tua harus dapat memastikan bahwa anak mempunyai tempat yang kondusif untuk belajar dan mengerjakan PR atau tugas sekolahnya, sehingga anak merasa tenang dan nyaman. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak, kecerdasan dan rasa percaya diri. Dukung fasilitas anak baik di rumah maupun di sekolah sesuai dengan kondisi ekonomi orang tua. Janganlah kita menjadi orang tua yang sangat peduli dengan pemenuhan “gaya hidup” dan berusaha untuk membeli berbagai barang konsumtif yang “Wah” tetapi selalu mengatakan “tidak ada” saat anak membutuhkan biaya untuk pendidikan. Orang tua tidak bisa menyerahkan pendidikan gratis anak-anaknya pada pihak sekolah atau pemerintah, tetapi merupakan kewajiban oarng tua untuk memiliki rasa peduli dengan memberikan dukungan finansial terhadap segala kebutuhan pendidikan anak-anaknya sesuai dengan batas kemampuan orang tua.
Orang tua yang peduli dengan keberhasilan pendidikan anaknya akan berusaha untuk terus mendorong anak untuk aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi sekolah, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler di sekolah. Lakukan komunikasi dengan wali kelas anak untuk mengontrol kepribadian dan kemajuan belajarnya di sekolah. Sebagai orang tua, tidak bisa semua urusan dan kebutuhan anak diserahkan pada pihak sekolah. Orang tua harus memahami apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh sekolah dalam mengembangkan potensi anaknya, diantaranya dengan mendukung pihak sekolah menyediakan sarana belajar yang memadai, sesuai dengan kemampuan orang tua dan kebutuhan sekolah demi kemajuan pendidikan anak-anaknya. Orang tua harus berusaha untuk menyempatkan waktu mengantar anak ke sekolah maupun menjemputnya, jika memang itu masih memungkinkan disela kesibukan orang tua bekerja. Karena cara ini dapat membuat anak lebih terkontrol dalam pergaulannya dan lebih mendekatkan hubungan orangtua dengan anaknya.
Orang tua harus selalu berkomunikasi dengan anak tentang kegiatannya di luar rumah. Biasakan anak untuk belajar jujur dan terbuka dengan orang tua, tempatkan diri kita bukan hanya sebagai orang tua tetapi sebagai sahabat dan teman untuk berbagi permasalahan yang mereka hadapi. Biasakan anak mengeluarkan pendapatnya tanpa rasa takut, malu dan berdiskusilah dengannya tentang suatu hal, namun tetap dengan mengajarkan etika dan sopan santun sebagai anak terhadap orang tua.
Sebagai orang tua, kepeduliannya terhadap keberhasilan pendidikan anak tidak terlepas dari usaha orang tua untuk tidak selalu menyalahkan anak atas hasil jerih payah anak dalam menempuh pendidikannya. Karena tidak semua anak dapat menunjukkan kemampuan yang cemerlang dalam belajar dengan mendulang prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik, mungkin saja ada anak yang prestasi belajarnya jauh dari harapan orang tua karena hanya sebatas itulah kemampuan anak tersebut. Dalam kondisi inilah, orang tua harus dapat bersikap bijaksana. Tidak semua keinginan orang tua harus diikuti oleh anak, berusaha untuk bijaksana menerima alasan anak saat memiliki keinginan dan cita-cita yang mungkin tidak seperti harapan orang tua. Selalu berikan dorongan dan motivasi agar anak menjadi lebih bersemangat dalam meraih pendidikannya. Tunjukkan bahwa kita sebagai orang tua percaya dengan anak atas kemampuan yang dimiliknya, sehingga dapat memperkokoh kepercayaan diri anak.
Apabila anak melakukan kesalahan jangan menghukum mereka dengan kekerasan yang berlebihan sehingga membuat mereka terluka dan menimbulkan bekas. Orang tua jangan ragu untuk meminta ma’af terhadap anak atas apa yang telah dilakukan dan jelaskan alasan dari sikap dan ketegasan kita terhadap mereka. Jadikan hukuman fisik menjadi pilihan terakhir saat mendidik anak, jika anak memang melakukan kesalahan untuk yang pertama kalinya, maka berilah kesempatan kepadanya untuk menyesali kesalahannya dan meminta maaf atas apa yang ia lakukan. Ada beberapa perkataan baik yang harus dibiasakan pada anak sebagai awal pendidikan yang ditanamkan orang tua terhadap anaknya, misalkan dengan selalu mengingatkan anak untuk mengucapkan “ma’af” saat melakukan kesalahan, mengucapkan “terima kasih” atas kebaikan yang dilakukan orang lain terhadapnya, dan mengucapkan kata “tolong” saat meminta orang lain melakukan sesuatu.
Bagaimanapun keberhasilan pendidikan bukan hanya berkaitan dengan seberapa pintar anak dalam mendapatkan sederetan angka-angka dalam nilai raport atau kertas-kertas ulangannya, dan bukan hanya sekedar seberapa banyak deretan piala yang telah didapat anak atas prestasi juaranya, tetapi keberhasilan seorang anak dalam pendidikannya yang utama harus didukung pula oleh perilaku dan akhlak yang terpuji. Karena pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada anak yang melibatkan seluruh kepribadian anak agar anak berkembang menjadi dewasa, mandiri, mampu bertanggung jawab, objektif, kritis, stabil kehidupan emosinya mempunyai sifat berbudi luhur dalam melaksanakan nilai-nilai luhur kehidupan, sehingga seluruh kepribadiannya merupakan suatu intergritas utuh dan sehat. Melalui orang tua yang memiliki kepedulian terhadap keberhasilan pendidikan anak-anaknya adalah orang tua yang telah menyiapkan generasi emas yang bermutu dan bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (****).

Related posts