Kepala BPS RI Sebut Angka Kemiskinan di Babel Rendah

  • Whatsapp
Sekda Babel, Yan Megawandi berfoto bersama mahasiswa STIS beserta dosen pembimbing usai acara pembukaan di Kantor Gubernur Babel, Selasa (foto/hms)

520 Mahasiswa STIS PKL di Babel
Sekda Harap Didapat Data Akurat Kemiskinan

PANGKALPINANG- Sebanyak 520 mahasiswa/mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik ( STIS) semester enam angkatan ke-56 akan melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama kurang lebih dua Minggu di Provinsi Bangka Belitung ( Babel). Para mahasiswa ini didampingi 77 dosen, menyebar di 140 desa di seluruh kecamatan di Babel, dari 21 Februari hingga 3 Maret.

Kepala Badan Pusat Statistik RI, Suhariyanto mengatakan, Babel dipilih sebagai tempat melakukan PKL karena Babel merupakan provinsi yang ideal, dengan angka kemiskinan rendah, angka IPM yang tinggi, kemudian jumlah kabupaten/kota tidak terlalu banyak.

“Lulusan STIS diharapkan mampu berkontribusi membangun bangsa dan negara, ini aset BPS, setelah lulus, kita sebar ke 34 provinsi 513 kabupaten kota, mereka akan mengumpulkan data statistik berkualitas,” kata Suharyianto pada acara pembukaan PKL STIS di lantai 3 kantor Gubernur Babel, Senin (21/2/2017).

Ia menambahkan, kegiatan PKL ini, merupakan upaya untuk mengimplementasikan apa yang dipelajari ke dalam kehidupan nyata dan mahasiswa diminta untuk merancang mulai dari perencanaan, buat kuesioner, metodologi, cacah olah data dan presentasikan, serta harus dipertanggungjawabkan di depan ahli di level nasional.

Dengan mengambil topik multipurpose survei dan small area estimation, studi kemiskinan dan pemerataan pendapatan di Provinsi Babel, Suhariyanto berharap nantinya data yang dihasilkan mencakup data kemiskinan hingga tingkat desa dan cara pendataan pun memanfaatkan kecanggihan teknologi atau menggunakan gadget.

“Dalam PKL ada tiga unsur baru, survei yang bertujuan ganda, estimasi area kecil, kemiskinan akan ukur dari berbagai sudut pandangan. Kemiskinan selama ini didata penggunakan pengeluaran, tapi nanti akan melakukan pendekatan tujuh model, pekerjaan, kerentanan, pendapatan, pendekatan subjektif dan modal sosial,” jelasnya.

“Sebagai akademisi dan calon ASN harus benar-benar pegang teguh prinsip statistik, harus didasarkan pada kejujuran, jangan lakukan manipulasi data, pada waktu pengukuran dan pengolahan harus dilandasi kejujuran,” pesannya.

Suhariyanto juga mengingatkan, agar ketika berada di Babel, mahasiswa dapat membawa diri, dan bersosialisasi dengan responden.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Babel, Yan Megawandi berharap, melalui praktik kerja lapangan ini, diperoleh data kemiskinan di Provinsi Babel yang spesifik, akurat dan dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah dalam penyusunan kebijakan.

“Kehadiran mahasiswa ini akan meninggalkan kesan, tidak hanya turun di 329 desa, tapi bagi kami birokrasi dalam melihat data, kami akui soal statistik kami harus belajar banyak, menyempurnakan metodologi, bagian kami belajar pahami data, tanpa data dan informasi sempurna tak ada kebijakan yang pas untuk daerah,” ungkap Yan.

Yan menegaskan, dengan salah satu metode yang diterapkan dalam PKL ini adalah melihat kemiskinan dari sosial kapital. Hal ini merupakan penelitian yang jarang, dan akan diterapkan di Babel, sehingga nantinya akan menjadi suatu hal yang luar biasa, akan dihasilkan data yang lebih spesifik.

“Angka kemiskinan di Babel berkisar 4-5 persen saja, tetapi kami ada problem pertumbuhan yang mulai melambat, kemudian angka inflasi, ini masih yang tertinggi di Indonesia. Dengan adanya PKL di Babel ini, kami nantinya akan punya basis data yang cukup bagus kedepan terkait rencana pendataan ini, basis data Babel akan sangat komprehensif,” tambahnya. (nov/10)

Related posts