Kepala Bappeda Sumsel: Masyarakat Kita Bukan Penjahat

  • Whatsapp
Ekowati

Pemprov Babel dan Sumsel Rapat Jembatan Bahtera

Pangkalpinang – Rencana pembangunan jembatan penghubung antara Pulau Bangka dan Pulau Sumatera, masih menjadi perbincangan hangat masyarakat di Provinsi Bangka Belitung (Babel). Banyak yang kontra dan tidak menyetujui rencana pembangunan jembatan penghubung tersebut, karena khawatir tingkat kriminalitas di Provinsi Babel kian marak dengan masuknya warga pendatang dari pulau seberang.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Selatan (Bappeda Sumsel), Ekowati sepertinya belum mengetahui jika di Babel banyak masyarakat yang menghawatirkan akan angka kriminalitas yang ditimbulkan dari warganya di Sumsel jika jembatan penghubung terealisasi.
Saat disinggung Rakyat Pos mengenai hal ini, ia pun balik bertanya masyarakat mana yang menolak rencana pembangunan jembatan ini.

“Masyarakat kita bukan semuanya penjahat ya, masyarakat harus berpikir positif,” tegasnya usai rapat untuk membentuk tim percepatan pembangunan jembatan Bangka Sumatera (Bahtera) bersama jajaran Pemprov Babe, di ruang Tanjung Pendam Kantor Gubernur Babel, Jumat (12/7/2019).

Ia menyebutkan, banyak keuntungan yang akan didapatkan kedua provinsi apabila jalan dan jembatan ini terhubung. Setidaknya akan saling bertukar sumber daya dan konektivitas antar provinsi semakin dekat.
“Kalau dibuka jembatan ini, komoditas yang selama ini sudah masuk ke Babel akan lebih mudah dikirim, biaya logistik menjadi lebih murah, menekan inflasi dan sama-sama menguntungkan,” jelasnya.
Senada dengan Ekowati, Pj Sekda Pemprov Babel, Yulizar Adnan juga menyebutkan, bahwa pembangunan jembatan ini harus melihat sisi positifnya yang lebih banyak.

“Inflasi kita juga akan lebih terjaga, dimana pengiriman kebutuhan yang selama ini melalui kapal, akan lebih cepat dan mudah dengan jalur penghubung ini,” ulasnya.
Sementara untuk angka kriminalitas, ia menegaskan pemerintah daerah tentunya akan bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk melakukan pengawasan dan pengamanan.
Kepala Dinas PUPR Pemprov Babel, Noviar Ishak menilai, pro dan kontra merupakan hal yang biasa terhadap suatu kebijakan yang baru direncanakan.

“Enggak apa-apa, itu biasa, justru saya heran kalau semuanya setuju, memang ada yang setuju dan tidak,” sebutnya.
Ia menegaskan, rencana pembangunan jembatan ini untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kedua provinsi yang jaraknya sebetulnya berdekatan, ditambah selama ini fasilitas penghubung belum maksimal, baik kapal laut maupun kapal terbang.

Jembatan ini, juga membangun jaringan jalan antar pulau yang mempercepat pengembangan ekonomi, penghubung yang gak terkendala cuaca, dan aksesibilitas yang lebih efektif dan efisien.
“Pembangunan jembatan penghubung ini didukung oleh pembangunan jalan trans Bangka, pembangunan tol Kayu Agung-Palembang-Betung, dan kerjasama pembangunan antar provinsi,” bebernya.

Sebelumnya, Bupati Bangka Selatan (Basel) Justiar Noer, juga menyampaikan dukungannya terhadap pembangunan jembatan penghubung ini. Dan ia yakin akan membuka kran investasi di Kabupaten Basel, serta kunjungan wisatawan ke spot wisata akan semakin meningkat.
“Kami akan dukung jembatan, dengan jalan itu nanti tidak hanya ke kebun, tapi pembangunan besar-besaran akan ada di Basel,” sebutnya.

Kesempatan Provinsi Babel yang strategis, sebagai poros maritim dan juga jalur sutera menurutnya harus dimanfaatkan. Apalagi jembatan ini akan terhubung dengan tol trans Sumatera dari Aceh menuju Lampung.
“Jangan ditakuti soal kriminalitas, jembatan Suramadu juga demikian. Tapi lihatlah setelah terealisasi, wisatawan dari Sumsel akan berwisata ke Bangka, sayuran, lainnya akan lebih cepat,” bebernya.
Basel, lanjutnya sudah menyiapkan kawasan industri Sadai dan sekitarnya, untuk mendukung pembangunan di Basel, termasuk apabila jembatan ini terealisasi.

Tim Percepatan Segera Dibentuk
Pj Sekda Pemprov Babel, Yulizar Adnan menyebutkan, Pemprov Babel telah mengadakan pertemuan dengan Pemprov Sumsel yang diwakili oleh Bappeda dan Dishub serta pihak terkait, dan disepakati masing-masing provinsi akan membentuk tim.

“Kami akan membuat tim percepatan pembangunan jembatan dan tim ini akan bekerja segera setelah disahkan,” sebutnya, usai rapat.

Yulizar menegaskan, keberadaan jembatan ini dibutuhkan oleh kedua provinsi untuk mempercepat akses konektivitas, dan juga untuk menjaga inflasi, serta meningkatkan pariwisata Babel.
“Kita harus optimis dapat terwujud, dan melalui tim ini nantinya akan diusulkan masuk dalam proyek strategis nasional,” imbuhnya.

Gubernur Babel, sambung Yulizar, bahkan sudah mendapatkan sinyal dari presiden mengenai pembangunan jembatan ini, ketika gubernur mengutarakan rencana pembangunan jembatan sewaktu junjungan presiden beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, dalam rapat koordinasi gubernur se-Sumatera yang dilaksanakan di Bengkulu, gubernur Babel dan Sumsel juga sudah bertemu membahas rencana jembatan ini dan menandatangani Memorandum of Rafflesia.
Ditemui di tempat yang sama, Kepala Bappeda Sumsel; Ekowati juga mengutarakan keseriusan Sumsel untuk terhubung dengan Babel dengan jembatan sepanjang kurang lebih 13 Km ini.
“Ini aarana konektivitas, memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, Bangka dan Sumsel, ini proyek besar kami sedang mempersiapkan apa yang diperlukan dan mendorong masuk Poyek strategis nasional, dan RPJMN nasional 2019-2024,” sebutnya.

Tahun ini, pihaknya juga akan lebih Intens untuk membahas dan memperhatikan rencana pembangunan jembatan tersebut.

“Kami akan menyusun rencana aksi tahapan yang akan dilakukan,” imbuhnya.
Sementara Kepala Dinas PUPR Pemprov Babel, Noviar Ishak menambahkan, PUPR saat ini dalam tahap pra studi kelayakan jalur penghubung Bangka Sumatera.

“Kami menyusun dokumen pra studi kelayakan sebagai dasar dalam proses kebubakan dan rencana strategis pembangunan jalur penghubung Bangka Sumatera, dengan kajian-kajian dan potensi terhadap rencana proyek ini,” kata Noviar.

Dengan adanya tim percepatan, dan sekretariat kata dia, nantinya akan lebih spesifik tugasnya seperti apa dan mengerjakan apa dalam rencana pembangunan jembatan penghubung tersebut.
Noviar mengatakan, direncanakan ada tiga alternatif pasangan lokasi yang mungkin dikembangkan, baik untuk sisi Pulau Bangka dan sisi Pulau Sumatera.

“Pertama adalah Tanjung Punai (Babar) ke Juru Taro (Banyu Asin) dengan panjang jembatan 22,6 km, kedua adalah Tanjung Pura (Bateng) keSubgai Batang (OKI) dengan panjang jembatan23,1 Km, dan terakhir Sebagin (Basel) ke Tanjung Tapak, OKI dengan panjang jembatan 15,2 km,” bebernya.
Sejauh ini Pra studi ini masih berjalan, dan didukung juga dengan back-up data, termasuk kuisioner yang sudah disebar oleh DPUPR kepada masyarakat.(nov/1)

Related posts