by

Kementan Bikin Kebun Contoh di Payben

MENDOBARAT – Bupati Bangka, Ir. H. Tarmizi Saat menyambut gembira dengan perhatian Badan Litbang Kementrian Pertanian bagi sektor pertanian di Kabupaten Bangka.
Sabtu (21/1/2017) kemarin telah dilakukan penandatanganan MoU antara Pemkab Bangka dan Badan Litbang Kementrian Pertanian untuk membuat kebun contoh.
Ia bersama BPTP dan Dinas Pertanian dalam waktu dekat akan segera membahas kebutuhan kebun contoh baik dari lahan dan anggaran yang akan disiapkan Pemkab Bangka.
“Apa yang dikembangkan oleh Kepala Bagian Litbang ini kami menyambut baik. Kami akan siapkan lahannya segera dalam 2-3 hari ini kami akan rapatkan segera BPTP dan Dinas Pertanian dan saya sendiri dan kita siapkan dananya. Nanti di Desa Paya Benua dan desa di Kecamatan lainnya. Disini cukup antusias petaninya juga baik,”ujar Tarmizi.
Menurutnya di Bangka ini, petani terlebih dahulu harus diberikan contoh hasil yang baik sehingga kedepannya petani pun akan mengikuti langkah mana yang baik untuk meningkatkan produktivitas.
“Jadi kita akan sgera menindaklanjuti. Karena di Bangka ini petani itu akan melihat dulu mana barangnya, mana hasilnya baru mereka percaya. Dan kita akan melaksanakannya,”ujarnya.
Menurutnya teknologi yang akan dikembangkan nanti akan memberikan hasil yang baik apabila ditunjang dengan beberapa faktor seperti bibit unggul dan tahan penyakit, tekhnis budi daya yang baik dan tepat waktu, pengendalian hama pentakit yang tepat waktu, tata cara berbudi daya tanaman sesuai dengan arahan yang diberikan k Kementrian pertanian dan Badan Litbang.
“Saya rasa pasti bisa. Yang penting petani kita disiplin kemudian cara menanam juga disiplin, cara pengendalian penyakitnya, mupuknya tepat waktu dan dosis yang tepat saya rasa akan berhasil di Kabupaten Bangka khususnya di Mendo Barat ini,” jelasnya.
Menurutnya untuk kebun contoh ia memiliki 3 kriteria yang baik yakni tempat yang strategis, PH tanahnya, bibit dan tekhnis budi daya serta para penyuluh pertanian pun selalu ada disitu sehingga mereka bisa membawa petani melalui contohnya.
Menurut Tarmizi, untuk penelitian tidak memiliki batas waktu namun untuk padi hanya membutuhkan waktu 6 bulan. Namun untuk lada menurutnya wajib memiliki waktu yang lama.
“Penelitian saya rasa tidak ada batasnya kalau padi tidak terlalu lama mungkin 6 bulan. Tapi kalau lada perlu waktu, kalo padi kan cepat. Padi ladang yang diterapkan nanti padi ladang yg jenis ini juga tapi yang cepat menghasilkan lebih gemuk beranaknya lebih banyak jadi bulirnya lebih banyak,”ujarnya.
Mengenai kebiasaan petani lokal yang cendrung mengikuti warisan nenek moyangnya dalam bertani, Tarmizi tak mempermasalahkan hal tersebut namun
Apabila ada hasil yang lebih baik ia berharap para petani akan mengikuti cara tersebut.
“Masyarakat kita masih banyak pakai cara lokal. Tidak masalah masyarakat menggunakan padi yang ada. Makanya saya bilang petani ini harus lihat dulu hasilnya seperti apa. Akan kita sosialisasikan ke desa-desa nanti,” tukasnya.(2nd/6)

Comment

BERITA TERBARU