Kementan akan Moratorium Cetak Sawah

  • Whatsapp
Bupati Basel menyerahkan cindera mata kepada Kepala Balai Besar Pengkajian Pengembangan Teknologi Pertanian Kementrian Pertanian RI.(foto: raw).

TOBOALI – Kepala Balai Besar Pengkajian Pengembangan Teknologi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI), Haris Syahbudin menyebutkan, persoalan tata air akan dianggarkan juga melalui Dana Desa di masing-masing desa.

Presiden Jokowi telah menggodok Instruksi Presiden yang menyebutkan akan menganggarkan dana untuk membantu masalah tata air persawahan di desa. Demikian dikatakannya kepada wartawan belum lama ini.

“Instruksi Presiden menyebutkan belanja sarana dan prasarana dipercepat, salah satunya tata air, di level pedesaan. Kementerian Pertanian telah bekerja sama dengan Kemendes, ada uang sekitar Rp22 triliun, Dana Desa masuknya, 1 desa dapat Rp1 miliar. Sekarang desa diminta untuk alokasi anggaran sekitar Rp300 juta untuk membangun tata air. Jadi, sekarang penanganannya sudah di level pedesaan, perhatian pemerintah tidak akan surut, Inpres Pak Jokowi sudah jelas, kerja sama Kementerian Pertanian dan Kemendes sudah dibangun, dan Inpresnya sebentar lagi sudah keluar,” jelas Haris.

Dana sekitar Rp300 juta itu nantinya, kata Haris, akan dibangun dengan sejumlah sarana prasarana tata air seperti embung, dam parit, tata air mikro dan pompa. “Sebenarnya tahun 2017 ini, program itu sudah harus eksekusi, tetapi Inpresnya harus jadi dulu. Kita masih menunggu, drafnya saya sudah terima, kita sudah hitung kebutuhannya sekitar Rp300 juta, secara bertahap air akan ditampung di level pedesaan, tidak keluar kelaut untuk mengantisipasi banjir,” jelasnya.

Cetak sawah Basel sudah mencapai 13.289 hektar lebih. Namun yang baru ditanam padi sawah sebanyak 5.320 hektar, sedangkan sisanya 7.968 hektar belum tergarap, karena tata kelola air.

Haris menyebutkan, saat ini Kementerian Pertanian RI sedang memoratorium program cetak sawah. Untuk di Basel sendiri sedang dievaluasi. “Saya sebagai Penanggung jawab Upaya Khusus, mendorong petani untuk segera memanfaatkan lahan cetak sawah walaupun produktivitasnya masih rendah, baru 1-2 ton. Memang karakter lahan baru seperti itu, pengasaman tinggi, banjir dan lain-lain, tetapi petani jangan putus asa, jangan dibiarkan malah akan menjadi serut dan hutan lagi,” pungkas Haris.

Tahun ini, pembangunan irigasi di Basel mulai dari dana pusat APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten hanya mencapai sekitar Rp25 miliar. Sementara masih terdapat sekitar 8000 hektar sawah di Basel yang harus dibangun tata kelola airnya. (raw/3).

Related posts