by

Kembali Mengingat Apa itu Guru

-Opini-93 views

Oleh : Agustian Deny Ardiansyah, S.Pd
Guru SMP N 2 Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan

Guru, siapa yang tak kenal gelar tersebut? Penulis yakin semua orang pasti mengenalnya, bahkan penduduk langit pun mengenalinya. Ya, karena guru adalah penebar ilmu, kebaikan, dan penjaga generasi. Presiden untuk jadi Presiden harus berguru dengan guru, Gubernur untuk jadi Gubernur harus berguru dengan Guru, Menteri, Bupati, Direktur, Dewan, Kepala Dinas, ASN, hingga Yusuf Baharruddin Habibi manusia tercerdas di negeri ini, menjadi seperti sekarang berkat jasa guru. Iya, guru, yang setiap pagi hadir di kelas mengajar berbagai ilmu.
Tanpa guru entah jadi apa hidup kita, tanpa guru mungkin baca tulis itu ilusi, tanpa guru orang seperti Habibi mungkin tak terlihat, dan tanpa guru mungkin negeri ini tak serupa sekarang, karena guru adalah jantung dari segala jantung generasi, tak lekang, tak tergantikan walau telah samapi di liang lahat jasa itu tak pernah pudar, layu, atau mati, malah terus tumbuh berkembang bahkan menjadi inspirasi, tak hilang dan menjadi jariah bagi si guru.
Hebat, luar biasa tepatnya, karena guru adalah peracik cipta, rasa, dan karsa -budaya- untuk setiap orang yang dididik dan diajarnya sehingga kemudian menghantarkan cita-cita tertinggi untuk “mencerdasakan kehidupan bangsa”. Guru itu ya guru, bukan guru ASN/PNS/P3K atau guru honor -honorer- atau guru swasta, tidak ada bedanya, semua sama, orang yang mengajar atau mendidik adalah guru, coba saja lihat padanan bahasa India tentang guru, suci, mulia, dan terhormat.
Tidak ada tingkatan bagi guru, sama dan menyetarakan. Tapi aneh tak banyak orang mengenal guru, tak banyak yang tau tentang guru, atau tak mau tau tentang guru, padahal Penulis merasa mereka sangat dekat dengan guru. Bagaimana tidak, PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA, PTN/PTS semua bersinggungan dengan guru, merasakan getarannya, dan merasakan manfaatnya, tidak terbantahkan dan pasti.
Aneh, tak merasa atau kurang merasa atau kaget dengan rasa karena tak terasa. Getaran yang harusnya dekat tersebut terasa jauh, padahal generasi setelah meraka juga harus mengulang siklus yang sama untuk menjadi manusia yang puya cipta, rasa, dan karsa -berbudaya- bersama guru. Bahkan setiap pagi ketika kita mengantarkan generasi penerus menuju lumbung ilmu ada guru yang mengulurkan tanganya untuk menyabut kedatanganya. Guru mutiara tak bernilai dan siswa genarasi dari hasil cipta, rasa, dan karsa, budaya seorang guru, maestro kehidupan pecipta segala rupa kepemimpinan. Maka, selayaknya guru menjadi prioritas utama sebelum prioritas ke 2 atau ke 3, atau jangan-jangan tidak diprioritaskan sama sekali.
Kaisar Jepang Hirohito, setelah segala hal yang melanda negerinya, tepatnya 6 dan 9 Agustus 45, Nuklir menghujani tanah Hirosima dan Nagasaki hingga hancur luluh lantah tak tersisa serta menandai awal kemerdekaan bangsa kita. Prioritaskan Kaisar Hirohito bukan bagaimana membangun kembali, bukan bagaimana menyusun kembali, tapi masih berapa guru yang tersisa, masih berapa nilai-nilai penyambung generasi yang masih bernafas, dan akhirnya pada hari ini kita melihat Jepang lebih superior dan berkualitas, bukan hanya pada infrastruktur, teknologi dan informasi, namun juga pada pengembangan Sumber Daya Manusianya.
Bahkan negara-negara yang dulu meminta kita untuk mendatangkan guru-guru kita ke negara mereka, sekarang kita yang mengagung-agungkan pendidikan mereka, dan tak jarang kita yang harus kesana untuk hanya sekeder belajar etika dan moral mengajar. Ini menunjukan kita mengalami kemandekan, keajegan dalam bahasa lebih keren stagnan atau kita telah lupa dimana guru harus ditempatkan.
Guru itu bukan hanya pembuat administrasi, pemenuh jam belajar, atau pembuat nilai peserta didik. Lebih dari itu, mereka pejuang, mujahid, dan perakit produk berfikir untuk bermanfaat bagi seluruh umat. Maka guru itu tidak tergantikan, harus diprioritaskan, dan dinomor satukan, bukan hanya guru ASN/PNS/ P3K, tapi semua guru, baik guru honor, honorer dan guru swasata, karena beban mereka sama, tidak berbeda, pengajar moral, etika, dan ilmu.
Bila kita masih menemui seorang pengetik dan pemotong rumput lebih dari seorang guru, mungkin benar kita masih disini, di tempat yang mungkin benar telah salah menempatkaan dimana guru benar-benar harus berada. Jadi, bangunlah dan kembali mengingat-ingat apa itu guru? Dimana mereka harus ditempatkan! Serta bagaimana memperlakukan mereka. Guru adalah penyambung generasi penerus bangsa dan tanpa guru kita tiada. Terimakasih guru. (***).

Comment

BERITA TERBARU