by

Keluarga Hendi tak Terima Pernyataan Redi Wijaya

-NEWS-3,487 views
Isteri korban pengeroyokan desa Kurau, Diana, didampingi keluarganya mendatangi Redaksi Rakyat Pos, tadi malam. (foto: Red)

Buntut Perkelahian Berdarah Kurau

Pangkalpinang – Keluarga Hendy bersama dua korban pengeroyokan, membantah keras pernyataan kakak para pelaku bernama Redi Wijaya di media seolah menjadi korban berdarah di seputaran SPBU Desa Kurau Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (17/3) lalu.
Diantar kerabatnya tadi malam, tepatnya Selasa (19/3) isteri Hendy bernama Diana (28), bersama saksi korban di tempat kejadian perkara Septian (27), Sudi (28) mendatangi Redaksi Rakyat Pos.
Mereka menceritakan kronologis awal mula terjadinya perkelahihan yang nyaris merenggut nyawa Hendy yang dilakukan empat pelaku Reky (38), Risky (27), Rexi (25), Gorna.
“Betul saya yang memposting salah satu pengeroyokan yang hampir merenggut nyawa suami saya di media sosial. Mereka (para pelaku-red) seolah mau memutar balikkan fakta, ditambah lagi ada tudingan negatif lainnya kepada suami Saya,” sesal Diana kepada Rakyat Pos.
Wanita berhijab ini sesekali menarik nafas panjang saat mengingat kondisi suaminya Hendy yang baru saja melewati masa kritis di RSUD Depati Hamzah. Baginya, ini merupakan cobaan, dan ada upaya fitnah penggiringan opini yang dilakukan keluarga pelaku untuk menutupi kesalahannya.
“Dia (Redi-red) bilang adiknya mengalami luka 30 hingga 40 jahitan, coba bandingkan dengan kondisi suami saya yang mengalami ratusan jahitan, dan sekarang masih terbaring lemah di rumah sakit,” sesalnya.
Akibat perkelahian, pasca operasi yang harus dijalani suaminya, Diana memperlihatkan luka yang dialami suaminya melalui HP. Yakni dua bekas jahitan bagian kepala, bahu kiri, kaki kanan-kiri, jahitan bekas tusukan pada bagian samping kanan perut hingga tembus usus, perut bagian kiri yang mengenai liver, serta dua luka bagian punggung.
“Alhamdulillah berkat bantuan Allah SWT, dan penanganan cepat dari pihak rumah sakit. Sehari masuk ICU pasca operasi, Minggunya suami Saya sudah dipindah ke ruangan, kondisinya mulai membaik meskipun belum banyak beraktivitas,” terangnya.
Terkait musibah yang menimpa suaminya itu, Diana berharap keadilan akan berpihak kepadanya. Ia bersama keluarga yakin betul pihak kepolisian tetap akan bertindak profesional guna mengusut tuntas dan menghukum para pelaku dengan sadisnya mengoyok suaminya dengan senjata tajam.
“Pasca kejadian, ada pihak kepolisian dari Polsek Koba menjenguk dan memastikan kondisi suami Saya di rumah sakit, bahkan dari Polda Babel pun ada yang datang mengambil gambar (foto) suami Saya. Intinya Saya meminta keadilan, dan berdoa dua pelaku yang masih buron cepat ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan, serta mendaptkan hukuman setimpal di pengadilan nanti,” harapnya.

Rexi cs Bawa Sajam

Bantahan serupa disampaikan saksi korban bernama Septian (27) yang mengetahui persis pemicu perkelihan berdarah di SPBU kurau. Menurutnya pagi itu ia sempat menegur Rexy terkait antrian kendaraan yang hendak ‘Ngerit’ di SPBU Desa Kurau.
“Waktu itu Saya bilang sama Rexy alias Ade kalau mau ‘Ngerit’ jangan tiga motor langsung dimasuk, satu saja aja kalau mau isi. Dan waktu itu Saya bicara baik-baik, tidak ada tanda-tanda dia marah hanya diam saja waktu Saya bicara,” kata Septian.
Tak lama berselang, tiba-tiba Risky datang menghampirinya, seolah ucapannya kepada Reki, dirinya melarang motor pelaku masuk area SPBU untuk isi BBM.
” Waktu saya duduk, Risky menghampiri Saya. Dia bilang, ka ngumong apa ke Adekku (Reky-red) tadi, nape Dak nyuruh kami masuk, ka dak usah lagi ngatur-ngatur disini,” kata Septian menirukan ucapan Risky.
Masih kata Septian, tiba – tiba datang dari arah gerbang SPBU Rexi dengan membawa sebilah pedang berkata “Mulai-Mulai”, sambil mendekati Sudi dan Abot (korban lainnya). Sedangkan dirinya masih sempat ngobrol dengan Reky sambil melihat Risky yang tengah menahan amarahnya.

” Saya panggil lagi Reky alias ade. Saya tanya sama Ade apa yang kamu (Reky-red) bilang sama Risky. koq ada bahasa Saya larang motor kalian masuk, padahal saya kan tidak bilang seperti itu,” tutur Septian.

Selanjutnya bukan jawaban yang diterima Septian. Rupanya Reky membagi-bagi semacam senjata tajam ke Risky. Tak lama kemudian datanglah Hendy, menanyakan permasalahan yang timbul hingga terjadi perdebatan panas.

” Saat terjadi perdebatan panas Reky mengayunkan senjata tajam seperti kode yang sempat ditahan Abot. Sekilas Saya lihat Rexi dan Gona mengeroyok Hendi yang berupaya membela diri dengan sebatang kayu. Nah Saya sendiri waktu itu diserang Riski yang membawa parang, lalu berbalik kearah Hendy yang sudah terkapar dengan hujaman senjata tajam dari para pelaku (Rexi,Rexy,Gorna,Risky),” paparnya seraya memperlihatkan luka yang dialami akibat terkena sajam Risky.

Setelah melihat Hendy yang sempat melarikan diri dengan luka parahnya, para pelaku berbalik hendak menyerang dirinya dan Abot. Saat itulah Rexi hendak menebasnya dengan pedang, ia pun berlindung dibalik tubuh Risky yang berupaya untuk menyerang dirinya.
“Saya pun nyaris kena tebasan pedang. Itu berawal saat saya dan Risky saling berebutan sajam hingga terlepas, lalu Rexi datang mengayun pedang ke arah Saya, untuk Sayang bisa mengelak,” kata Septian seraya memperlihatkan luka sayatan pada bagian lengan tangannya.
“Waktu itu saya melihat para pelaku mulai meninggalkan area SPBU, dan Saya pun langsung menuju ke arah Hendy yang sudah terkapar dengan penuh banyak luka mencari bantuan dengan menyetop kendaraan dengan Sudi untuk dibawa ke Rumah Sakit,” tambahnya.
Sementara itu salah satu saksi mata yang dekat dengan TKP, Sudi turut membantah pernyataan salah satu keluarga pelaku dirinya membawa sajam. Sebaliknya, waktu itu ia melihat Rexi dengan membawa pedang mendekatinya dan menegur dirinya agar tidak datang ke kios lagi (SPBU-red).
“Rexi dengan nada tinggi sempat menegur Saya kenapa harus berkawan dengan orang ni (Septian-red). Lalu saya dibawa keluar area SPBU dan berselisih paham,” paparnya.
Tak lama kemudian Hendy datang dan menanyakan permasalahan yang timbul, namun djawab oleh Rexi dengan mencabut pedang, dan nampak Reky memegang pisau, Gona pegang parang langsung menyerang Hendy.
“Kayu yang diambil Hendy itu saat dikeroyok tiga pelaku (Rexi,Rexy,Gona). Saat Hendy jatuh, para pelaku terus mengarahkan sajamnya. Hendy waktu itu sempat lari dengan memegang kepalanya yang berdarah ke arah seberang jalan lalu terbaring dengan banyak luka dirumput-rumput samping jalan. Saya dan Septian cari pertolongan dengan menstop kendaraan lewat hingga membawa Hendy ke rumah sakit”‘ terangnya.
Sementara itu adik Hendy bernama Iswandi (36) mengutuk keras perbuatan yang dilakukan Rexi dan adik-adiknya itu nyaris menghilangkan nyawa kakaknya. Ia sependapat dengan kakak iparnya (Diana-red) dengan harapan dua pelaku lainnya cepat tertangkap, diusut sesuai hukum yang berlaku, dan dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.
“Kejadian ini hampir merenggut nyawa kakak Saya waktu itu. Saya minta pelaku nanti dihukum seberat-beratnya, walaupun kami sendiri tidak tahu keadaan Hendi kedepan dengan luka yang dialaminya cukup berat. Tak ada kata lain hukum berat para pelaku,” tukasnya (rev/7).

Comment

BERITA TERBARU