by

Kelompok Kerja Guru Wadah Berkarya dan Berinovasi

-Opini-79 views

Oleh: Dra. Robiati, S.Pd
Guru Sekolah Dasar Negeri 3 Sungailiat/Ketua KKG Gugus II Kenanga, Sungailiat

Rembuk Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019 yang berlangsung di Jawa Barat menyepakati banyak hal untuk segera dijalankan oleh Pemerintah, baik di pusat maupun Pemerintah Daerah seperti penataan guru, zonasi, dan revitalisasi pendidikan vokasi. Terkait penataan guru, kesepakatan yang diambil dalam diskusi yaitu tercapainnya standar kompetensi guru dan ambang batasnya tidak diturunkan. Untuk itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Supriona menjelaskan, agar guru mencapai target indikator Kompetensi guru meliputi pengetahuan (profesional), keterampilan (pedagogik), sikap (sosial), tanggung jawab (kepribadian), maka perlu adanya aksi nyata dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dengan meningkatkan kwalitas dan kwantitas pertemuan dari Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) serta Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

Karena tuntutan zaman yang semakin meningkat dalam rangka menuju zaman milenial, guru diharapkan memiliki kompetensi yang mumpuni guna menunjang kinerjanya dalam pelaksanaan pembelajaran, pengajaran evaluasi pembelajaran serta pengembangan peserta didik dalam pendidikan. Guru adalah orang pertama yang akan memberikan pendidikan secara formal pada anak-anak. Selain itu, guru merupakan pendidik profesioal, dikarenakan seorang guru memperoleh surat keputusan (SK) dari pemerintah untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan di sekolah. Guru sebagai seorang pendidik memiliki kewajiban untuk menguasai semua aspek kompetensi, baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Dari keempat kompetensi tersebut, tidak hanya harus dimiliki, melainkan harus ditingkatkan. Salah satu upaya peningkatan kompetensi tersebut, guru bergabung pada kegiatan kelompok kerja guru dalam satu gugus.
Keberadaan KKG sebagai wadah atau forum profesional guru di sekolah memegang peranan penting dan strategis untuk meningkatkan kompetensi guru, sehingga guru lebih profesional. Melalui revitalisasi dan pemberdayaan KKG diharapkan permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru di kelas dapat terpecahkan, sehingga proses pembelajaran lebih efektif, bermutu, dan dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Berdasarkan pengertiannya, Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah forum yang digunakan sebagai komunikasi Guru Sekolah Dasar dalam usaha pembinaan dan mengembangkan profesionalitas guru untuk meningkatkan mutu pendidikan. Landasan dari pembentukan KKG adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru anggota Forum KKG. Selanjutnya, KKG adalah wadah pembinaan profesional guru SD yang tergabung dalam gugus sekolah dengan Ruang lingkup membahas masalah-masalah seperti: (1) Pemecahan masalah pembelajaran; (2) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan kesulitan belajar peserta didik; (3) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan orang tua peserta didik; (4) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan komite sekolah; (5) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan masyarakat; (6) Pemecahan masalah yang dihadapai guru terutama dalam pengembangan kurikulim tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau kurikulum K-13, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); (7) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan standar proses; (8) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan materi simulasi; (9) Pemecahan maslah Sistem Informasi Manajemen (SIM) sekolah yang berkaitan dengan penyampaian informasi penting untuk diketahui guru dan tenaga kependidikan lainnya; (10) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan penyusunan materi pembelajaran secara rinci; (11) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan pendekatan dan metode pembelajaran yang efektif (PAIKEM); (12) Pemecahan masalah yang berkaitan dengan evaluasi pembelajaran.

Tujuan KKG adalah sebagai berikut: (1) Memperluas wawasan dan pengetahuan guru dalam berbagai hal, khususnya penguasaan substansi materi pembelajaran, penyusunan silabus, penyususnan bahan-bahan ajar strategi pembelajaran, metode pembelajaran, memaksimalkan pemakaian sarana prasarana belajar, memanfatakan sumber belajar, dan bertukar pengalaman mengajar; (2) Memberi kesempatan kepada anggota kelompok kerja untuk berbagi pengalaman serta saling memberi bantuan umpan balik; (3) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, serta mengadopsi pendekatan pembaharuan dalam pembelajaran yang lebih professional bagi peserta kelompok kerja; (4) Memberdayakan dan membantu anggota kelompok kerja dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran disekolah; (5) Mengubah budaya kerja anggota kelompok kerja (meningkatkan pengetahuan, kompetensi, dan kinerja) dan mengembangkan profesionalisme guru melalui kegiatan-kegiatan pengembangan profesionalitas ditingkat KKG.

Berdasarkan fungsinya, KKG meliputi: (1) Fungsi silaturrahmi, yaitu wadah bertemunya guru-guru SD/ MI disetiap gugus dan Kecamatan; (2) Fungsi informasi, yaitu KKG menyediakan berbagai informasi kedinasan yang dibutuhkan anggotanya; (3) Fungsi produksi, yaitu KKG mampu menyediakan kebutuhan pembelajaran bagi anggotanya; (4) Fungsi Pengembangan profesi, yaitu KKG bisa memfasilitasi dan memberikan bimbingan kepada anggotanya dalam pengembangan profesi guru. Misalnya, kenaikan pangkat, angka kredit yang dibutuhkan, melakukan pendampingan dalam penulisan karya ilmiah/ PTK.

Secara rinci, kompetensi guru tersebut menurut beberapa ahli dapat dijelaskan sebagai berikut : Pertama, Komponen Pengetahuan (Profesional), kemampuan dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi. Dalam kompetensi ini, seorang guru hendaknya mampu untuk: (1) Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang di tempuh; (2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang ditempuh; (3) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif; (4) Mengembangkan keprofesionalitasannya secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif; dan (5) Memanfaatkan tehnologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Kedua, Komponen Sikap (Sosial), meliputi kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya secara efektif, dengan rincian: (1) Berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik; (2) Berkomunikasi secara efektif dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/ wali murid; (3) Berkomunikasi secara efektif dengan masyarakat dan lingkungan hidup sekitarnya; dan (4) Mampu memahami dan mengembangkan jaringan kerja.

Ketiga, Komponen Tanggung Jawab (Kepribadian), kompetensi kepribadian yang harus dimiliki seorang guru, meliputi: (1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa; (2) Percaya diri; (3) Tenggang rasa dan toleran; (4) Bersikap terbuka dan demokratis; (5) Sabar dalam menjalankan profesi keguruannya; (6) Mengembangkan diri bagi kemajuan profesinya; (7) Memahami tujuan pendidikan; (8) Mampu menjalin hubungan insan; (9) Memahami kelebihan dan kekurangan diri; dan (10) Kreatif dan inovatif dalam berkarya.

Keempat, Kompetensi Pedagogik, kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (2) Pemahaman tentang peserta didik; (3) Pengembangan kurikulum/silabus; (4) Perancangan pembelajaran; (5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (6) Evaluasi hasil belajar; dan (7) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Guna mewujudkan kompetensi guru tersebut, beberapa program atau kegiatan telah dilaksanakan oleh KKG Gugus II Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, dari tahun 2013 sesuai dengan “Standar Proses” (Permendikbud No. 65 tahun 2013) dengan Visi, Mewujudkan Guru Profesional dan Berahklak Mulia, dimana misi yang akan dilaksanakan yaitu: (1) Memelihara hubungan kerja sama antara SD Inti dan SD Imbas; (2) Mengutamakan rasa kekeluargaan dan kebersamaan sesama anggota; (3) Menyelenggarakan KBM dengan Pembelajaran Aktif , Kreatif, Efektif dan Menyenangkan ( PAKEM); (4) Mengembangkan sekolah yang berwawasan lingkungan sehat dan berprestasi. Dengan tujuan yang ingin dicapai, diantaranya, (a) Peningkatan mutu guru yang profesional; (b) Berupaya meningkatkan kinerja gugus; (c) Meningkatkan pelayanan guru terhadap siswa; (d) Memberi pelayanan atau informasi terhadap orang tua siswa; (e) Peningkatan kerjasama guru antar anggota gugus; dan (f) Peningkatan prestasi siswa antar anggota gugus.

Secara umum Program atau Kegiatan Kelompok dibagi menjadi: Pertama, Program Rutin, terdiri dari (1), Penyusunan RPP; (2) Penyusunan Program Tahunan; (3) Penyusunan Program Semester; (4) Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal; (5) Penyusunan Kisi-kisi Soal, Soal, Editing Soal Semester; dan (6) Penyusunan Soal-soal Tryout Ujian Nasional. Kedua, Program Pengembangan, berupa: (1) Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah; (2) Pelatihan Guru Pembina Olimpiade MIPA; (3) Mengadakan pertukaran Guru PAI pada PHBI sebagai penceramah; (4) Pertandingan Olahraga Persahabatan bersama akhir Semester; dan (5) Persami dan Penjelajahan bersama se Gugus II Kenanga.

Jadi, dapat disimpulkan, secara umum kegiatan – kegiatan tersebut di atas, Pertama, sebagai tempat pembahasan dan pemecahan masalah bagi para guru yang mengalami kesulitan dalam kegiatan pembelajaran. Kedua, sebagai wadah kegiatan para guru yang tergabung dalam satu gugus yang ingin meningkatkan profesionalnya secara bersama-sama. Ketiga, sebagai tempat penyebaran informasi pembelajaran pendidikan khususnya yang berkaitan dengan usaha peningkatan hasil belajar. Keempat, sebagai pusat kegiatan praktek pembuatan alat peraga, penggunaan perpustakaan serta perolehan berbagai ketrampilan mengajar maupun pengembangan adminsitrasi kelas. Dan yang lebih khusus lagi, Kelompok Kerja Guru merupakan wadah berkarya dan berinovasi para Guru.(***).

Comment

BERITA TERBARU