KDRT dan Perkosaan Tinggi di Babel

  • Whatsapp

Basel “Malu” Lapor Data Kasus

PANGKALPINANG – Sungguh tak diduga, ternyata banyak warga di Babel berperilaku moral tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku di masyarakat.
Data yang dihimpun Rakyat Pos, tingkat kriminalitas kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan perkosaan di provinsi Bangka Belitung (Babel) pada tahun 2016 terbilang tinggi dan mendominasi kategori kasus tindak pidana kekerasan.
Kasus ini, banyak terjadi di Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, dan Kabupaten Bangka Barat (Babar).
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Pemprov Babel, Hendra Kusumajaya menyebutkan, untuk kasus baru yang terjadi 202 kasus, kasus KDTR pada tahun 2016 tercatat 90 kasus, perkosaan 58 kasus, pencabulan 64 kasus, trafiking 1 kasus, lainnya 49 kasus.
“Di Babar terjadi peningkatan kasus yang signifikan, ini membutuhkan penanganan serius, harus dilaporkan ke kepala daerahnya, agar bisa diambil langkah-langkah dan kebijakan,” tegas Hendra.
Untuk di Babar, kasus baru di 2015 tercatat 8 kasus dan 2016 menjadi 46 kasus, untuk kasus KRDT pada tahun 2015 tercatat 5 kasus, meningkat tajam di 2016 menjadi 19 kasus, perkosaan dari 3 kasus di 2015 menjadi 13 kasus di tahun 2016, sedangkan pencabulan di 2016 menjadi 6 kasus.
Hendra menuturkan, kabupaten Bangka tercatat kasus baru 28 kasus pada tahun 2015 dan meningkat menjadi 66 kasus pada 2016, KDRT pada tahun 2015 15 kasus dan pada 2016 meningkat menjadi 25 kasus, perkosaan 8 kasus meningkat menjadi 11 kasus pada 2016, pencabulan pada 2016 9 kasus, penelantaran pada 2015 2 kasus, dan traficking pada 2015 3 kasus menurun pada 2016 menjadi 1 kasus.
Kota Pangkalpinang, sambungnya, kasus baru pada 2015 tercatat 40 kasus dan meningkat pada 2016 menjadi 63 kasus, KDRT pada 2015 25 kasus meningkat di 2016 menjadi 34 kasus, perkosaan 13 kasus di 2015 meningkat menjadi 25 kasus pada 2016, pencabulan 1 kasus meningkat menjadi 2 kasus, dan lainnya dari 1 kasus menjadi 2 kasus.
“Untuk Bangka Tengah (Bateng) mengalami penurunan kasus, kasus baru dari 20 kasus di 2015 menjadi 17 kasus di 2016, KDRT dari 10 kasus menjadi 4 kasus di 2016, peprkosaan stagnan 3 kasus, pencabulan dari 3 kasus meningkat menjadi 6 kasus di 2016, penelantaran pada 2015 4 kasus, keseluruhan mengalami penurunan,” ujarnya.
Mantan Kepala Badan Diklat ini menyayangkan, kabupaten Basel tidak mengirimkan data.
“Basel ini gak tau kenapa kosong, tidak melapor, susah sekali minta data dari Basel ini, kami minta agar kedepan Basel ini lebih aktif mengirimkan data,” pintanya.
Ia berharap, pada tahun 2017 ini, angka kekerasan bisa menurun dengan berbagai upaya dan kebijakan yang dilaksanakan oleh kabupaten/kota.
“Upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini dan semaksimal mungkin, membutuhkan kebijakan pemerintah dan juga sinergi bersama masyarakat, aparat pemerintahan di desa dan lainnya yang harus saling berkoordinasi dan bersinergi,” pintanya. (nov/6)

Related posts