Kawin Massal Desa Serdang Potensi Wisata Nasional

  • Whatsapp

TOBOALI – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan (Basel) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama dengan Pemerintah Desa Serdang, Kecamatan Toboali kembali menggelar Ritual Adat Pengantin Massal atau Nganten Heredek pada Minggu (27/10/2019) di Desa Serdang, Kecamatan Toboali. Ritual Adat Nikah Massal yang sudah berlangsung sejak tahun 1935 merupakan salah satu agenda budaya Kabupaten Bangka Selatan. Tahun ini sebanyak 8 pasang pengantin mengikuti acara budaya ini.

Gubernur Babel, Erzaldi Rosman yang diwakili Asisten Ekbang Yanuar mengucapkan selamat kepada para pengantin yang resmi menempuh hidup baru bersama pasangannya masing-masing. Pemerintah Provinsi Babel, katanya, terus mendukung upaya Pemkab Basel mengangkat pariwisata dan budaya salah satunya budaya pengantin massal.

Keberadaan ritual adat pengantin massal sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan karena mengandung nilai-nilai filosofi dan penguatan karakter sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di kancah dunia. Konsep kawin massal harus lebih terbuka untuk masyarakat lain walau beda agama dan etnis.

“Harus ada semangat membantu masyarakat yang kesulitan dalam pernikahan, dengan begitu peserta kawin massal lebih banyak dan meriah, menarik wisatawan kita harus menyiapkan home stay, paket wisata, publikasi media, saya yakni kampong serdang bisa mendunia, asalkan disiapkan secara matang, kampong serdang merupakan potensi ekonomi bagi masyarakat, mari sama sama kita kembangkan,” jelas Yanuar.

Bupati Basel, Justiar Noer mengatakan Pemkab Basel sangat mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bentuk upaya dalam melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional. Dia berharap agar ritual budaya pengantin massal di Desa Serdang tersebut dapat terus dilestarikan sebagai salah satu kearifan budaya lokal yang merupakan modal untuk memperkuat pengembangan pariwisata daerah.

Sementara itu, Kepala Desa Serdang Apendi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung kegiatan tersebut sehingga berjalan dengan lancar.

Kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan arakan teluk serujo, payung lilin, tari adat, arak-arakan pengantin, drumband dan hiburan band lokal. Turut hadir, Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD Basel, Kapolres Basel serta Ketua TP PKK Basel.

Asal Usul Pengantin Massal Desa Serdang

Pada tahun 1935 pengantin massal sudah dilaksanakan oleh orangtua dahulu sebelum pernikahan massal dilaksanakan. Tokoh adat memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengumpulkan beras sebanyak satu (1) batil (3 kaleng susu-red) dan uang sukarela.

Selain itu, orang tua pengantin memberikan beberapa kue yang dibuat oleh orangtua tersebut. Setelah semua barang yang diminta oleh tokoh adat itu tersedia, pada hari berikutnya tepatnya dua hari sebelum pelaksanaan hari-H, tokoh adat akan melaksanakan ritual bebanten/syukuran. Ritual ini bertujuan menjaga keamanan dan keselamatan khususnya masyarakat yang hadir pada acara tersebut.

Prosesi Ritual Pengantin Massal Cara Ritual Bebanten:

Pertama-tama, tokoh adat menyalakan lilin di tiga lokasi yang berbeda pada zaman dahulu. Namun saat ini, dilaksanakan di rumah ketua adat dengan syarat tanah yang berasal dari selatan, tengah dan utara harus dibawa ke rumah tokoh adat untuk dilaksanakan ritual.

Selanjutnya ketua adat menaburkan air jeruk nipis menggunakan daun krenuse yang dicampur dengan beras kuning dari ujung kampung ke ujung kampung lainnya pada jam 12 malam untuk keselamatan pengantin khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Penyerahan sesajen bebanten dilaksanakan diluar lokasi perumahan. Tetapi zaman sekarang, dilaksanakan di rumah ketua adat karena jumlah rumah saat ini sudah terlalu banyak.

Alat-alat untuk ritual adat diantaranya tiga ekor ayam panggang, nasi ketan kuning, dan kue yang diberikan oleh orang tua pengantin. Saat itu kue yang diberikan oleh orang tua diantaranya Sagak (ubi yang diparut), Aruk (ubi yang direndam di dalam air), dan Empeng (padi/gabah yang direndam lalu digoreng dan ditumbuk).

Untuk hiburan digunakan alat musik yang dinamakan BLAS atau nama yang sekarang dinamakan terompet. Dengan alat inilah para pengantin didatangi ke rumah masing-masing untuk dikumpulkan ke tempat yang ditentukan melaksanakan akad nikah.

Di siang harinya mereka berkumpul di rumah gegadeng atau kepala desa. Untuk melaksanakan ritual adat oleh ketua adat dengan cara menaburkan air kelapa muda dicampur bunga tujuh rupa kepada para pengantin serta para undangan lainnya yang hadir pada saat itu.

Tujuan dari hal ini adalah agar para pengantin bisa hidup rukun, damai, serta kekal dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Selain itu juga, hal ini sebagai rasa syukur atas panen yang melimpah.

Setelah menebarkan air kelapa muda, ketua adat memberikan 3 butir lada pada masing-masing pengantin untuk dimakan agar para pengantin diberi kekuatan dalam melaksanakan ritual arak-arakan serta dilindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah itu, dimulailah acara arak-arakan dari tempat berkumpul ke ujung kampung dengan diiringi BLAS atau terompet.

Di perjalanan para pengantin ditaburi dengan beras kuning oleh warga dengan harapan dapat menjadi keluarga yang berbahagia. Pada malam harinya, di rumah pengantin disediakan hidangan untuk para tamu, baik kerabat dekat maupun masyarakat. Kekompakan masyarakat pada saat itu sangat luar biasa. Dari kampung ke kampung sangat kompak. (raw/10)

Related posts