by

Kado dari Langit

Karya: Rusmin

Entah mengapa, malam ini Surya tidak bisa memejamkan matanya. Padahal malam sudah makin melarut dalam sublim kehidupan yang makin tak berirama. Musim mulai susah diperkirakan. Kemarau tiba-tiba menjadi musim penghujan. Demikian pula dengan perilaku penghuni bumi, makin sulit diprediksi. Harta dan kekuasaan menjadi panglima untuk dihormati sesama manusia dan menghina sesama manusia lainnya. Seolah-olah dengan harta dan kekuasaan orang semakin mudah merendahkan martabat sesama manusia.
Lelaki itu sama sekali tak menyangka hidupnya akan berakhir demikian. lelaki yang dulu dikenal sebagai pengusaha dan orang terpandang di Kotanya kini harus berdiam diri disebuah rumah gubug yang jauh dari pemukiman penduduk Kampung.
Surya sama sekali tak menyangka di masa tuanya skenario hidup menderita harus dijalaninya, Tapi sebagai manusia dia masih bersyukur memiliki rumah gubug yang dulunya rumah bekas anaknya buahnya yang baik hati sehingga ikhlas memberinya sebuah rumah untuk didiaminya. Berkat kebaikan hati anak buahnya lah dia terlepas tidur dikolong jembatan Kota.
Dan bekas anak buahnya masih menjenguknya setiap tiga bulan sekali untuk sekedar membawa oleh-oleh dan makanan kesukaannya untuk disantapnya. Demikian pula dengan beberapa teman baiknya, terkadang masih datang untuk melihatnya. Kedatangan teman-temannya merupakan kado yang amat dirinduinya kini. Padahal dulunya mereka, teman-temannya itu selalu diacuhkannya, bahkan terkesan diremehkannya sebagai sesama manusia.
Setiap teman-temannya datang ke rumah atau ke kantornya yang megah di kawasan elite Kota , Surya selalu memandang mereka dengan sinis dan terkadang enggan untuk menemui mereka dengan alasan mereka pasti meminta bantuan kepadanya.
“Orang kalau datang kepada saya, selalu minta bantuan. Dalihnya bermacam-macam. Anak sakitlah. Ini lah. Itu lah. Ada saja dalihnya. Memangnya mereka pikir aku berjaya seperti sekarang berkat mereka,” ujarnya dengan nada suara penuh tanya berbalut rasa congkak.
Lelaki setengah tua ini kembali melirik jam yang tergantung di kamarnya. Jam satu satunya yang ada di rumahnya itu sengaja dia taruh di kamarnya mengingat jam itu pemberian teman baiknya kandidat Dewan yang didukungnya pada waktu pemilhan legislatif tahun lalu. Wajah calon Dewan itu tersenyum lebar. Seolah menawarkan harapan kepada sang penerima bantuan jam itu. Dan setiap melihat jam itu, Surya selalu tersenyum. Seakan-akan foto temannya yang ada dalam bingkai jam itu menjadi satu-satunya hiburan bagi dirinya untuk mengingat masa lalunya usai melepaskan kepenatan hidup yang makin ganas di bumi yang makin tua ini.
“Sudah larut malam,” ujarnya dengan nada suara berdesis.
Surya tiba-tiba teringat dengan pesan seorang temannya yang kini telah menjauh dari hingar bingar dunia. Temannya sudah mendekat kepada Sang Maha Pencipta. Pesan temannya masih terngiang-ngiang di otaknya yang cerdas.
“Bila engkau mau tidur, akan terasa nikmat bila engkau berwudhu dahulu,” pesan temannya.
“Apa manfaatnya kita wudhu sebelum tidur,” tanya Surya dengan nada suara keheranan.
Temannya tidak menjawab. Hanya sebuah senyum yang diterimanya sebagai balasan atas pertanyaannya. Dan sebuah pertanyaan kembali dia layangkan kepada temannya sebelum sohib baiknya itu meninggalkan rumahnya.
“Apakah masih ada pintu tobat untukku,” tanyanya lagi.
“Pintu tobat selalu di bukakan Allah seluas alam raya ini untuk mereka yang bersungguh-sungguh ingin bertobat, Bro,” jawab temannya sembari menepuk bahu Surya.
“Apakah aku…? tanya lagi. Temannya sudah pergi dan tak sempat mendengar pertanyaan. Hanya suara kicauan burung hutan yang didengarnya. Dan itu menjadi sahabat setianya dalam beberapa tahun ke belakang usai dirinya bangkrut.
Sekujur tubuh Surya telah dilumuri air wudhu. Ada perasaan nikmat yang dia rasakan usai berwudhu. Seluruh tubuhnya terasa sangat segar. Sangat -sangat segar. Seolah-olah ada kekuatan baru yang mengalir dalam tubuhnya. Ya, sebuah kekuatan baru yang tak dapat dinarasikannya.
Surya tiba-tiba ingin ke masjid. Perasaan itu datang seketika. Tanpa ada yang mengaba-aba. Tanpa ada yang mengomando. Tanpa ada yang memerintahnya. Otaknya tiba-tiba berkolaborasikan dengan kakinya sehingga meringankan derap langkahnya untuk segera datang ke masjid. Hanya dalam hitungan menit, Surya telah tiba di masjid.
Di dalam masjid, dilihat beberapa orang berdiam diri. Hanya mulut mereka yang berkomat kamit. Beberapa diantaranya terlihat jelas mengeluarkan airmata. Surya pun bergabung. Sejuta doa lelaki itu panjatkan. Suaranya terbata-bata. Isak tangis mulai mengaliri jiwanya. Ada sesuatu yang diingatnya. Sesuatu perbuatan. Malam makin hening.
Sangat hening. Tak ada suara desis angin. Tak ada suara kucing hutan yang biasa berkeliaran disekitar kawasan dekat masjid yang masih ada hutan kecil. Satu-satunya hutan yang masih ada di Kampungnya. Tak ada sama sekali. Entah kenapa desis angin pun enggan berdesir malam ini.
Jemaah dalam masjid tiba-tiba dilanda dikegemparan yang sangat luarbiasa. Kegemparan seperti dirasakan penduduk daerah saat seorang kepala daerah ditangkap KPK di rumah dinasnya dengan barang bukti sekardus duit. Seorang lelaki, penghuni Kampung tiba-tiba mereka temukan meninggal dalam keadaan bersujud. Iya, Surya penduduk Kampung meninggal dalam masjid. Dan suara Innalillahi WaInnalillahi Rojiun pun bergemuruh dari penghuni alam raya.

Comment

BERITA TERBARU