Kadikbud Sesalkan Oknum Guru Cabul

  • Whatsapp

Dikbud Cari Guru pengganti
Saleh: Kita Hormati Hukum dan Azas Praduga Tak Bersalah

TOBOALI – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan, Nurwanto mengaku prihatin dan sangat menyesalkan ada dugaan oknum guru sekolah dasar, Wisnu yang melakukan perbuatan cabul dan menyetubuhi adik ipar yang notabene masih dibawah umur.
Seharusnya, kata Narwanto seorang guru selalu menjaga martabat baiknya serta menjauhi perbuatan yang dapat merusak nama baik guru sebagai pendidik.
“Saya sedang tugas di Medan dan sudah saya perintahkan staf untuk memeriksa kebenaran dugaan tersebut, dan menurut laporan staf yang bersangkutan sudah diperiksa dan ditahan di Polres Basel, kita serahkan proses hukumnya kepada yang berwajib. Jika nanti terbukti bersalah melakukan pelanggaran hukum tentu akan diberikan sanksi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku,” ungkap Narwanto kemarin sore via pesan singkat kepada wartawan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Selatan (Basel) juga segera menindaklanjuti dengan mencari guru pengganti Wisnu.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dikbud Basel, Saleh menambahkan dirinya Jumat (3/3/2017) pagi langsung menemui Kepala Sekolah SDN 7 Toboali, Sudarwati guna menanyakan perkembangan setelah Wisnu-oknum guru itu diamankan di Polres Basel.
“Saya pagi tadi langsung ke SD 7, kita menanyakan perkembangannya, yang terpenting adalah kelas IV, tempat Wis mengajar jangan sampai kosong. Kita minta kepada Kepsek untuk mengatur jadwal guru penggantinya,” kata Saleh kepada wartawan kemarin sore.
Meski begitu, kata Saleh, dugaan perbuatan Wisnu dilakukan di luar sekolah. Hanya saja profesinya sebagai guru yang agak mencoreng dunia pendidikan Bangka Selatan.
“Dugaan itu dilakukannya di luar jam sekolah, dan korbannya bukan siswa tempat guru itu mengajar dan tentu ada azas praduga tak bersalah,” ujarnya. Disisi lain Saleh menyebutkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setelah melakukan perombakan jabatan kepala sekolah beberapa waktu lalu, juga berencana melakukan mutasi para guru.
“Kita nanti ada rencana melakukan mutasi guru, guru yang SPT lebih dari tiga kali akan di SK-kan, kemungkinan akan ada pengganti Wis, dan untuk sementara Kepsek yang mengatur guru penggantinya, jangan sampai proses belajar siswa terganggu, itu yang utama,,” imbuhnya.
Mengenai sanksi, Saleh enggan berkomentar lebih jauh. Menurut dia sebelum putusan inkrah di pengadilan tentu harus menjunjung azas praduga tidak bersalah.
“Soal sanksi itu tentu atas dan pimpinan yang menindaklanjutinya, tetapi kita menjunjung tinggi azas praduga tidak bersalah dan menunggu putusan inkrah dari pengadilan terbukti bersalah atau tidak,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Sekolah SDN 7 Toboali, Sudarwati mengaku belum mengetahui sikap dan perilaku Wisnu lantaran baru dua hari menjabat sebagai Kepala Sekolah. Dirinya segera berkoordinasi dengan UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Basel mengenai pengganti Wis. “Sementara ini ditutup oleh guru pengganti di sekolah dan kita akan koordinasikan dengan UPT mengenai penggantinya, yang penting anak-anak tidak terganggung belajarnya,” tuturSudarwati.
Dikatakan Sudarwati, kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua guru. Terlebih karena guru adalah seorang panutan atau contoh yang baik bagi dunia pendidikan. Dan diakui Peristiwa ini mencoreng nama baik pendidikan.
“Seharusnya kita dapat mengendalikan diri, jangan rusak nama baik kita, keluarga dan sekolah,” katanya.
Sementara itu, salah satu guru di SDN 7, Sri Rahayu mengungkapkan Wisnu adalah seorang guru yang baik dan disiplin. Kejadian ini membuat semua guru tidak percaya.
“Seperti kita tidak percaya dengan hal ini, karena Wis guru yang baik, sikapnya bagus, disiplin, paling peduli,” imbuh Sri.
Senada dikatakan salah satu guru, Kristina yang terkejut begitu mendengar peristiwa yang menjerat Wis.
“Saya tidak menyangka, benar-benar kaget, karena dia baik dan disiplin,” pungkas Kristina.
Seperti diberitakan Wisnu (29), salah seorang guru sekolah dasar negeri di Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung, Rabu (2/3/2017) malam dicokok Tim Satreskrim Polres Bangka Selatan di rumah orangtuanya di Jalan Teladan, Gang Dul, Toboali.
Wisnu ditangkap, karena laporan korban Bunga (15) yang menyebutkan guru kelas IV SD ini telah nekat mencabuli, bahkan menyetubuhinya pada bulan Agustus, September dan Oktober 2016 lalu. Diduga, Wisnu tega mencabuli korban lantaran kesepian ditinggal istrinya yang sedang kuliah di Pulau Jawa.
Kasat Reskrim Polres Bangka Selatan, AKP Rio Reza Parindra seizin Kapolres AKBP Satria Rizkiano mengungkapkan berdasarkan keterangan korban, aksi bejat Wisnu terhadap anak bawah umur ini sudah dilakukan sebanyak tiga kali.
Korban Bunga yang merupakan adik iparnya sendiri, semula enggan melaporkan perbuatan Wisnu lantaran ketakutan kerap diancam pelaku. Namun, kasus ini akhirnya terungkap setelah Bunga menceritakan aibnya kepada keluarga, hingga kemudian orang tuanya melaporkan perbuatan bejat Wisnu ke polisi.
“Akhirnya Bunga didampingi keluarganya Selasa siang kemarin melapor hingga malam masih diperiksa. Dan setelah diperiksa, langsung pelaku diamankan. Aksi bejatnya diduga dilakukan pada saat istrinya kuliah di Jawa,” jelas Rio.
Kasat Reskrim menceritakan berdasarkan keterangan Bunga, nestapanya berawal pada 12 Agustus tahun lalu. Saat itu Wisnu pernah menampar dan tidak menyuruh korban datang ke rumah paman yang sedang mencarinya.
Usai ditampar, korban berbaring dan menangis di tempat tidur rumah orang tuanya di Jalan Teladan Toboali. Mengambil kesempatan itulah, Wisnu melakukan aksi bejatnya dengan mencabuli korban. Ia membekap korban dengan bantal, membuka celana pendek dan celana dalam yang dikenakan korban, lalu merenggut perawan Bunga.
Selanjutnya, kejadian kedua pada September 2016 di kediaman Wisnu di Kampung Teladan AMD. Ketika itu Wisnu menelpon Bunga dan meminta datang ke rumah dengan alasan untuk menjaga anaknya.
Setalah korban datang menggunakan sepeda motor, seolah sok peduli dengan adik iparnya, Wisnu saat itu bertanya apakah Bunga masih berhubungan dengan pacarnya dan dijawab Bunga masih berpacaran.
Mendengar itu, Wisnu lalu menakut-nakuti Bunga dengan berpacaran seperti itu ia akan hamil. Karenanya pelaku memberikan dua butir pil berwarna putih yang satu untuk dimakan, dan satunya lagi dimasukan ke dalam kemaluan korban dengan dalih mencegah kehamilan. Bunga yang ketakutan hanya menuruti saja yang dilakukan kakak iparnya itu.
Setelah menelan obat tadi, ternyata Bunga merasa mual dan pusing. Dan ketika itulah Wisnu menyetubuhi Bunga. Pelaku sempat memberikan uang Rp100 ribu untuk uang jajan dan Bunga langsung pulang ke rumahnya.
“Dan pada 30 Oktober, pelaku datang ke rumah orang tua korban, masih menanyakan apakah Bunga masih berhubungan dengan pacarnya dan dijawab masih. Wisnu lalu menampar pipi kiri Bunga. Pelaku lalu mencabuli korban, bahkan meminta Bunga membuka baju dan bra-nya dan memaksa korban memfoto dirinya dengan telanjang dada, lalu memindahkan hasilnya ke HP-nya (via bluetooth), sementara foto di HP (J1) Bunga dihapusnya. Aksi itu terhenti setelah keluarga Bunga datang ke rumahnya dan korban menceritakan semuanya,” jelas Kasat.
AKP Rio menambahkan, pada 23 Februari 2017 sekira pukul 21.36 WIB korban mendapatkan pesan permintaan pertemanan BBM dari seseorang atas nama Marcel. Setelah diinvite, Marcel sempat mengirimi gambar Bunga yang sedang bertelanjang dada. Bahkan mengancam akan menyebarkan foto-foto tersebut ke media sosial. Bunga menduga Marcel adalah Wisnu. Lantaran takut dan malu foto bugilnya itu bakal tersebar, korban yang panik mendapat perhatian dari orang tuanya. Setelah didesak barulah Bunga menceritakan seluruh kejadian yang dilakukan Wisnu, sang kakak ipar.
“Pelaku dijerat pidana Pasal 81 dan 82 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Barang bukti 2 unit HP pelaku, diamankan guna mengungkap aksi Wisnu yang juga mengancam akan menyebarkan foto vulgar korban,” tandas Rio.
Namun terpisah, Wisnu saat diperiksa polisi malah membantah telah mencabuli dan menyetubuhi korban. Ia mengaku bahwa adik iparnya itu adalah cewek yang bandel dan telah dilaporkan ke mertua bahkan istrinya sendiri. Hal itu karena Bunga sering berpakaian seksi.
“Saya sebut ke mertua, dia itu “bejual” dan berhubungan sama pacarnya. Saya tidak pernah mencabul atau menyetubuhi. Waktu itu saya di Jogja mendampingi istri wisuda. Obat itu saya kasih itu antibiotik, dan foto itu saya dikirim. Memang saya ada menampar dia, karena dia sebut saya binatang,” elak Wisnu yang telah mengajar di SD negeri sejak 2 tahun lalu dan memiliki satu orang anak dengan kakak kandung Bunga. Meski membantah semua laporan Bunga, pihak kepolisian justru meyakini Wisnu adalah pelakunya. Dan hingga kemarin, oknum guru cabul ini masih diperiksa dan mendekam di sel tahanan Mapolres Bangka Selatan. (raw/1)

Related posts