Kades Sebut Program Cetak Sawah Dipaksakan

No comment 106 views

Kemas Optimis Target Produksi Meningkat
Tarmizi: Pertanian Haram Ditinggalkan

SUNGAILIAT – Sejumlah kepala desa (kades) agak pesimis dan mempertanyakan soal program percetakan sawah di Kabupaten Bangka. Hal ini disampaikan kades tersebut pada acara Lokakarya Pertanian Berkelanjutan, di Tanjung Pesona Hotel, Senin (4/12/2017).

Seperti yang dikatakan Kades Saing Zarkasih pada sesi tanya jawab. Menurutnya, jika program pemda ke desa tersebut terkesan memaksakan kehendak.

“Kita berkaca orang Jawa wajar (bertanam padi sawah-red). Kalau di Saing, menggali tanah semeter, tanah sudah putih. Bagaimana padi mau berhasil. Kalau padi tugal bisa. Jadi kesannya memaksakan kehendak,” kata Zarkasih.

Hal senada dikatakan Kades Labu, Zainudin. Menurutnya cetak sawah terkesan dipaksakan karena masyarakat di desa sudah menganggap negatif dan pesimis terhadap sawah.
Tadinya, kata dia, ada ratusan hektar untuk hutan kayu tapi dibuka untuk sawah. Dia menyarankan di APBD dianggarkan untuk pengairan yang bagus semacam embung atau irigasi.

“Teknisnya PU lebih tahu. Naikkan permukaan air paling tidak sama dengan air Sungai Jeruk jadi bisa mengairi sawah dari Labu sampai Payabenua. Karena sawah ini terlanjur dipaksakan jadi pengairan harus dipaksakan,” bebernya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bangka Kemas Arfani Rahman membantah hal tersebut. Menurutnya, cetak sawah di Desa Saing tidak dipaksakan tetapi karena sesuai dengan potensi wilayahnya.

Kemas menuturkan percetakan sawah sangat diperlukan. Di Saing sudah ada sawah sejak 2010 dengan luas 38 hektar tapi kondisi lahan yang dicetak tidak memenuhi syarat sesuai kaidah pertanian sehingga cuma 4 hektar yang berjalan rutin.

Bahkan menurutnya, ada 100 hektar padi sawah ilegal yang berada di dalam kawasan hutan. Petani disana minta dicetak juga tapi karena masuk kawasan hutan jadi tidak bisa.
“Kita siapkan 600 hektar untuk cetak di Labuh Air Pandan. Kawasannya clear and clean, ada 2200 hektar sudah dicetak,” tambahnya.

Kemas mengatakan, Kabupaten Bangka sebelumnya baru memenuhi kebutuhan beras sebesar 7 persen. Di tahun 2017, dengan masa tanam 2016 meningkat 23 persen.
“Di 2018 penanaman tahun 2017 target 30 persen tercapai karena progres penanaman cukup baik. Kami optimis tercapai. Kondisi ini perlu dukungan semua pihak,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Bangka, H. Tarmizi Saat membantah jika pemda memaksakan kehendak untuk melakukan cetak padi sawah di desa-desa. “Kita dipatok pemerintah pusat harus mencetak sawah dengan target berapa ribu hektar. Tentu harus ada kesanggupan petani, PPL dan CPCL (calon petani calon lapangan-red),” jelasnya.

Orang nomor satu di Kabupaten Bangka ini mengaku, untuk mengubah mindset masyarakat dari berkebun menjadi bersawah tentu berat. “Kalau ada merasa terkesan dipaksakan tentu wajar-wajar saja karena tidak ada yang mulus. Jadi bupati ingin 50 persen berhasil jadilah. Kades juga begitu,” imbuhnya.

Mantan sekda Bangka ini mengatakan, jika ia sudah bertemu dengan calon-calon bupati ke depan supaya ada sinkronisasi program. “Soal siapa jadi bupati tidak masalah tapi pertanian haram ditinggalkan. Jangan saya tidak jadi bupati ini tidak berjalan dengan baik,” harapnya.

Ia menambahkan, sekarang sudah banyak kemajuan tapi harus objektif melihat karena dana pertanian terbatas.

Apa yang sudah dilaksanakan, saat ini, akunya, tentu masih kurang karena memang dana terbatas. Anggaran untuk pertanian, hanya 0,8 persen dari APBD, yang harusnya 20 persen.
“Kita pertanian tangguh. Dikritik kawan pertanian tanggung, 0,8 anggaran. Minimal anggaran pertanian 10 persen. Kalau 20 persen bebunuh ge jadi kalau tidak lihat loncatannya,” bebernya.

Bupati menyampaikan pentingnya kolaborasi bersama karena tidak ada yang tidak bisa dilaksanakan. “Saya minta kritik kades. Kalau rakyat tidak mengkritik, rakyat itu tidur siang. Kalau kades diam berarti kades tiduk siang. Kalau bupati gagal, kadesnya ikut gagal.Jangan aok-aok tidak tahu bupati salah,” pungkasnya.(snt/10)

No Response

Leave a reply "Kades Sebut Program Cetak Sawah Dipaksakan"