by

Kace Induk & Timur Desak Gabung Pangkalpinang

-NEWS-471 views
Tokoh masyarakat Desa Kace Induk dan Kace Timur, Zainuddin Pay-Imam Santosa salam komando usai memberi pernyataan kedua desa ingin gabung ke Kota Pangkalpinang, kemarin. (Foto: C. Susanti)

Bentuk Presidium, Ancam Demo
Imam: Jaraknya Sejauh Mata Memandang

SUNGAILIAT – Tokoh masyarakat dari Desa Kace Induk dan Kace Timur, mendesak Pemerintah Kabupaten Bangka segera melepaskan dua wilayah desa tersebut untuk bergabung dengan Kota Pangkalpinang ibukota Provinsi Bangka Belitung. Hal ini sesuai aturan dan kesepakatan saat Bangka Belitung terbentuk menjadi sebuah provinsi dulu.
Demikian ditegaskan tokoh masyarakat Kace Induk, Zainuddin Pay kepada Rakyat Pos, Kamis (15/6/2017). Ia mengatakan, Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi luasannya belum mencukupi menjadi ibukota provinsi secara nasional. Dan Desa Kace termasuk dalam zona pemekaran Pangkalpinang.
“Kenapa? Karena memang mesti begitu. Jika Desa Kace Induk dan Timur tidak dilepas Pemkab Bangka maka sebaiknya kita dikembalikan lagi kepada Provinsi Sumsel. Kita berharap Gubernur membantu persoalan ini agar terselesaikan,” tukas Pay.
Dikemukakan olehnya alasan bahwa masyarakat Kace ingin bergabung dengan Kota Pangkalpinang dikarenakan banyak hal. Hampir 75 persen putra-putri daerah Kace mengais rejeki di Pangkalpinang. Termasuk mempermudah dalam urusan membuat KTP, KK yang tidak memakan waktu dan biaya lebih karena jarak tempuh tidak jauh.
“Ke Pangkalpinang hanya satu puntung rokok selesai. Kace ini sudah lama ingin ke kota. Dulu saat masa Yusroni jadi Bupati sudah dibentuk tim presidium di rumah Jawarno KS, tetapi kami malah terpecah jadi dua desa yaitu Kace dan Kace Timur. Padahal keinginan kita gabung dengan kota karena merasa sudah tidak sanggup ikut kabupaten,” kata Zainudin, di Sungailiat.
Menurutnya, selama ini Desa Kace merupakan desa tertinggal dan tidak ada kemajuan. Daerah itu tidak berkembang lantaran tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah kabupaten.
“Ada 4 sekolah dasar di Kace tetapi bangunannya memprihatinkan, jalan tembus gang-gang tidak pernah dilakukan pengaspalan, bahkan bupati pun belum pernah menginjakkan kakinya ke Desa Kace ini,” seloroh Pay.
Untuk itu, masyarakat kedua desa sepakat segera membentuk tim presidium agar bisa bergabung ke Kota Pangkalpinang.
“Jika pemkab tidak melepas Desa Kace, kita akan melakukan demo besar-besaran seperti Selindung berpisah dengan Bangka Tengah,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Agung tokoh pemuda Desa Kace mengkritisi kesenjangan sangat tinggi di Desa Kace. Dimana untuk urusan birokrasi di Bangka berbelit-belit dan rentan waktu lama.
“Ini beda dengan di Pangkalpinang. Dari dulu kita sudah bentuk presidium dan ingin gabung dengan Pangkalpinang tidak lain hanya untuk mempermudah,” ujar Agung.
Ia menilai, Desa Kace sudah layak gabung ke Pangkalpinang karena untuk urusan membuat KTP ke kabupaten harus melewati kotamadya.
“Kami minta elit politik tolong sikapi dengan bijak. Ini murni kehendak masyarakat, bukan ada apa dibelakangnya,” cetusnya.
“Harapan kami, segera Kace gabung ke Pangkalpinang. Ada anggota DPRD Pangkalpinang dari Kace, KTP kabupaten tapi anggota dewan Pangkalpinang,” terangnya.
Upaya yang dilakukan masyarakat Kace menurutnya yaitu sudah pernah menemui walikota zaman itu Zulkarnain Karim.
“Kace sudah masuk zona pemekaran Pangkalpinang. Kalau walikota untung rugi apa yang akan dijual di Kace. Hutan, kebun tidak ada lagi. Tapi kalau untuk perluasan bisa saja karena belum cukup luasan Pangkalpinang untuk menjadi ibukota provinsi,” pungkasnya.
Sedangkan Imam Santosa, selaku tokoh pemuda Kace Timur menambahkan, masuknya Desa Kace ke Kota Pangkalpinang sangat diidam-idamkan oleh masyarakat setempat.
“Anak sekolah dari SD, SMP dan SMA di Pangkalpinang. Mata pencaharian masyarakat di Pangkalpinang. Kalo Kace bergabung akan lebih baik,” imbuhnya.
Kemajuan Kace akan berubah jika bergabung dengan Pangkalpinang, terutama pembangunan dan infrastruktur daerah tersebut mudah berkembang. Dikatakan Imam, kediamannya berada antara batas kota dan kabupaten sehingga seperti daerah terisolir tanpa pembangunan sama sekali. Bahkan akses jalan menuju rumahnya sulit dilalui apalagi saat musim hujan.
“Jalan itu kami bangun bersama masyarakat disini secara swadaya, kalo hujan menjadi terjal dan becek karena tanpa pengerasan. Kami sudah pernah mengusulkan agar jalan bisa diaspal tetapi tidak pernah direalisasi. Jadi kami berharap bisa bergabung dengan Pangkalpinang karena jaraknya hanya sejauh mata memandang,” pungkas Imam Santosa. (snt/ioa/6)

Comment

BERITA TERBARU