by

Kabar Duka dari Dapur Kami

-Cerpen-240 views

Karya: Rusmin

Gendeng memulai hari pertamanya usai di-PHK dengan mencuci. Mencuci apa saja yang ada dalam rumah, terutama dapur. Mulai dari piring kotor, hingga baju kotor. Dilakoninya. Apalagi semenjak Mbok Dayang pulang ke kampung dan tak bekerja lagi di rumah mereka, maka Gendeng sebagai orang yang berada di rumah wajib menyelesaikan semua pekerjaan yang ada.
“Kamu harus bertanggungjawab atas semua barang dalam rumah ini. Mulai dari piring hingga baju kotor,” pesan istrinya dengan nada setengah berteriak yang sempat menggagetkan tetangga mereka yang baru memulai malam pertamanya.
“Pelan-pelan dong kalau ngomongnya. Jangan berteriak. Saya denger kok,” jawab Gendeng.
“Kamu itu tak akan pernah mendengar dengan setulus hati omongan saya, istrimu, kalau di telingamu masih ada alat ini,” ujar sang istri sambil mencabut sebuah alat kecil yang sengaja ditempel gendeng di telinganya sebagai upaya untuk meredam suara istrinya yang sangat besar. Sebesar badannnya yang bongsor.
Alat kecil peredam suara itu dibeli Gendeng usai dirinya menerima suarat PHK dari kantornya yang bangkrut kalah bersaing dengan perusahaan konsultan asing yang kini mulai menyemarakan persaingan dunia konsultan disini. Lelaki lulusan sebuah Universitas Tehnik terkenal ini langsung menuju sebuah pusat elektronik terbesar di negera ini. Apalagi dari cerita-cerita kawannya yang sempat di PHK mencari pekerjaan di tempat baru tidak segampang membalikkan telapak tangan.
Dan yang amat mengerikan dari cerita kawan-kawannya yang telah pernah mengalami PHK aadalah tentang perlakuan istri mereka. Istri menganggap suami mareka sebagai jongos dan pembantu.
“Istri saya langsung memulangkan pembantu saat mendengar saya di PHK perusahaan. Terpaksa selama saya belum mendapat pekerjaan saya sebagai pembantu di rumah,” cerita kawannya.
“Iya. Mulai dari mencuci piring hingga mencuci pakaian dalam istri kita harus kita lakoni. Kalau tidak, ya siap-siap dapet omelan dan enggak dapat jatah malam,” sambung kawan lain yang disambut dengan tawa memecahkan kesunyian malam. Tawa itu sangat renyah bahkan teramat renyah dari sekelompok kaum lelaki. Tawa yang sangat membahagiakan mereka sebelum pulang ke rumah yang penuh dengan keangkeran narasi tak teratur dari istri masing-masing.

###

Usai Sholat Subuh di musholla, Gendeng memulai aktivitasnya di dapur. Mulai dari merebus air panas untuk keperluan membuat kopi dan susu istrinya sebagai bekal sarapan, Gendeng juga ke pasar terdekat yang ada di ujung komplek perumahannya. Beberapa mata memandangnya dengan penuh was-was, bahkan terkesan curiga. Ada pula yang memandangnya dengan mata sinis dan meremehkan seolah-olah ingin menyatakan bahwa Gendeng lelaki loyo.
“Masa bodoh ah dengan persepsi orang. Yang penting istri tak ngomel di rumah,” pikir Gendeng sambil melangkah masuk ke dalam pasar.
“Toh mereka cuma bisa berpendapat. Yang mengalaminya semuanya kan aku,” desisnya dalam hati dengan nada percaya diri.
Istrinya sudah bersiap menunggu jemputan kantor di halaman rumah saat Gendeng baru tiba dari pasar komplek perumahan. Dan seperti biasanya sebuah narasi berbungkus omelan tembus menerjang gendang telinga Gendeng yang tak terpasang alat kecil peredam suara. Dia tak menyangka kalau istrinya belum berangkat ke kantor.
“Jangan lupa Pak. Hari ini masak sop,” teriak istrinya yang membuat beberapa anak yang akan berangkat ke sekolah terkaget-kaget dengan suara nyaringnya.
Gendeng ingin menjawab. Tapi suara sang istri mendahului suara dari mulutnya.
“Yang enak,” sambung sang istri sembari masuk ke dalam mobil jemputan yang telah tiba. Gendeng cuma mendesah.
Malam ini malam Jumat. Sudah sebulan Gendeng menjadi penggangguran. Dan selama sebulan itu bobot badannya turun hingga tiga kilo. Tak heran banyak teman, sahabat bahkan tetangganya mulai pangling melihat kondisi fisik Gendeng. Mereka terkejut melihat perubahan anaomi tubuh Gendeng yang kini semakin kurus. Bahkan rambutnya mulai memanjang tak terurus. Beda dengan Gendeng sebulan yang lalu, tepatnya saat masih bekerja. Gendeng selalu tampil klimis dan flamboyan. Kegantengan wajah yang dimilikinya menambah keflamboyannnya sebagai lelaki. Dan tak dapat dipungkiri masih banyak wanita yang ingin meliriknya.
Gendeng merebahkan badannya di ranjang. Badannya terasa sangat berat bahkan terasa sangat berat sekali usai bekerja dari mulai subuh tadi. Baru kali ini dia merasakan kepenatan yang luar biasa dari badannya. Baru kali ini juga badannya menerima beban itu. Sebuah adaptasi yang baru dalam siklus anatomi badannya. Rebahan badannya ke kasur setidaknya bisa memulihkan kondisi tubuh untuk kembali bekerja seiring terbangunnya mentari pagi dari mimpi panjangnya. Seiring dengan koor suara kokok ayam yang akan mewarnai suara jaga raya.
Kadang terpikir dalam otak cerdasnya untuk segera pergi dan meninggalkan rumah yang kini mulai menjadi neraka dunia. Namun Gendeng teringat dengan ayah dan ibunya yang tinggal di kampung. Kedua orangtuanya sangat menyayangi istrinya. Bahkan kedua orang tuanya pula yang menjodohkan dirinya dengan sang istri saat dirinya masih kuliah di kota.
Entah apa yang menjadi dasar pemikiran ayah dan ibunya sehingga rela menjodohkan dirinya dengan sang istri. Padahal dirinya saat itu telah memiliki calon pendamping hidup.
“Tak mungkin kami orang tuamu ingin menjerumuskanmu. Tak mungkin Nak,” kata ibunya saat mereka menceritakan rencana perjodohan dirinya dengan sang istri belasan tahun lalu.
“Iya Nak Gendeng. Selama ini dia sudah banyak membantu kita dan kamu,” sambung sang ayah.
“Maksud ayah selama ini dia yang mengirimi biaya hidup saya?” tanya Gendeng dengan nada suara tanya setengah tak percaya.
Ayah dan ibunya tak menjawab dengan suara. Anggukan kepala dari keduanya telah memberi tanda. Dan Gendeng hanya menundukkan kepalanya. Tak mungkin menyesali apa yang telah terjadi. Tak mungkin sama sekali. Menolak untuk dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya sama saja dengan melukai hati kedua orang tuanya. Dan Gendeng paham bagaimana resikonya melawan orang tua. Bukan hanya soal legenda Malin Kundang. Tapi ada dalam ayat suci sebagaimana yang sering dia dengar dari para ustad.
Tiba-tiba sang istri menjerit. Jeritannya terdengar hingga ke kota. Menyelusup ke rongga-rongga dada para warga. Mengapung dalam ruang perbincangan kota yang penuh kecurigaan dan sarat makna. Jeritan yang sangat memilukan. Jeritan yang sarat butuh pertolongan dengan segera. Jeritan yang menggambar sebuah kesedihan yang teramat dalam dari seseorang. Sebuah jeritan dari seseorang yang telah meninggalkan seseorang yang amat disayanginya walaupun dengan cara yang berbeda. (***)

Comment

BERITA TERBARU