Jurusan Sepi Peminat Padahal Memikat

  • Whatsapp

Oleh: Dwitama Alphin Usdianto
Mahasiswa S1 Pendidikan Matematika FMIPA UNS

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sudah berlalu, saatnya bagi siswa lulusan menengah atas menempuh Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, SBMPTN tahun 2019 bertajuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SBMPTN dimana calon mahasiswa harus mengikuti UTBK terlebih dahulu lalu memilih program studi yang diminati.
Memilih jurusan yang tepat di SBMPTN sangat penting agar calon mahasiswa tidak dijuluki “mahasiswa salah jurusan” kelak. Bagi sebagian calon mahasiswa memilih jurusan merupakan hal yang sulit, karena harus disesuaikan dengan minat dan bakat yang dimiliki. Biasanya calon mahasiswa yang tidak mengenali dirinya sendiri cenderung asal-asalan dalam memilih jurusan. Lebih parah lagi, calon mahasiswa memilih jurusan hanya berdasar informasi orang lain dan tidak mempelajari terlebih dahulu program studi apa yang akan dipilih.
Terkadang calon mahasiswa memilih jurusan yang dianggap jelas prospek kerjanya seperti sekolah kedinasan yang setelah lulus langsung bekerja. Jurusan-jurusan eksak kadang tersingkirkan dengan stigma-stigma menjatuhkan seperti lulusan eksak yang tidak menjamin di masa yang akan datang. Stigma tersebut muncul karena kurangnya informasi yang diterima calon mahasiswa maupun orang tua.
Seperti program studi matematika, masih banyak yang memandang sebelah mata tentang program studi ini. Program studi matematika dianggap tidak mempunyai prospek kerja yang jelas, alih-alih mendapat pekerjaan yang bagus paling hanya menjadi tenaga pendidik atau dosen. Hal tersebutlah yang mengakibatkan jurusan matematika sepi peminat, padahal banyak prospek kerja yang menjamin bagi lulusan matematika.

Prospek Kerja Jurusan Matematika
Di zaman sekarang, siapa yang tidak tahu ojek berbasis aplikasi? Sebagian besar pasti merupakan pengguna aplikasi ojek ini. Perusahaan-perusahaan besar seperti ojek berbasis aplikasi sedang gencar-gencarnya merekrut data scientist. Terlebih lagi, tren perusahaan berbasis big data membutuhkan banyak data scientist namun pasokan SDM Indonesia sangat kurang. Dikutip dari liputan6.com (21/06/2017), perusahaan Go-Jek membuka kantor data science di Singapura.
Bukan tanpa alasan mengapa perusahaan karya anak bangsa tersebut membuka kantor data science di Singapura. Go-Jek memilih Singapura karena potensi SDM yang besar dan infrastruktur teknologi yang memadai. Di kantor Singapura, ujar Faizullah-Khan, Go-Jek mempekerjakan 20 orang dimana jumlah data scientist sebanyak 16 orang.
Miris, saking kurangnya SDM Indonesia untuk mencukupi permintaan data scientist sampai-sampai perusahaan Go-Jek yang notabene karya anak bangsa harus mencari SDM data scientist dari luar negeri. Selain Go-Jek perusahaan besar karya anak bangsa lainnya seperti Tokopedia dan Bukalapak juga sedang membutuhkan banyak data scientist.
Aktuaris, profesi yang banyak dicari dan gajinya yang tinggi. Aktuaris adalah ahli yang mengaplikasikan ilmu keuangan dengan statistika untuk menyelesaikan bisnis aktual. Seorang aktuaris harus mampu mengelola risiko keuangan yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Untuk menjadi seorang aktuaris membutuhkan dasar matematika yang kuat. Dikutip dari idntimes.com (11/04/2018), semakin tinggi tingkat sertifikasi, gaji seorang aktuaris semakin tinggi.
Di awal karir seorang aktuaris dengan jabatan actuarial analayst akan menerima gaji pada kisaran Rp 4-7 juta. Jika naik sertifikasi di level Associate Societies Actuary Indonesia (ASAI), gaji yang diterima pun akan lebih besar dengan jabatan setara manajer. Posisi ini bisa saja naik menjadi Chief Actuary yang bergaji setara dengan direktur utama.
Selain dua profesi di atas, masih banyak profesi lain yang dapat menjamin kehidupan lulusan matematika, diantaranya yaitu analisis keuangan, akuntan insinyur, penilai asuransi, ahli estimasi biaya, pengusaha dan sebagainya. Lulusan jurusan matematika dapat bekerja dimanapun, seperti yang diketahui bahwa ilmu matematika merupakan dasar dari semua ilmu.
Calon mahasiswa harus benar-benar paham terkait program studi yang akan dipilih. Banyak kasus mahasiswa merasa salah jurusan saat menjalani perkuliahan. Mahasiswa yang merasa salah jurusan cenderung mengabaikan mata kuliah yang diajarkan dosen. Mereka lebih fokus untuk belajar SBMPTN tahun berikutnya. Padahal belum tentu di SBMPTN selanjutnya akan diterima di jurusan pilihan. Jika calon mahasiswa tidak diterima di jurusan pilihan, maka akan menimbulkan permasalahan baru seperti stres atau depresi, sehingga mengganggu perkuliahan pada jurusan sebelumnya.
Kemenristekdikti sebagai penyelenggara UTBK SBMPTN harus memberikan sosialisasi yang benar terkait program studi untuk calon mahasiswa terutama untuk jurusan eksak yang selama ini dianggap tidak menjamin. Informasi yang disampaikan tidak hanya sekadar daya tampung dan akreditasi program studi, namun juga prospek kerja yang relevan agar calon mahasiswa mengerti program studi yang dipilih. Hal ini ditujukan supaya informasi yang diperoleh calon mahasiswa dan orang tua jelas dan benar sehingga calon mahasiswa semakin yakin dengan pilihan program studi.
Dalam mendukung globalisasi yang kian pesat, tentu pemerintah harus gencar dalam menyiapkan SDM yang ada di Indonesia. Profesi seperti data scientist, aktuaria harus menjadi perhatian khusus karena banyak perusahaan yang membutuhkan. Untuk mendapatkan pekerjaan seperti itu tentu dibutuhkan SDM dengan intektual tinggi. Oleh karena itu, pemerintah dapat mengadakan program-program seperti job fair, pelatihan profesi untuk menyiapkan talenta-talenta hebat dari Indonesia.
Sarana dan prasana di kampus harus dibenahi dalam rangka mendukung keberhasilan mahasiswa setelah lulus. Peningkatan profesionalisme tenaga pendidik atau dosen juga harus diperhatikan. Ini bertujuan supaya dalam kegiatan belajar mengajar dosen tidak hanya sebatas memberi materi, namun dapat menjadi role model untuk memecahkan masalah (problem solving) yang berkaitan dengan permasalahan perkembangan zaman.
Mahasiswa juga harus ikut andil dalam pengembangan skill dan menambah pengetahuan masing-masing individu. Seperti ucapan Anies Baswedan yaitu “Mimpi seorang anak adalah cermin pengetahuannya. Kalau dia pengetahuannya luas, dia akan memiliki mimpi yang jauh lebih luas”. Selaras dengan hal itu, yang perlu dilakukan adalah sikap proaktif dengan perkembangan zaman agar dapat bersaing secara global.
Persaingan bagi mahasiswa bukan hanya lingkup program studi, fakultas, universitas, maupun nasional saja, namun para pesaing datang dari segala penjuru dunia. Bagi yang mampu dan bisa merekalah yang menang sedangkan yang tidak berkompeten merekalah yang kalah bersaing. Mereka yang kalah akan selalu kalah dan tertinggal jika tidak meningkatkan kualitas diri. Selamat berjuang di SBMPTN 2019. Semoga mendapatkan yang terbaik.(***).

Related posts