Jebakan Delusi Kehebatan Diri

No comment 267 views

Oleh : Denni Candra
Penulis & Founder Sahabat Aksara Indonesia

Denni Candra

Seperti yang kita ketahui bahwa tahun 2018 yang akan kita masuki dalam hitungan beberapa bulan lagi merupakan tahun politik. Karena, pada tanggal 27 Juni 2018 nanti akan ada sekitar 171 daerah yang akan menggelar hajatan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang dilakukan di beberapa wilayah propinsi dan kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Selain itu, dalam rangka menyongsong pemilu presiden pada tahun 2019, berbagai persiapan dan sosialisasi oleh berbagai partai politik juga akan mewarnai perjalanan sepanjang tahun 2018.

Berkaitan dengan pilkada ini, ada seorang teman yang melemparkan guyonan, “Cuma di Indonesia yang tidak ada pihak yang kalah dalam pilkada. Yang ada adalah pihak yang menang dan satu lagi pihak yang merasa dizalimi.”

Pada kesempatan ini, Penulis tidak akan membahas tentang peluang menang salah satu pasangan calon atau pun mengenai situasi politik selama masa pilkada tersebut. Karena hal tersebut merupakan ranah para pengamat politik yang kompeten untuk mengomentarinya. Namun, satu hal yang menarik dalam pengamatan saya selama masa persiapan menjelang pilkada tersebut yaitu tentang kepercayaan diri masing-masing para pasangan calon kepala daerah tersebut. Masing-masing calon begitu sesumbar dan yakin bahwa mereka adalah pasangan yang mendapatkan dukungan mayoritas.

Bahkan ada calon dan tim suksesnya yang sudah berani mengklaim bahwa calon yang mereka usung akan dapat meraih kemenangan, karena dalam beberapa kali survey didapatkan elektabilitas yang bagus. Apakah hal tersebut sebagai sebuah bukti kepercayaan diri ?

Memang, hal yang mendasar dalam ajang pilkada ini adalah soal percaya diri. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa percaya diri dibutuhkan untuk keberhasilan dan menggapai kesuksesan. Tetapi semua harus pada tempatnya dan sesuai takaran, bukan percaya diri yang berlebihan. Karena, sesuatu yang berlebihan itu bukanlah hal yang bagus, malah bisa menjadi bumerang yang malah menghancurkan diri sendiri. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya banyak kita lihat para pasangan calon yang bertarung dalam ajang pilkada ini terlalu percaya diri (over confidence), namun kenyataannya mereka hanya bertepuk sebelah tangan dan “lamaran”nya di tolak rakyat.

Kalau sampai hal itu terjadi sudah siapkah para calon kepala daerah ini untuk “legowo” dan secara sportif mengakui kekalahan yang mereka alami? Siapkah mereka apabila ambisi tersebut berujung kegagalan dan menderita kerugian serta kehilangan modal finansial yang sudah dihambur-hamburkan.

Kita harapkan supaya para pasangan calon yang bertarung dalam pilkada ini tidak terjebak dalam “delusion of grandeur” atau delusi kehebatan diri. Dalam dunia psikologi “delusi” diartikan sebagai sebuah keyakinan yang dipegang secara kuat, namun tak akurat. Delusi kehebatan diri adalah sebuah delusi yang meyakini bahwa yang bersangkutan adalah orang yang jauh lebih hebat dan lebih berkuasa atau lebih berpengaruh daripada keadaan yang sesungguhnya.

Salah satu contoh tokoh yang terjebak dalam delusi ini adalah Muammar Khadaffi. Ketika diwawancarai oleh wartawan CNN, ia masih bersikukuh bahwa seluruh rakyat Libya masih mendukung dan menginginkan serta akan siap melindungi dirinya sebagai pemimpin Libya. Tetapi pada kenyataannya kita menyaksikan bahwa Khadaffi mengalami kematian yang tragis di tangan rakyatnya sendiri.

Jangan sampai pemilihan kepala daerah yang menghabiskan biaya yang sangat besar dan mahal ini justru menjadi sesuatu yang mubazir, apabila para calon pasangan kepala daerah yang bertarung ini sudah terjebak pada kepercayaan diri yang berlebihan dan mengarah kepada delusion of grandeur. Ketika hasil yang didapat tidak sesuai dengan kenyataan yang diharapkan, maka mereka akan berusaha mencari berbagai alasan serta menuduh adanya terjadi berbagai kecurangan tanpa dasar yang kuat. Bahkan sampai mengerahkan massa pendukung untuk berdemontrasi dan membuat kerusuhan serta bentrokan dengan pihak lawan atau pun aparat keamanan. Hasil yang dinikmati masyarakat bukannya suasana aman dan sejahtera tetapi malah menimbulkan dampak kerusakan dan kekacauan.

Kita harapkan masing-masing pihak sama-sama menjaga diri dan mengedepankan sikap jujur dan sportif. Kepada para penyelenggara dan panitia pemilihan agar dapat mengedepankan sikap jujur dan bekerja sebaik mungkin tanpa ada keberpihakan. Begitu juga dengan para pihak yang bertarung dan massa pendukungnya agar bisa menahan diri serta objektif dalam melihat berbagai persoalan. Jangan sampai hanya siap untuk menang tetapi tidak siap menerima kekalahan.

Sekali lagi sikap sportif dan jujur harus di kedepankan. Karena sikap jujur dan sportif adalah salah satu karakter dambaan bangsa ini yang sejak zaman kemerdekaan telah dikumandangkan oleh para pendiri bangsa.(****).

 

No Response

Leave a reply "Jebakan Delusi Kehebatan Diri"