by

Januari dan Februari 2019, Babel Cuma Ekspor 1 Kg Lada ke Amerika

-NEWS-229 views
LEPAS EKSPOR – Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewan didampingi Staf Ahli Gubernur Babel, Toni Batubara, para stake holder dan pihak perusahaan, menggunting pita melepas ekspor karet dan lada, Jumat (15/3/2019). Disayangkan ekspor lada Babel ke Amerika cuma 1 kg sejak dua bulan terkahir. Disorot juga raibnya lada sebanyak 25 ribu ton yang harusnya diekspor, akibat dijual pengumpul ke provinsi lain. (Foto: Nurul Kurniasih)

Ke India dan Thailand hanya 2 Kg
Total 22 Kali Ekspor 260 Ton Lada

Pangkalpinang – Lada biji dari Provinsi Bangka Belitung (Babel) dengan brand Muntok White Pepper ternyata saat ini tidak setrend di zaman kolonial dan VOC. Jika dulu lada putih Bangka dikenal luas dan top di pasaran Eropa dan Amerika, tapi kini Muntok White Pepper sama sekali tak dilirik pembeli dari Amerika.
Terbukti, untuk jumlah ekspor lada ke negara Amerika terhitung Januari hingga Februari 2019 hanya ada satu kali pengiriman dengan berat cuma 1 kg. Demikian juga permintaan Muntok White Pepper dari India dan Thailand hanya sebanyak 2 kg saja.
Padahal, total ekspor lada Babel ke berbagai negara di dunia selama dua bulan di tahun 2019, sudah mencapai 260 ton. Dan negara-negara di Asia menjadi dominasi tujuan ekspor lada Babel.
Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang Saifuddin Zuhri mengungkapkan hal itu. Dia menyebutkan, data ekspor ini berdasarkan permohonan ekspor yang masuk melalui Karantina Pangkalpinang tahun 2019 dari bulan Januari sampai Februari. Dan pihaknya telah menerbitkan Phytosanitay Certificate (Psp) atau Sertifikat Kesehatan sebanyak 28 kegiatan ekspor lada, karet dan sawit.
“Untuk lada biji Januari Februari 260 ton dengan frekuensi 22 kali dengan nilai Rp15,6 miliar,” katanya, disela pelepasan ekspor karet dan lada di pabrik PT. Fajar Berseri, Jumat (15/3/2019).
Dipaparkannya, pada bulan Januari sebanyak 154 ton lada diekspor ke sembilan negara dengan frekuensi 14 kali. Jumlah nilai ekonomis dari ekspor ini mencapai Rp9.242.010.000 atau 9,2 miliar.
Sembilan negara tujuan ekspor lada Babel ini diantaranya adalah Amerika (1 kg), Belanda (16 ton), India (2 kg), Jepang (21 kg), Jerman (45 ton), Korsel (60 ton), Malaysia (16 ton), Taiwan (17 ton), dan Thailand (2 kg).
Sedangkan pada bulan Februari, lada yang diekspor ada 106 ton, sebanyak 8 kali pengiriman dengan nilai ekonomis Rp6.361.464.000 atau 6,3 mikiar kepada tujuh negara tujuan.
“Jepang sudah dua kali pengiriman sebanyak 18 kg, Jerman satu kali 15 ton, kemudian ke Korsel, Malaysia, Prancis, Taiwan dan Vietnam,” rincinya.
Sementara di bulan Maret ini, baru kemarin dilakukan pelepasan pengiriman lada ke Perancis sebanyak 15 ton, yang dilakukan oleh PT. Makro Jaya Lestari.
Saifuddin menambahkan, untuk data ekspor bijih lada pada tahun 2018 dari Babel menggunakan Pelabuhan Pangkalbalam Pangkalpinang telah dilakukan ke 14 negara yakni Singapura, Jerman, Belanda, Perancis, India, Vietnam, Taiwan, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Pakistan, Amerika Serikat, Arab Saudi dan Oman.
“Volume ekspor lada pada tahun 2018 mencapai 2.600.942 kg (2.601 ton) frekuensi 193 kali, dengan nilai ekonomis Rp157 miliar. Sementara ekspor lada mengalami fluktuatif jumlah dari tiga tahun terakhir karena adanya persaingan penghasil lada seperti Vietnam dan Thailand,” bebernya.

2018, Vietnam Mendominasi

Namun anehnya, meskipun sebagai negara penghasil lada saingan Indonesia, tetapi Vietnam tetap masih membeli lada dari Babel. Bahkan ekspor lada dari Babel terbanyak pada tahun 2018 ke negara Vietnam.
Dengan kata lain, ketergantungan Vietnam terhadap lada Babel masih tinggi. Dan menurut Gubernur Babel Erzaldi Rosman lada dari Babel ini hanya dijadikan pencampur agar lada Vietnam memiliki kualifikasi bagus.
Jumlah ekspor lada Babel ke Vietnam sepanjang tahun 2018 tercatat 891 ton dengan sebanyak 51 kali pengiriman yang nilainya mencapai Rp53,4 miliar.
Disusul ekspor ke Jerman dengan total 677 ton, sebanyak 44 kali pengiriman yang nilainya sebesar Rp40.5 miliar. Sementara ekspor lada ke Korea Selatan, Pakistan, Amerika Serikat, Saudi Arabia, dan Oman, masing-masing 1 kali pengiriman dengan volume dibawah 1 ton.
Saifuddin menambahkan, pada tahun 2018 Balai Karantina Pertanian Pangkalpinang telah menerbitkan Phytosanitay Certificate sebanyak 325 sertifikat, terhadap komoditas unggulan pertanian Babel seperti lada, karet, dan sawit dengan total nilai ekonomis Rp771.890.530.00 (771,8 milliar).
“Sawit dan turunannya dari bungkil sawit (palm expeller), minyak cair (palm olein) dan minyak beku sawit (palm stearin) ke negara Cina dan Vietnam dengan volume 67.031.922 kg (67 ton), frekuensi 40 kali total ekonomi Rp268,1 miliar,” bebernya.
Pada tahun 2018, kata dia, ekspor itu mengalami penurunan 28 persen dibandingkan 2016-2017. Hal ini dikarenakan diberlakukan kenaikan tarif bea masuk impor oleh negara yang tergabung dalam Uni Eropa.
“Ekspor karet ke negara China dan Pakistan dengan volume ekspor 19.316.800, frekuensi 97 kali dengan nilai ekonomis sekitar Rp347,7 millar. Ekspor karet ini mengalami kenaikan 19 persen dibandingkan tahun 2017 dikarenakan tingginya permintaan bahan baku oleh negara produsen, China,” jelas Saifuddin.
Sementara pada tahun 2019, ekspor karet lempengan sebanyak 2.747 ton dengan frekuensi 3 kali yang nilainya mencapai Rp49,4 miliar ke negara China.
Sawit dan turunannya sebanyak 14.249 ton dengan frekuensi 3 kali yang nilainya Rp80,9 miliar ke negara China dan Vietnam.
Sementara itu, yang dilakukan pelepasan kemarin, sebanyak 765 ton karet oleh PT. Fajar Berseri, dengan tujuan China 605 ton yang nilainya Rp10.866.400.00, dan ke Pakistan 160 ton, bernilai Rp2.880.000.000. Sehingga total ekspor karet itu sebanyak 765 ton, dengan nilai Rp13.766.400.000.
Untuk ekspor oleh PT. Makro Jaya Lestari, sebanyak 15 ton biji lada dengan nilai Rp900 juta ke Perancis.
Pelepasan ekspor dua komoditas ini dilakukan Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewan, Agus Sunanto, Wakil Bupati Bangka Syahbudin, Staf Ahli Gubernur Babel, dan instansi terkait lainnya, termasuk direksi kedua perusahaan pengekspor.
Saifuddin menambahkan, pelepasan ekspor ini dalam rangka mendukung program gerakan “Ayo galakkan ekspor generasi milenial bangsa (Agro Gemilang)”. Yaitu program pemerintah menyiapkan generasi muda milenial menghadapi era revolusi industri 4.0, dengan mempersiapkan dan mendorong para petani muda untuk memasuki pasar ekspor go internasional atau mendorong produk pertanian lokal ke pasar ekspor yang memenuhi persyaratan sanitary and phytosanitay (sps) dari negara tujuan.
Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewan, Agus Sunanto, berharap ekspor komoditas pertanian ini harus didukung bersama. Dan didiskusikan, apa yang menjadi sumbatan rendahnya tingkat ekspor.
“Bisa disampaikan ke kami. Bisa komunikasikan kegiatan ekspor ini ke kami, dan kami juga akan berkomunikasi dengan atase kedutaan di luar negeri,” tandasnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga sudah menggelar sosialisasi dan bimtek kepada pelaku usaha serta pemda, untuk pengembangan ekspor ini.
“Dari Babel enggak ada yang ditolak, komoditas ekspor masih didominasi karet, lada dan sawit, kalau impor minim,” imbuhnya.

*25 Ribu Ton Lada Raib
Sedangkan Staf Ahli Gubernur Babel Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Toni Batubara mengucapkan selamat atas pelepasan ekspor yang dilakukan kemarin. Dia meminta, perusahaan dapat membantu terus Kementerian Pertanian melalui Balai Karantina agar data dan kualitas ekspor Babel juga semakin meningkat.
“Semoga kegiatan ini bisa diikuti perusahaan lain yang ada di Provinsi Babel, dan produk ekspor nantinya lebih digali lagi potensi di Babel selain lada karet sawit dan timah,” tandasnya.
Ia menyayangkan, banyak hasil lada Babel yang tidak terdata. Sebab, dari luas perkebunan lada 55 ribu hektar di Babel, setidaknya paling sedikit menghasilkan 30 ribu ton lada kering, sementara yang diekspor hanya 5-6 ribu ton saja per tahun.
“Sisanya kemana? Berarti lada kita keluarnya lewat provinsi lain, tanpa ada data. Kedepan mungkin tidak boleh terjadi. Gubernur berharap agar pelaku lada bisa mulai mencintai daerah sendiri, agar bisa menjadi militan daerah kita. Alangkah baiknya kalau jual karet lada dari Babel, bukan dari provinsi lain,” tegasnya.
Pemprov melalui Dinas Pertanian, tambah mantan Kepala Dinas Pertanian Babel ini, akan sangat serius menggali potensi ekspor, lada dan karet sebagai salah satu komoditas yang menjadi perhatian, karena begitu banyak bantuan yang diberikan kepada petani.
“Bagaimana pemerintah terus meningkat agar harga komoditas ini termasuk sawit betul-betul layak diterima petani kita. Karena kita tau harga lada karet, sawit mandiri belum layak, yang menikmati program pertanian bukan petani, mereka bermain di paska panen. Kedepan berharap agar semua membantu petani kita agar produk bisa dinikmati bersama-sama,” pungkas Toni. (nov/1)

Comment

BERITA TERBARU