Jangan Datang ke Jakarta, Nak !

  • Whatsapp

Karya: Rusmin

Ibu Yayuk gelisah. Setidaknya sudah seminggu ini kegelisahan itu datang menghampiri tubuh tuanya. Kegelisahan wanita setengah baya itu bukan soal naiknya harga daging sapi di pasaran. Bukan sama sekali. Dan kegelisahan jiwanya bukan pula dikarenakan naiknya harga sembako menjelang Idul Fitri. Tidak sama sekali.
Kegelisahan wanita setengah tua ini berawal dari narasi anak semata wayangnya yang ingin merantau ke Jakarta. Dan sebagai orang tua, dia sangat melarang, bahkan sama sekali tak mengizinkan putranya untuk mengadu nasib di Ibukota.
Maklum, peninggalan warisan suaminya sudah sangat cukup untuk kehidupan dia dan anaknya. Hektaran sawah dengan hasil yang melimpah mereka peroleh tiap tahunnya. Demikian pula dengan toko pertanian yang kini dikelola anaknya, sudah sangat layak untuk kehidupan dia dan anaknya. Belum lagi peninggalan almarhum suaminya yang lain berupa sapi. Tapi anaknya tetap ngotot dan bersikeras untuk mencoba ganasnya Jakarta.
“Mohon dipikir kembali, keinginanmu untuk bekerja di Jakarta. Apa yang sekarang kita nikmati tak cukup untuk modal hidupmu nanti?” tanya Ibu Yayuk kepada anaknya yang bernama Bujang.
“Bukan soal materi, Bu. Tapi ini soal bagaimana saya belajar hidup di kota secara mandiri. Saya ingin menantang Jakarta yang katanya ganas, Bu,” jawab Bujang.
“Sudah banyak cermin Nak. Sudah banyak contoh tentang realita bagaimana buasnya rimba Jakarta. Sudah banyak teladan yang diberikan teman-temanmu yang akhirnya kembali ke kampung karena tak mampu melawan ganasnya Jakarta,” tukas Ibu Yayuk. “Jakarta itu kejam Nak. Rimba yang sangat buas. Tak ada rasa kemanusian di sana. Mohon dipikirkan kembali niatmu itu Nak,” sambung Ibu Yayuk dengan diksi memelas.
“Mereka tidak berpendidikan, Bu. Mereka tidak berpengetahuan. Aku kan sarjana. Beda dengan mereka,” kilah Bujang.
Namun sikap Bujang yang tetap bersikeras untuk menantang Jakarta, dengan derai airmata dan sejuta doa, akhirnya dilepas Ibu Yayuk. Sejuta nasehat dinarasikan ke telinga putranya. Dan segepok uang pun diberikan.
Dan Bujang pun tiba di Jakarta, sang ibukota negara. Seminggu pertama, Bujang masih bisa senyum dan tertawa menatap Jakarta. Maklum bekal dari Sang Bunda masih terbilang banyak. Tak heran beberapa pusat kota dijelajahinya. Blok M sudah dikunjunginya. Demikian pula dengan Plaza Senayan. Bahkan Taman Mini serta Ragunan pun sudah dilihatnya. Termasuk ke Kota Tua.
“Jakarta memang istimewa dan luar biasa,” desisnya.
Minggu kedua, kantong Bujang mulai menipis. Rasa ingin kembali ke kampung pun mulai menggelanyuti pikirannya. Apalagi saat menyaksikan begitu berjubelnya orang yang berlalulalang di jalanan yang membuatnya berpikir keras untuk menaklukan Jakarta.
Semula tekadnya untuk kembali menaklukkan kota urban dengan pengetahuannya masih mampu bertahan. “Di Jakarta itu yang penting kita jangan malu, Jang,” ujar seorang temannya beberapa waktu lalu.
“Kalau kita tak malu, kita bisa hidup. Bisa survive,” sambung temannya yang lain.
“Dan yang paling penting jangan kamu pikirkan soal haram dan halal. Yang penting kita bisa hidup dulu,” jelas temannya lagi.
Bujang pun terdiam. Ia akhirnya terpaksa bekerja sebagai kuli bangunan menyusul makin menipisnya persedian uang di dompetnya.
Tak tahan menjadi kuli bangunan, Bujang pun bekerja sebagai salesman sebuah alat rumah tangga. Namun pekerjaan itu tak mampu mengeskalasi dompetnya. Sementara mau minta kiriman dari ibunya, dia malu.
Setidaknya dalam tiga bulan ini, sudah tiga jenis pekerjaan yang dilakoninya dan tak mampu mengangkat derajat hidupnya. Bahkan dia terpaksa harus pindah ke rumah kontrakan yang murah. Sebuah rumah yang sangat tak layak untuk ditinggali.
Usai Sholat Subuh di masjid, seseorang menepuk pundaknya. Bujang menoleh. Seorang lelaki setengah baya, seumuran almarhum ayahnya mengagetkannya.
“Ananda tinggal di dekat sini, ya?” sapanya dengan ramah.
“Oh, iya Pak. Ada yang bisa saya bantu Pak?” jawab Bujang.
“Apakah ananda sudah bekerja?” tanya lelaki itu.
“Saya masih mencari kerjaan Pak,” jawab Bujang saat keduanya beriringan meninggalkan masjid.
“Apakah ananda mau menjadi sopir saya?” tanya lelaki itu.
“Sangat bersedia sekali Pak. Terima kasih Pak atas pertolongannya,” ujar Bujang sambil mencium tangan lelaki itu.
Dan keduanya pun berpisah. Lelaki setengah baya itu masuk ke dalam sebuah rumah bertingkat dengan design arsitektur yang sangat moderen. Rumah yang berhalaman luas. Baru kali ini Bujang menyaksikan sebuah rumah yang sangat artistik dan indah. Bak istana.
Bujang pun kini menjadi sopir lelaki yang dikenalnya di masjid. Ternyata lelaki itu anggota dewan yang terhormat. Dan kini Bujang menjadi teman sehari-hari Pak Dewan. Mengantar Pak Dewan itu susuri jalanan Jakarta yang macet.
Pada suatu malam, usai membersihkan mobil, Bujang dipanggil Pak Dewan ke ruang tamunya yang luas.
“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya Bujang.
“Besok tolong kamu ambil uang di salah satu kolega saya, ya. Lokasinya dekat perkantoran Dukuh,” perintah Pak Dewan.
Bujang hanya mengangguk. Setelah sukses mengambil uang dari kolega Pak Dewan yang pertama, Bujang kini bukan hanya menjadi sopir semata namun telah berubah seperti kurir Pak Dewan untuk menerima dana dari koleganya. Termasuk mengirimkan dana yang sangat besar kepada kolega Pak Dewan lainnya.
Sebagai lelaki berpendidikan, Bujang mulai berpikir keras dengan aksi Pak Dewan, bosnya. Namun Bujang tak mampu menelisik pikiran kelamnya menjadi sebuah pertanyaan, mengingat kesibukannya mengambil dana dan menghantar dana cukup menguras badannya.
Apalagi kini tabungannya kerapkali dijadikan media bagi juraganya untuk menerima uang. Dan gaji Bujang pun kini berlipat ganda. Setiap ada aliran dana yang masuk ke rekeningnya, lelaki berpendidikan sarjana itu juga mendapat komisi yang tak sedikit dan bisa membuatnya membeli satu motor merk terkenal.
Tapi pagi itu, Pak Dewan meminta Bujang untuk menemaninya ke bandara. Pak Dewan rupanya mendapat tugas keluar kota dari parlemen. Tapi di dalam mobil, Pak Dewan lebih banyak diam. Hanya beberapa kali menerima panggilan dari handphone merk terkenal.
Rencananya, usai mengantar Pak Dewan, Bujang mau pulang kampung untuk menengok ibunya. Maklum, semenjak bekerja sebagai sopir Pak Dewan, Bujang belum pernah pulang untuk menengok ibunya. Walaupun selama ini komunikasi antar mereka lancar lewat handphone. Dan Bujang masih ingat dengan nasehat ibunya lewat speaker handphone.
“Kamu jangan neko-neko di Jakarta, Jang. Itu kota yang buas. Rimba yang tak bertuan,” nasehat ibunya.
“Iya, Bu. Saya akan menjaga marwah keluarga, Bu,” jawab Bujang.
Namun saat hendak memarkirkan mobil, Bujang kaget setengah mati ketika melihat juragannya, Pak Dewan diborgol beberapa orang yang memakai baju bertuliskan KPK. Pak Dewan langsung dibawa masuk ke dalam mobil. Dan dari siaran radio di mobilnya, Bujang mendapatkan kabar terkini bahwa telah tertangkap tangan seorang anggota parlemen di bandara. Ya, dia adalah Pak Dewan juragannya. Dari tangannya KPK menyita sejumlah uang yang bernilai miliaran rupiah.
“Kini Pak dewan sedang dalam perjalanan menuju tahanan KPK dengan pengawalan super ketat. KPK juga akan mengusut semua pihak yang terlibat membantu Pak Dewan dalam korupsi mega proyek di sejumlah daerah. Demikian laporan terkini dari Gedung KPK Jakarta,” bunyi radio mobil itu.
Mendengar berita tertangkap tangan juragannya itu, Bujang pun langsung menuju terminal. Rasa ketakutan mulai menjalari seluruh tubuhnya. Bayangan wajah tua ibunya terpampang di matanya. Ada rasa penyesalan yang mendalam dari jiwanya. Terkenang saat ibunya melarang dirinya untuk merantau ke Jakarta.
Tapi kini Bujang hanya menangisi nasib. Apakah dirinya akan terlibat dan dilibatkan Pak Dewan yang terhormat itu? Entahlah. (***)

Related posts