by

Jalan Menuju Kebahagiaan Hidup

-Ramadhan-13 views

Oleh : Denny Syaputra

Assalamualaikum Wr. Wb

Setiap orang selalu menginginkan kehidupannya berjalan dengan baik, atau dengan kata lain semua harapannya terwujud, penuh kebahagiaan, merasakan kepuasan lahir dan batin. Namun, sering pula seseorang tidak mampu menjelaskan tentang arti kebahagiaan secara tepat. Kalau demikian, tentu akan banyak orang yang tertipu karena ia sempat mengira dirinya telah mencapai kebahagiaan atau bahkan puncak kebahagiaan, padahal sedari awal orang tersebut sesungguhnya tidak pernah tahu dimana dan bagaimana kebahagiaan yang sebenarnya. Apakah anda pun demikian? Baiklah, kali ini kita akan mengurai jalan manusia menuju kebahagiaan hidup. Anda dapat mengikuti beberapa langkah sederhana berikut ini.
Pertama, tahan nafas anda sebentar saja untuk tidak menghirup udara masuk ke tenggorokan dan rongga dada anda. Tahan sampai batas anda tidak mampu bertahan lagi. Kini anda dapat menghirup udara dengan normal kembali. Tunggu dulu, sampai disini sebenarnya anda baru berjalan setengah perjalanan menuju kebahagiaan hidup. Kini, setelah anda melalui langkah pertama tadi barulah anda memahami bahwa bernafas adalah kebutuhan manusia untuk hidup. Ketika kebutuhan manusia untuk hidup tidak terpenuhi maka sungguh kebahagiaan hidup pun masih amat sangat jauh diperoleh.
Kedua, tutup kedua mata anda sebentar saja untuk tidak melihat keadaan di sekeliling anda sambil melangkahkan kaki anda ke depan hingga anda ragu untuk melanjutkan langkah kaki anda. Silahkan buka kedua mata anda. Tunggu dulu, anda belum sampai juga di ujung perjalanan untuk memperoleh kebahagiaan. Kini, setelah melalui langkah kedua tadi barulah anda memahami bahwa melihat adalah kemampuan pelengkap yang membuat langkah kita semakin mantap dan terarah. Ketika kita tidak memiliki cara pandang yang lengkap dengan tujuan akhir maka suatu perjalanan tidak akan pernah menghadirkan ketenangan, malah menimbulkan keraguan bahkan kekhawatiran tak berkesudahan.
Dua langkah sederhana ini sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan tentang bagaimana menuju kebahagiaan hidup, yaitu terpenuhinya kebutuhan, dan teridentifikasinya tujuan. Kini kita akan membahas dua hal tersebut sedikit lebih dalam lagi. Saya yakin, kita sebagai manusia memiliki kebutuhan yang sama. Saya membutuhkan makanan, minuman, oksigen, istirahat, dan buang hajat (baik besar maupun kecil), demikian pula dengan anda bukan? Saya juga yakin, jika salah satu saja dari kelima hal diatas belum mampu dipenuhi maka anda tidak akan pernah bahagia. Sedikit pertanyaan lagi, apakah anda menemukan bahwa semua kebutuhan tersebut muncul menghampiri tanpa melakukan sesuatu? Tentu saja tidak bukan? Anda harus bertindak mengerahkan daya dan upaya untuk memenuhinya, dan tentu saja bukan hanya anda sendiri yang bertindak untuk hal tersebut karena semua manusia di sekeliling kita sedang dan akan terus melakukannya!
Singkat cerita, jika telah berhasil memenuhi kelimanya maka anda baru sampai pada kondisi bertahan hidup. Bertahan hidup pun belum menjamin bahwa akan merasakan kebahagiaan sebelum mengetahui dengan jelas hidup anda mau dibawa kemana. Sekali lagi saya yakinkan bahwa kita belum akan merasakan kebahagiaan hidup ketika baru sebatas mampu bertahan hidup sebab anda belum tahu hidup ini harus dibawa kemana selanjutnya. Lima kebutuhan dasar (basic needs) manusia tadi melahirkan satu kebutuhan antara (intermediate need) yaitu aturan. Aturan yang mana setiap manusia dengan sukarela mengikatkan diri padanya sehingga semua manusia dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam memenuhi 5 kebutuhan dasar tadi.
Kalau kita mencermati tentang fakta sumber aturan, maka akan hanya ada 2 jenis aturan, pertama aturan yang dibuat oleh manusia, kedua adalah aturan yang dibuat oleh pencipta manusia. Sejujurnya, pada dasarnya tidak ada manusia yang rela kebutuhan dasarnya diatur (ditakar atau dibatasi) oleh manusia lainnya karena berpotensi menimbulkan selisih dan kecurangan. Oleh karena itu, paling logis dan rasional jika urusan sumber aturan ini diserahkan kepada pencipta manusia. Kebahagiaan pertama bagi seorang manusia adalah bahwa dia mengenal penciptanya, karena dengan mengenal penciptanya maka ia akan menemukan aturan yang ia butuhkan. Pencipta yang baik adalah pencipta yang mengasihi (Arrahmaan) dan menyayangi (Arrahiim) ciptaanNya, pencipta yang mengetahui (Al ‘Aalim) kebutuhan ciptaanNya dan memfasilitasi pemenuhan (Arrazaaq) kebutuhan ciptaanNya dengan menyediakan aturan (Asysyaari’) dan material kebutuhan tersebut.
Manusia bisa saja salah alamat dalam menemukan sang penciptanya serta aturan-aturanNya. Semilyar manusia di muka bumi ini bisa jadi punya sejuta salah alamat. Oleh karena itu, kebutuhan lanjutan (advanced need) bagi manusia untuk menuju kebahagiaan hidup adalah hadirnya utusan (rasul) Sang Pencipta. Sang Pencipta mengutus manusia pilihan dengan tanda tanda kebenaran yang jelas agar bisa dikenali tanpa keraguan. Setiap orang yang membawa aturan Sang Pencipta tentu saja orang tersebut adalah utusan Sang Pencipta. Kebahagiaan kedua bagi seorang manusia adalah bahwa dia mengenal utusan Sang Penciptanya karena dengan mengenal utusan Sang Penciptanya maka ia menemukan teladan dalam penerapan aturan Sang Pencipta bagi segala kebutuhan hidupnya.
Singkat cerita, setelah manusia mencapai dua kebahagiaan di atas yaitu mengenal aturan sang Penciptanya dan mengenal utusan Sang Penciptanya yang membawa aturan tersebut, maka tibalah manusia pada puncak kebutuhan (ultimate need) sekaligus puncak kebahagiaan hidup yang hakiki dalam kehidupan ini atau sebagai arah dan tujuan yang pasti dalam mengarungi kehidupannya yaitu ma’rifat (mengenal) dan taqarrub (mendekatkan) diri kepada Sang Penciptanya untuk meraih keridhoanNya. Dia lah Allaah subhaanahu wa ta’aala, tiada Tuhan selain Dia, dan sesungguhnya Muhammad Saw adalah utusannya yang agung yang menyampaikan kepada semua manusia Quran sebagai sumber aturan hidup segala bangsa. Semoga kebahagiaan hidup senantiasa menyertai semua manusia yang berpegang teguh pada aturan Allaah (syariah Islam) dengan meneladani Muhammad saw, dan para khalifah ar raasyidiin, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Comment

BERITA TERBARU