Jaga Aurat & Jaga Syahwat

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Allah Subhanahu Wata’ala telah menyeru kaum muslim untuk menjaga pandangan di antara mereka dalam berinteraksi sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (TQS an-Nûr [24]: 30-31).

 

Mahbub Zarkasyi

Hiruk pikuk kehidupan masa kini dengan didominasi faham liberal telah menjauhkan kaum muslim dari kehidupan Islam. Aktivitas di setiap lingkungan telah memaksakan kaum muslim melanggar syariat Allah Subhanahu Wata’ala tanpa batasan pergaulan. Mulai dari aktivitas Ikhtilath dimana kaum pria dan kaum wanita biasa berhubungan walau tanpa keperluan yang dibenarkan syariat. Atau lebih jauh lagi aktivitas Khalwat dimana seorang pria dan seorang wanita berinteraksi seolah sudah menjadi suatu keharusan.
Aurat sudah terbiasa di umbar. Wanita berhijab syar’i menjadi asing. Kaum pria yang belum berusia lanjut seolah tabu berjamaah di masjid. Dalam olahraga kaum pria dianggap asing menggunakan celana di bawah lutut karena menutup aurat. Pacaran sesungguhnya banyak aktivitas pelanggaran syariat seperti berduaan, syahwat hati, mata, telinga, tangan dan lainnya ditumpahkan disana sampai banyak yang zina besar. Kaum pria yang berusaha menjaga syahwat terus digoda dengan aurat wanita baik kulit, bentuk tubuh dan suara yang tentunya menjadi ujian berat bagi kaum pria menjaga keistiqamahannya.
Kehidupan tanpa pembatasan pergaulan antara pria dan wanita menuntut ketergantungan wanita kepada pria ajnabi (bukan mahramnya) seperti suatu keharusan. Bagi yang memang tak mengikatkan pada syariat, menjadi kebutuhan yang tak bisa dihindari. Apalagi saat ini, kesempatan untuk berduaan (khalwat) atau campur baur (ikhtilath) sengaja diagendakan untuk keinginan rekreasi, nonton atau makan bersama. Padahal, pada ayat di atas Allah Subhanahu Wata’ala telah mewajibkan bagi kaum muslim untuk menundukkan pandangan kepada lawan jenisnya. Atau di banyak ayat maupun hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menuntuk kaum muslim untuk menutup aurat dan berhijab syar’i dan menjauhi perbuatan zina. Larangan zina tersebut seperti pada Firman Allah Subhanahu Wata’ala pada ayat berikut:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (TQS. Al-Israa’ [17]: 32)
Memang, wanita besar potensi untuk dapat membangkitkan naluri seksual pria, namun hal ini tidak berarti naluri tersebut pasti muncul setiap kali seorang pria bertemu dengan wanita. Demikian pula sebaliknya, pria pun dalam kehidupan tanpa batasan saat ini, banyak yang berusaha membangkitkan naluri seksual wanita. Naluri seksual itu, terbangkitkan karena adanya interaksi seksual di antara pria dan wanita itu sendiri. Jadi, naluri ini tidak muncul ketika kedua lawan jenis itu berinteraksi, misalnya seperti ketika melakukan perdagangan atau jual-beli, pada saat melaksanakan operasi bedah pasien, atau pada proses belajar mengajar, dan lain sebagainya. Maka, interaksi seperti tersebut dibolehkan oleh syara’.
Saat ini, terjadi perubahan pandangan terkait keberadaan dan hubungan antara pria dan wanita, dimana dalam Islam bertujuan untuk melestarikan keturunan. Maka, dalam Islam hukum asal kehidupan antara pria dan wanita terpisah. Ada yang disebut kehidupan umum dimana pria dan wanita boleh berhubungan bila ada alasan yang dibenarkan oleh syariat. Potensi yang dapat membangkitkan naluri seksual antara lawan jenis tidak bisa menjadi penghalang bagi bertemunya pria dan wanita dalam kehidupan umum. Kerjasama dan pertemuan merupakan kebutuhan yang amat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat termasuk pria dan wanita. Maka dibutuhkan sebuah sistem yang mengatur hubungan yang bersifat seksual antara kedua lawan jenis itu dan mengatur hubungan pria dan wanita. Sistem Islam datang dengan menempatkan bahwa hubungan pria dan wanita semata-mata untuk melestarikan keturunan. Sedangkan hubungan pria dan wanita dalam kehidupan umum sesungguhnya tidak melihat mereka sebagai pria ataupun wanita, namun sebagai manusia, sehingga bisa menjalin kerjasama tanpa keharaman sedikit pun.
Hubungan antara pria dan wanita selain membatasi hanya dalam kehidupan umum, namun di antara lawan jenis harus menjaga auratnya dengan menutup secara syar’i. Hubungan ini juga menuntut di antara lawan jenis untuk menjaga pandangan masing-masing. Begitu juga dengan stimulus-stimulus lainnya yang bisa membangkitkan syahwat harus dihilangkan. Jadi, satu-satunya sistem yang dapat menjamin ketenteraman hidup dan mampu mengatur hubungan antara pria dan wanita dengan pengaturan yang alamiah hanyalah sistem pergaulan dalam Islam. Sistem pergaulan pria dan wanita menjadikan aspek kesadaran akan hubungan kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai asas dan menjadikan syariah sebagai tolakukur dengan hukum-hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai akhlak yang luhur.
Sistem interaksi dalam Islam menempatkan baik pria maupun wanita, sebagai seorang manusia yang memiliki naluri, perasaan, kecenderungan, dan akal. Sistem Pergaulan dalam Islam membolehkan manusia bersenang-senang menikmati kehidupan dan tidak melarang manusia untuk memperoleh bagian kenikmatan hidup secara optimal, tetapi dengan tetap memelihara komunitas dan masyarakat yaitu menempatkan kehidupan umum dan kehidupan khusus untuk memisahkannya. Sistem ini pun mendorong kukuhnya manusia dalam menempuh jalan untuk memperoleh ketentraman hidupnya. Sistem kehidupan sekuler telah menempatkan kehidupan yang bebas dan akhirnya banyak pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat. Kemudharatan dan kemaksiatan pun muncul dimana-mana. Misalnya, banyak wanita yang tak mampu menjaga kegadisannya sebelum menikah. Aurat diumbar sehingga mengundang syahwat kaum pria. Atau yang menutup aurat namun bentuk tubuh tetap menonjol. Bahkan hubungan antara pria dan wanita tidak dibatasi oleh syariat.
Sistem pergaulan dalam Islam mengatur hubungan pria dan wanita dengan menetapkan naluri seksual pada manusia adalah semata-mata untuk melestarikan keturunan umat manusia. Sistem Islam telah mengatur hubungan lawan jenis antara pria dan wanita dengan peraturan yang rinci, dengan menjaga naluri ini agar hanya disalurkan dengan cara yang alamiah. Dengan itu, akan tercapailah tujuan dari penciptaan naluri tersebut pada manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah Subhanahu Wata’ala. Sistem ini, pada saat yang sama, mengatur berbagai pergaulan antara pria dan wanita, serta menjadikan hubungan lawan jenis yang bersifat seksual sebagai bagian dari sistem interaksi di antara keduanya. Sistem ini, selain menjamin adanya kerjasama yaitu kerjasama yang membawa kebaikan bagi individu dan masyarakat tatkala mereka saling berinteraksi, juga menjamin terwujudnya nilai-nilai akhlak yang luhur. Dalam Islam interaksi manusia harus tetap menjadikan tujuan tertinggi yaitu keridhaan Allah dan untuk meraih Syurga-Nya. Jadi, hubungan tersebut tetap menjaga kesucian pria dan wanita dan meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.

Khatimah
Pernikahan merupakan pintu awal untuk menjalin hubungan seksual antara pria dan wanita selain kepada hamba sahaya. Islam telah menetapkan bahwa setiap hubungan lawan jenis selain dengan jalan tersebut adalah sebuah dosa besar yang layak diganjar dengan hukuman yang keras. Di luar hubungan lawan jenis, yakni interaksi-interaksi lain yang merupakan manifestasi dari gharîzah an-naw‘ (naluri melestarikan jenis manusia) seperti hubungan antara bapak, ibu, anak, saudara, paman, atau bibi Islam telah membolehkannya sebagai hubungan silaturahim antar mahram. Islam juga membolehkan wanita atau pria melakukan aktivitas perdagangan, pertanian, industri, dan lain-lain; di samping membolehkan mereka menghadiri kajian keilmuan, melakukan shalat berjamaah, mengemban dakwah, dan sebagainya.
Islam telah menjadikan kerjasama antara pria dan wanita dalam berbagai aspek kehidupan serta interaksi antar sesama manusia sebagai perkara yang pasti di dalam seluruh muamalat. Sebab, semuanya adalah hamba Allah SWT, dan semuanya saling menjamin untuk mencapai kebaikan serta menjalankan ketakwaan dan pengabdian kepada-Nya.(****).
Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. [] MZiS

Related posts