Jadi Agraris, Harus Optimis !

  • Whatsapp

Oleh: Purmaya
Siswa Kelas Beasiswa PT. TIMAH, T.bk SMAN 1 PEMALI

“Indonesia adalah negara agraris“

Pernyataan di atas sudah tak asing lagi, bahkan kita sudah mengenal Indonesia sebagai negara agraris dari tingkat Sekolah Dasar (SD) melalui pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Lalu apa itu negara agraris? Negara Agraris adalah negara yang mayoritas penduduknya memiliki mata pencarian pada sektor pertanian. Dari pengertian Negara Agraris tersebut Indonesia memang layak mendapatkan gelar Negara Agraris, hal ini dibuktikan dengan data yang diambil di (Okezone, 5 Maret 2017).
“Berdasarkan lapangan pekerjaannya, pada Februari 2017, penduduk Indonesia paling banyak bekerja di sektor pertanian. Di sektor ini sedikitnya ada 39,68 juta orang yang bekerja, atau 31,86% dari total penduduk bekerja ”.
Dari data tersebut dapat kita ketahui bahwa mata pencarian sebagian besar masyarakat Indonesia adalah sektor pertanian atau dengan kata lain Indonesia adalah Negara Agraris. Sebagai Negara Agraris seharusnya Indonesia bisa mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri, bahkan mengekspor hasil pangan kepada negara lain. Namun kenyataannya, bukannya mengekspor, Indonesia malah mengimpor kebutuhan pangan dari luar negeri. Sebenarnya, jika kita melihat letak geografis dan geologis Indonesia adalah negara yang sebagian besar wilayahnya memiliki tanah subur dan iklim yang mendukung untuk pertanian.
Melihat faktor pendukung untuk pertanian yang menjamin, lalu sebenarnya apa penyebab kekurangan pangan yang terjadi di Indonesia? Ternyata penyebab kekurangan pangan di Indonesia ini salah satunya adalah kurangnya teknologi modern untuk mengelola pertanian. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih melakukan pengelolaan pertanian secara tradisional yang menyebabkan hasil panen yang tak seberapa dan kualitas bahan pangan yang kurang bagus. Jika kita bercermin pada negara yang memiliki luas wilayah yang sempit, tapi mereka mampu mencukupi kebutuhan pangan, bahkan beberapa di antaranya justru mengekspor hasil pertanian mereka ke negara luar. Negara -negara tersebut memanfaatkan teknologi modern untuk meningkatkan hasil panen.
Mirisnya lagi, dari pertanian di Indonesia adalah tingginya harga bahan pangan dan yang terdampak dari permasalahan pangan tersebut sebagian besar adalah para petani, seperti dikutip dari data (Kompas, 3 April 2018) “Selain melambungnya harga pangan yang memberatkan konsumen, petani justru tidak mendapatkan keuntungan dari hal ini. Sebanyak dua per tiga dari petani Indonesia adalah konsumen yang terkena dampak dari tingginya harga pangan. Mereka yang terdampak adalah para petani skala kecil yang memegang kurang dari 0,25 hektar lahan di Jawa Tengah dan hanya menghasilkan Rp 500.000 atau sama dengan 36,35 dollar AS per orang “.
Menindaklanjuti dari permasalahan di atas, permasalahan ini adalah tanggung jawab generasi muda Indonesia sebagai penerus bangsa yang akan memimpin bangsa ini. Generasi muda Indonesia harus bisa mengubah sistem pertanian di Indonesia menjadi jauh lebih baik. Generasi muda yang dibutuhkan untuk mengubah sistem pertanian Indonesia menjadi lebih baik adalah generasi yang berilmu, bekerja banyak menggunakan otak dan sedikit menggunakan otot, bisa menggunakan teknologi modern bahkan menciptakan teknologi baru untuk pengelolaan pertanian dan bisa memanfaatkan kelebihan bangsa ini seperti wilayah yang luas dan subur menjadi potensi besar untuk mengembangkan pertanian di Indonesia.
Masalah di bidang pertanian ini harus menjadi perhatian dari generasi muda, karena dengan pertanian, kita bisa memenuhi kebutuhan pangan, mengingat pentingnya pangan bagi sebuah negara. Seperti ungkapan Ir.Soekarno “soal pangan adalah soal hidup mati suatu negara“. Ungkapan Ir. Soekarno tersebut menjelaskan betapa pentingnya pangan bagi suatu negara. Negara yang kebutuhan pangannya terpenuhi dan masyarakatnya mudah untuk mendapatkan pangan akan menjadi bangsa yang makmur, karena dengan begitu semua aktivitas yang berjalan untuk memajukan negara akan berjalan dengan baik, masyarakat tidak akan memikirkan kebutuhan pangan lagi, tapi fokus membangun negaranya. Untuk mewujudkan hal tersebut, Indonesia harus memiliki sistem pertanian yang baik.
Peran generasi muda untuk mengembangkan pertanian di Indonesia harus di dukung oleh peran dari pemerintah seperti penyediaan teknologi dan sumber belajar yang berkualitas supaya mereka lebih mudah untuk mendapatkan pengetahuan dan mampu memanfaatkan teknologi yang ada dengan baik dan optimal. Pemerintah juga harus lebih memperhatikan sektor pertanian di Indonesia mengingat begitu banyak kelebihan Indonesia yang memberikan potensi besar dalam mengembangkan sektor pertanian. Sayang rasanya jika tidak dimanfaatkan secara maksimal. Selama ini, pemerintah memang sudah cukup banyak melakukan perubahan untuk memperbaiki sistem pertanian, namun nampaknya perubahan tersebut belum berpengaruh besar terhadap sistem pertanian di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan perubahan yang lebih, dimulai dari pembentukan generasi muda yang peduli akan pertanian negeri ini, supaya Indonesia menjadi negeri yang makmur.(***).

Related posts