Islam dan Listrik Masuk Desa

  • Whatsapp

Oleh : Ust. Denny Syaputra

Ada cerita menarik yang penulis alami saat masih menuntut ilmu di Kota Hujan. Setiap bulan ada kajian rutin yang penulis sempatkan hadir untuk memelihara keimanan dan ketaqwaan kepada Allaah swt yang disampaikan oleh anggota pengurus pusat salah satu orkemas Islam terbesar di Indonesia. Pengajian rutin bulanan tersebut seperti biasanya dihadiri oleh orang-orang yang merindukan penerapan syariah Islam secara kaafah. Malam itu masjid besar yang dijadikan tempat pengajian sudah penuh sesak. Materi yang amat berkesan bagi penulis dari pemateri sampaikan malam itu adalah tentang Islam yang diibaratkan listrik masuk desa.
Alkisah, sang ustadz menceritakan bahwa jika hari ini masih ada desa yang malamnya belum diterangi cahaya dari lampu listrik, maka desa tersebut tergolong desa tertinggal. Supaya tidak terus terusan menyandang status desa tertinggal, maka desa tersebut harus segera berbenah, dan salah satunya adalah harus merealisasikan program listrik masuk desa. Singkat cerita, sebelum program ini dilancarkan ternyata sudah beredar isu negatif tentang listrik masuk desa di kalangan penduduk. Ternyata ada sekelompok anggota masyarakat desa tersebut menolak keras program listrik masuk desa. Mereka yang menolak ini berpendapat dan yakin bahwa program listrik masuk desa akan membawa bencana di desa mereka. Alasannya mereka takut kesetrum, kebakaran, shock dan sebagainya.
Ternyata selama ini di desa tersebut gencar sekali kampanye tentang potensi bahaya arus dan tegangan listrik bagi manusia yang dilancarkan oleh sekelompok tertentu. Wajar saja jika kemudian banyak penduduk desa akhirnya mendapatkan gambaran negatif tentang listrik masuk desa karena hampir setiap hari mereka dijejali informasi yang menakutkan tentang sengatan arus dan tegangan listrik yang dapat mencederai bahkan mematikan tersebut. Padahal, jika program listrik masuk desa itu dilaksanakan sesuai dengan tahapan prosedur bakunya, baik standar instalasi maupun aturan penggunaannya maka tentu saja kejadian-kejadian mengerikan tadi tidak akan terjadi begitu saja.
Kisah ini, menurut sang ustadz tak ada bedanya dengan gambaran Islam hari ini yang mengisi relung perasaan dan pemikiran sebagian besar umat Islam di negeri ini. Islam yang tergambar di benak mereka adalah wajah Islam yang kasar dan menakutkan, anti kebhinneka-an dan biang perpecahan. Padahal, menurut pak ustadz, ajaran Islam itu memang keras jika berhadapan dengan kekufuran dan kemunkaran. Sampai di sini penulis teringat lagi dengan pengajian dari seorang ustadz dalam kesempatan berbeda yang menjelaskan bahwa sebagai muslim kita tidak perlu merasa terhina apalagi berdosa ketika menyadari ternyata aturan Islam itu tidak demokratis (jika diartikan sebagai mengutamakan suara terbanyak dari manusia).
Sebab jika Islam itu demokratis maka Allah tidak boleh sepihak mengklaim diriNya sebagai Tuhan Yang Esa, harus berunding dulu dengan sebagian besar manusia di dunia. Jika Islam harus demokratis maka Muhammad tidak boleh atau dilarang keras mengklaim dirinya adalah utusan Allaah swt sebelum ada keputusan dari suara terbanyak atau mayoritas manusia. Bukankah selama ini memang semua aturan Islam berasal dari Allaah swt yang tidak perlu konsultasi atau meminta pendapat satu manusia pun untuk menetapakan atau memutuskan sesuatu, kun fa yakuun; jadilah maka jadilah ia.
Tidak menutup kemungkinan mereka yang masih memiliki gambaran keliru tentang Islam adalah orang terdekat di kiri atau kanan kita. Hal inilah yang mendorong kita semua sebagai umat Islam harus memahamkan kembali setiap diri dengan dasar pemikiran dan metode penerapan syariah Islam yang sahih. Dengan bekal ini maka upaya untuk membangkitan umat ini dengan penerapan syariah di segala bidang kehidupan akan mendapat izin dan pertolongan (nashrullah). Semoga Allah senantiasa memberi dan menjaga pemahaman kita tentang Islam adalah pemahaman yang murni dan argumentasi terkuat, aamiin. (***)

Related posts