IPAL Desa Kepoh Tidak Berfungsi, Warga Pilih BAB di Sungai

  • Whatsapp
Bangunan Retak- Seorang warga menunjukkan bangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Desa Kepoh, Kabupaten Bangka Selatan yang retak. Bangunan IPAL itu dibangun pada tahun 2017 dengan anggaran Rp400 juta. (foto: Dedy Irawan)

Bangunan Terancam Amblas

TOBOALI – Sejumlah warga pesisir Sungai Desa Kepoh, Kabupaten Bangka Selatan (Basel) saat ini lebih memilih buang air di sungai ketimbang di bangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dibangun tahun 2017 silam. Pasalnya pembangunan IPAL yang menelan dana sekitar Rp 400 juta tersebut kini tak berfungsi maksimal. Bahkan, menurut warga bangunan IPAL tersebut terancam amblas. Saat ini tak ada lagi warga yang terlihat hilir mudik keluar masuk IPAL.

Sejumlah bangunan seperti toilet, mesin air, pintu hingga keran sudah tidak lagi berfungsi. Selain itu, sejumlah pondasi serta tembok bangunan banyak yang retak. Bahkan bangunan septic tank terlihat bocor dan mengeluarkan air serta bau tak sedap. Tabung septic tank tersebut digunakan menampung sejumlah kotoran yang berasal dari rumah warga setempat.

“Tidak lama setelah di bangun, IPAL ini sudah tidak bisa lagi digunakan. Baru-baru dulu kami masih sering buang air di IPAL, sekarang mending buang air di sungai, langsung. Ini sudah rusak, bau lagi,” keluh Manaf, seraya menunjuk bangunan yang rusak kepada wartawan, Jumat (15/3/2019).

Selain tak berfungsi maksimal, bangunan IPAL di Desa Kepoh ini juga terancam amblas. Hal ini diungkapkan Herman, salah satu warga setempat. Menurut Herman, tak menutup kemungkinan lambat laut, bangunan IPAL amblas. Terlebih, bangunan yang bersumber dari dana DAK tersebut berdiri persis di bawah curam Sungai Desa Kepoh.

Menurut Herman, ada beberapa penyebab keretakan serta kemiringan bangunan IPAL. Salah satunya, tidak maksimalnya penimbunan tanah puru saat pembangunan pondasi.Ditambah bangunan berada di tanah curam yang tak jauh dari sungai.

“Mungkin waktu penimbunan kemarin tidak penuh, dan tanah puru nya tidak padat. Alhasil, saat ini pondasi bangunan bagian bawah sudah banyak yang retak,” ujar Herman seraya menunjukkan bangunan pondasi yang tampak retak menganga.

Warga pesisir juga mengeluhkan bau tak sedap yang keluar dari septic tank IPAL. Bau tersebut, bersumber dari genangan air pembuangan toilet rumah warga yang tergenang akibat kebocoran septic tank. Tak hanya septic tank, namun kebocoran juga berasal dari pipa dari rumah warga menuju IPAL

Menurut Herman, timbulnya genangan air pembuangan tersebut telah berlangsung lama. Tak hanya dari dalam IPAL saja, namun tak jarang bau busuk tersebut menyebar hingga ke pemukiman warga. “Kadang baunya sampai ke rumah. Karena tak hanya bocor di septic tank saja, tapi di pipa-pipa penyambungan ini juga banyak yang bocor,” ungkap Herman.

Sementara itu, Kades Kepoh Udayasa, membenarkan jika bangunan IPAL tersebut, tak lagi difungsikan warga. Menurutnya, kerusakan tersebut telah disampaikan ke pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bangka Selatan.

Menurut Udayasa bangunan proyek yang bersumber dari dana DAK telah berumur dua tahun. Selain itu, tidak adanya biaya perawatan bangunan IPAL. “Staf PU ada ke lokasi. katanya akan ditindak lanjuti PPK nya. Bangunan itu sudah dua tahun dan tidak ada biaya perawatannya. kalau tidak salah pakai dana DAK, setelah dilaporkan kemarin pipanya sudah dipasang oleh PU,” ujar kades. (raw/6)

Related posts