Inovasi Pembelajaran Berbasis Channel Interaktif

  • Whatsapp
Penulis : Feri Adiasto, S.Kom
Guru Produktif Multimedia SMK Negeri 1 Tempilang, Bangka Barat, Babel

Youtube saat ini, menjadi media hiburan sekaligus fasilitas pendidikan yang digemari berbagai kalangan tak terbatas. Bagaiamana Youtube bisa menjadi media pembelajaran yang berpusat pada siswa? Simak pengalaman empiris penulis pada tulisan berikut ini.

Sejak pandemi corona melanda dunia, banyak guru, akademisi, praktisi, bahkan para petinggi negeri menjadi lebih peduli dengan pembelajaran berbasis teknologi, utamanya menggunakana teknologi internet. Dukungan petinggi negeri melalui realisasi dari Kemendikbud yang menayangkan program belajar melalui salah satu stasiun TV plat merah juga patut diapresiasi. Langkah Kemendikbud tentu bermaksud baik dan tak perlu diperdebatkan meski jika penulis boleh memberi saran, ini merupakan suatu langkah yang kurang tepat sasaran.

Beberapa riset menyimpulkan bahwa anak-anak generasi kini bukanlah generasi televisi. Hanya sekitar 24% dari mereka yang menonton televisi dan saluran tontonan pilihan mereka juga saluran TV Swasta. Justru penulis berpikir edukasi melalui televisi lebih mengena jika segmentasinya adalah orang tua dan guru, mengingat golongan ini, memang memiliki kebiasan sedari dulu mendapatkan informasi melalui berita dan program dari televisi. Terlebih saat ini, belum banyak informasi dan panduan yang diperuntukan kepada para orangtua dan guru ikhwal teknis proses belajar mengajar daring semasa pandemi. Jika informasi terkait pembelajaran yang dilakukan secara daring ini, dipahami dengan seksama oleh para orang tua dan guru, penulis sangat optimis orang tua dan guru akan lebih optimal berperan memfasilitasi dan mendukung anak melakukan kegiatan belajar daring dari rumah sehingga pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan.

Karakteristik televisi yang hanya satu arah bisa jadi merupakan alasan mendasar anak-anak generasi kini enggan menonton televisi. Bagi generasi Z dan generasi alfa, kegagahan teknologi video yang ditampilkan melalui televisi telah mantap tergantikan oleh teknologi video berbasis internet. Youtube adalah teknologi video berbasis internet yang paling populer diseluruh dunia walaupun ada banyak juga teknologi video berbasis internet lainnya. Youtube yang memiliki interaktivitas tinggi membuat generasi kontemporer ini kecanduan untuk selalu membuka laman Youtube melalui smartphone maupun perangkat digital lainnya. Alhasil, banyak channel-channel Youtube termasuk channel Youtube bermuatan pendidikan yang berisi tutorial praktik penggunaan software atau aplikasi, materi-materi belajar, panduan dan tips belajar dari rumah, talkshow dengan para guru, akademisi, profesional bermunculan bak embun pagi yang menyegarkan. Jargon “jangan lupa like, komen, dan subscribe-nya” berhasil membuat Youtube menjadi one of the best television ever.

Baca Lainnya

Dari fenomena di atas, penulis kemudian memiliki ide yang penulis terapkan dalam kegiatan pembelajaran dengan siswa. Ide ini, penulis terapkan pada Mata Pelajaran Teknik Pengolahan Audio Video di kelas XII Multimedia SMK Negeri 1 Tempilang. Masing-masing siswa diminta untuk membuat channel Youtube-nya sendiri. Tujuan utama siswa membuat channel Youtube mereka awalnya memang sebagai wadah pengumpulan tugas portofolio atau tugas praktik berbentuk video Mata Pelajaran Teknik Pengolahan Audio Video. Namun, seiring jalannya waktu, mereka juga dibebaskan untuk mengisi channel mereka diluar dari tugas Mata Pelajaran Teknik Pengolahan Audio Video yang diberikan guru. Penulis memang merupakan golongan yang percaya bahwa kreativitas adalah salah satu modal utama untuk sukses di era masa kini, dan sebagai seorang guru, menumbuhkan kreativitas siswa dapat dimulai dari membuat konten kreatif berbasis video diruang publik yang mana publik bisa menonton dan memberikan feedback atas video yang dibuat.

Sebelum siswa mengisi channel mereka dengan konten berbasis video, penulis memberikaan pengetahuan dan pemahaman tentang undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), apa yang boleh dibagikan dan apa yang akan menjadi masalah jika dibagikan ke ruang publik. Siswa diberikan gambaran kasus-kasus yang pernah mencuat berserta akibat dari tindakannya. Semisal tentang perkara plagiasi, mengupload video karya orang lain di channel mereka tanpa izin dari orang yang bersangkutan, membagikan konten video bermuatan pornografi dan SARA, membuat konten video yang berpotensi mencemarkan nama baik perorangan, badan usaha, maupun instansi baik secara tersirat maupun tersurat, dan sebagainya.

Guna memudahkan penilaian hasil belajar, maka penulis meminta tiap-tiap siswa untuk men-subscribe channel Youtube penulis. Kemudian siswa saling men-subscribe channel sesama teman mereka selain agar channel Youtube mereka menjadi semakin “ramai”, saling men-subscribe channel juga membantu mengingatkan, karena terdapat notifikasi untuk para subscriber jika sang Youtuber mengupload video baru, bisa jadi video yang diupload Youtuber tersebut adalah video tugas yang harus dikumpulkan.

Tanggapan beragam dikemukakan oleh para siswa, salah satunya tanggapan menggelitik yang diutarakan oleh Riyan Mahesa, karena salah satu video yang ia bagikan ke ruang publik berisikan informasi tentang Covid-19 pada channel Youtube miliknya di hari yang sama ia bagikan ke ruang publik telah ditonton sebanyak 100-an viewer dan telah disubscribe oleh 70 orang subsciber. Video berisikan informasi tentang Covid-19 karya Riyan Mahesa dapat ditonton pada link https://youtu.be/wiJhfeGojmk.

Ia pun berseloroh dengan jenaka bahwa Youtube seperti ilmu sihir, dalam waktu singkat ia dikenal oleh banyak orang dari beda daerah. Lain halnya dengan Muhammad Dahlan, kendati ia tak “laris manis” seperti Riyan Mahesa, namun bisa memiliki channel Youtube dan menelurkan karya di channelnya sudah membuat ia senang, ia menjadi salah satu siswa yang  bersemangat tiap kali guru meminta siswa mengumpulkan tugas melalui channel Youtube mereka.

Langkah inovatif mengemas pembelajaran berbasis channel interaktif yang penulis lakukan di atas mendapat tanggapan positif dari kepala sekolah tempat penulis bertugas. Memang, Bapak Alzam sebagai Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Tempilang selalu menekankan kepada semua guru untuk menggunakan teknologi dalam menyajikan pembelajaran kepada siswa.

Guru menugaskan siswa mengumpulkan tugas berbasis video melalui channel Youtube tentu bukan hal yang baru, mungkin pula sudah ada guru yang melakukan hal ini lebih dulu, namun pembelajaran yang berpusat pada siswa ini, bisa dijadikan strategi yang perlu terus digalakkan agar lestari. Ini pula yang menjadi wujud nyata spirit penulis yang mengenali gaya belajar siswa generasi digital. Tentu saja, peran guru tak lantas tuntas setelah menyelesaikan pemberian materi dan nilai belajar kepada siswa. Jauh lebih penting dari itu, guru harus menjadi seorang yang digugu dan ditiru, agar siswa tumbuh menjadi sosok yang kreatif dan mampu menggali potensi diri serta jeli melihat peluang dengan memanfaatkan teknologi, karena ini adalah modal besar bagi siapapun yang ingin memenangkan persaingan di era teknologi internet tanpa batas. (***).

 

Related posts