Ini Tips dari OJK Agar Terhindar dari Investasi Bodong dan Pinjaman Online Ilegal

  • Whatsapp
Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tongam L Tobing

RAKYATPOS.COM, YOGYAKARTA– Masyarakat harus cerdas dalam memilih investasi, jangan sampai terjebak dalam investasi bodong, yang justru merugikan bukan menambah keuntungan.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tongam L Tobing memberikan tips agar masyarakat bisa terhindar dari investasi bodong.

Read More

“Empat tips ini yaitu cerdas meminjam, pertama meminjam ke fintech peer to peer yang legal, kemudian pinjamlah sesuai kebutuhan dan kemampuan, meminjam itu untuk kepentingan yang produktif,” imbau Tongam disela-sela pelatihan dan gathering media massa KR 7 Sumbagsel yang digelar OJK di Yogyakarta, Jumat (21/2/2020).

Tips keempat, sebutnya, adalah masyarakat harus memahami manfaat melakukan pinjaman maupun investasi, terlebih harus memahami manfaat, biaya, bunga, jangka waktu, denda dan risikonya.

Masyarakat, kata dia, juga perlu edukasi agar bisa memahami dan mengerti agar tidak terjebak dalam investasi bodong maupun pinjaman online atau pinjol yang merugikan.

“Semakin terdidik masyarakat semakin sempit gerak pinjol ini, hanya ada dua L, legal dan logis. Kenali legalitas, hanya yang ada izinnya, badan hukumnya jelas, kegiatan produk, kalau nggak ada nggak usah diikuti,” ingatnya.

Kemudian, lanjutnya, masyarakat juga harus berpikir logis, jangan mudah tergiur dengan tawaran menarik jika ikut dalam investasi, misalnya mendapat bonus mobil dan sebagainya.

“Ya, harus berpikir logis, nggak mungkin orang bikin kita kaya eh dia-nya ngggak kaya, nggak mungkin investasi tujuh juta bisa dapet bonus Fortuner,” ulasnya.

Sebetulnya, tambah Tongam, bukan semua kesalahan fintech yang menyediakan jasa, tetapi masyarakat yang masih mudah percaya dan tergiur dengan gaya hidup yang mewah.

“Masyarakat yang harus kita didik, mudah tergiur masa karena iming-iming, karena kondisi ekonomi masyarakat nggak ada uang, makanya terpaksa minjam,, tidak berfikir matang, dan sengaja nggak bayar,” ulasnya.

Oleh karenanya, masyarakat harus berhati-hati, tidak mudah tergiur dengan keuntungan dan iklan yang ditawarkan dengan tidak wajar.

Tongam menambahkan, untuk fintech yang legal, memang memberikan manfaat kepada masyarakat, bahkan sekitar 18,5 juta masyarakat yang memanfaatkan dan terbantu dengan adanya fintech ini.(nov)

Related posts