Infrastruktur dan Konektivitas Dunia Pendidikan

  • Whatsapp

Oleh: Arief Hidayat
Alumni Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad Bandung, Tinggal di Pangkalpinang
Pegiat Kajian Sosial Politik Bangka Belitung

Arief Hidayat

Sampai dengan saat ini, pendidikan masih menjadi salah satu instrumen penting demi menjamin peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kondisi ini tidak dapat lagi ditawar mengingat perkembangan dalam peningkatan kemampuan dan kualitas manusia menjadi salah satu indikator maju atau tidaknya suatu bangsa. Ada beberapa hal yang menjadi landasan kuat mengapa pendidikan merupakan instrumen yang harus dioptimalkan dalam pencapaian peningkatan kemampuan (kapabilitas) seseorang, diantaranya: Pertama, pendidikan merupakan media dalam menanamkan nilai-nilai dan transfer pengetahuan. Dalam pendidikan segala hal yang sebelumnya tidak diketahui menjadi tahu dan sebelumnya tidak pernah terfikirkan menjadi terfikirkan, dalam pergulatan pemikiran ilmiah dan logis.
Kedua, pendidikan dijadikan sebagai instrumen untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, sehingga tujuan pendidikan sejatinya adalah memanusiakan manusia, atau menjadikan manusia seutuhnya, tidak sepotong-sepotong. Ketiga, pendidikan masih menajdi alat mobilitas sosial yang paling efektif dalam masyarakat. Pendidikan ini akan membedakan kualitas orang perorangan dan menjadikannya insan unggul yang memiliki kemampuan lebih dibanding dengan yang tidak mengeyam pendidikan. Keempat, seluruh instrumen yang terkait dalam dunia pendidikan mampu mendorong lahirnya kemajuan, melalui transfer nilai sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan bukan hanya mencerdaskan secara kognitif, namun juga secara emosional, psikologi dan juga spiritual. Maka, tepatlah jika pendidikan tidak bisa dipandang sebalah mata dan diselengarakan dengan tanpa konsep tujuan yang jelas, namun justru harus tetap menjadi prioritas utama karena pendidikan menentukan masa depan individu dan bahkan suatu bangsa.

Pentingnya Infrastruktur dan Konektivitas
Dalam dunia pendidikan memang terdapat banyak komponen yang terlibat, mulai dari pendidik, peserta didik, materi pendidikan, media pembelajan, sarana dan prasarana pendidikan dan lain sebagainya. Dalam hal ini penulis menitik tekankan pentingnya infrastruktur dan konektivitas pendidikan sebagai salah satu syarat meningkatkan kualitas pendidikan. Infrastruktur ini penting mengingat masih banyaknya problem yang dihadapi dalam meningkatkan kuantitas bahkan kualitas infratruktur pendidikan di negara kita. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016 yang dilansir dari laman data.go.id memperlihatkan bahwa mayoritas ruang kelas sekolah di Indonesia masih dalam kondisi rusak. Dari 1,6 juta ruang kelas yang ada hanya 29,3 persen ruang kelas dalam keadaan baik, sisanya dalam kondisi rusak ringan, sedang dan berat. Kondisi ruang kelas rusak paling banyak terdapat di Sekolah Dasar (SD). Sebanyak 46,5 persen atau 774 ribu ruang kelas rusak ada disana.
Persoalan mengenai infratruktur ini, harus menjadi perhatian tersendiri mengingat dengan kondisi infrastruktur yang buruk, menyebabkan kualitas kegiatan pembelajaran menjadi kurang efektif. Rasa takut akan bangunan sekolah yang dapat roboh sewaktu-waktu menjadi ancaman tersendiri bagi anak-anak kita yang sedang mengeyam pendidikan khususnya dalam jenjang SD. Meskipun alokasi anggaran pendidikan dalam APBN sudah mencapai 20 persen, namun buruknya infrastruktur ini justru masih menjadi persoalan. Disinilah letak bagaimana pemerintah secara khusus dan kita masyarakat bahu-membahu demi mewujudkan keamanan dan kenyamanan bagi anak-anak kita dalam memperoleh ilmu tanpa dihinggapi rasa takut. Pembenahan menjadi sangat penting mengingat usia sekolah dasar menjadi yang terbesar dengan infrastruktur yang buruk. Alokasi belanja pemerintah perlu memperhatikan besarnya kebutuhan ini, disamping juga alokasi untuk kebutuhan lain. Para pihak melalui swasta dan juga lembaga non pemerintah perlu semakin konsen untuk memberikan kontribusi positif demi adanya perbaikan yang simultan dalam upaya mengatasi persoalan ini.
Selain infrastruktur kiranya yang terpenting juga adalah adanya konektivitas nilai antar sekolah, antar daerah dan juga antar negara dalam proses transfer pengetahuan, tukar menukar budaya, sumber daya dan juga hal-hal lain. Tujuan dari adanya konektivitas ini adalah untuk memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan serta secara luas dapat ditujukan untuk mendorong pemahaman akan pentingnya toleransi, lebih lagi mengikat kebhinekaan kita sebagai warga bangsa Indonesia. Apalagi dengan adanya ancaman laten yang selama ini semakin muncul dipermukaan. Aksi terorisme intimidasi dan kekerasan atas nama SARA masih melingkupi peri kehidupan bangsa kita meskipun sudah lebih dari 70 tahun kita merdeka. Ini artinya, konektivitas melalui pembelajaran lokal serta pembelajaran lainnya yang sekiranya sangat menunjang bagi perkembangan intelektual dan diskursus pengatahuan di bangku sekolah perlu segera diwujudkan atau diperkuat.

Snobisme Intelektual
Problem lainnya yang tak kalah penting dalam dunia pendidikan setelah dua kasus di atas adalah mengenai snobisme intelektual. Meminjam istilah Agus Irkham (2012), snobisme intelektual justru mungkin yang terjadi saat ini di negara kita. Rendahnya dukungan infrastruktur dan juga konektivitas jangan-jangan merupakan salah satu bukti saja dimana sangat rendahnya fungsi pembelajaran serta fasilitas yang ada didalamnya. Kondisi ini menggambarkan bahwa ada mungkin sesuatu yang harus segera dibenahi dalam bidang pendidikan kita. Jika kita melihat dari besaran APBN yang telah dikucurkan untuk pendidikan ternyata tidak mencerminkan adanya pemerataan atau bahkan peningkatan yang signifikan terhadap pendidikan kita. Hal ini paradoks dengan jargon bahwa modalitas dana menjadi salah satu yang paling menentukan dalam membanguin kualitas pendidikan. Bahkan ada adagium yang menyatakan bahwa jika kita menginginkan barang yang berkualitas maka bersiaplah dengan harganya. Alokasi dana yang besar, mungkin perlu untuk ditata ulang agar tidak ada lagi kesenjangan yang ada antara fasilitas dunia pendidikan dan apa yang ada didalamnya. Persoalan yang sangat perlu untuk segera ditindaklanjuti untuk membenahi upaya perbaikan dalam dunia pendidikan kita mungkin perlu bergeser bukan hanya menitik tekankan pada kualitas pendidik, namun juga mesti memperhatikan ouput dan juga sarana prasarana dunia pendidikan yang tentu saja tidak boleh dinafikkan.
Snobisme intetelktual yang telah disinggung di atas mencerminkan suatu kondisi dimana simbol masih memegang peran penting dalam pendidikan kita. Seharusnya kualitas pendidikan bukan hanya diukur dari apa yang menjadi, namun mesti dilihat dari apa yang dihasilkan dan apa dampak perubahannya bagai individu peserta didik dan juga masyarakat secara umum. Atau dalam istilah lain masyarakat kita masih berkutat pada modal simbolik. Modal simbolik dalam masyarakat konsumer dipercaya mampu memberikan status tertentu pada individu yang mengkonsumsinya. Media pembentukan personalitas, gaya, citra, gaya hidup dan status sosial (Yasraf, 2004). Jika modal simbolik yang menjadi tujuan dari adanya perbaikan dunia pendidikan, maka tentu jalan yang ditempuh ini sudah salah kaprah dan tidak sesuai dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa yang telah menjadi salah satu cita-cita para pendiri negara kita. Berpijak pada tujuan atau cita-cita yang telah ditetapkan dalam preambule UUD 1945 ini, maka sudah selayaknya kita sebagai generasi penerus yang mencoba untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita ini agar menjadi kenyataan. Olehs ebab itulah maka titik tekan dalam perbaikan kualita ini tidak hanya berada pada insan pegiat dunia pendidikan namun juga meliputi aspek infrastruktur dan juga konektivitas. Tanpa semau itu, maka perwujudan kualitas pendidikan yang integral hanya akan menjadi snobisme dalam dunia pendidikan, seolah berkualitas namun sebenarnya fatamorgana. Wallahu’alam.(****).

Related posts