by

Indonesia Yang Tak Pernah Tergadaikan

Karya: Rusmin

Perempuan berbadan tegap itu tak berkutik. Narasi dari lelaki berbadan kurus dan tua tak mampu dilawannya dengan kata-kata. Hanya tatapan matanya yang masih terlihat garang. Segarang saat dirinya mengangkat barbel di pentas olahraga.
Sayang, kegarangan jiwa dan matanya tak mampu melawan arus yang datang menghampiri jiwanya yang terkoyak dimakan kerasnya kehidupan dunia yang seolah tak mengenal perikemanusian. Kesedihan melanda hidupnya. Derita hidup yang harus diterimanya usai mengakhiri masa keemasannya sebagai atlet nasional. Anaknya terbaring lemah di sebuah rumah sakit.
“Saya ke sini untuk menyelamatkan medali yang ibu pertaruhkan dengan keringat bahkan airmata. Saya ingin menghargai prestasi ibu,” kata lelaki tua itu dengan nada meyakinkan.
“Tapi kok murah sekali nilainya, Pak,” balas perempuan bertubuh atletis itu dengan tatapan penuh memelas.
“Itu sudah mahal, bahkan nilai termahal yang pernah saya tawarkan kepada mantan atlet lainnya yang perlu pertolongan,” lanjut pria kurus itu.
Perempuan itu terdiam. Tak memberi jawaban pasti. Hanya helaan nafas panjang yang keluar dari hidungnya. Sepanjang perjalanan kariernya sebagai atlet yang mengharumkan nama bangsa di percaturan bangsa-bangsa di dunia demi martabat bangsa, baru kali ini dia mengalami kesusahan hidup yang membuat tubuh atletisnya sempoyongan dimakan zaman. Demi bergemanya Indonesia Raya di jagad raya ini, tak pernah dia merasakan kepedihan hidup yang amat lara ini.

***

Perempuan berbadan kekar itu teringat kembali dengan omongan ayahnya yang sejak awal menentang untuk mendedikasikan diri sebagai atlet. Sebagai olahragawan. Tapi tekad bulat yang menjalari sekujur tubuhnya tak mampu dihalangi ayahnya. Dia ingin mengharumkan nama bangsa. Sudah saatnya kita sebagai anak bangsa memberikan sesuatu yang berguna bagi nama harum bangsa.
“Jangan engkau tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah engkau berikan buat negara ini,” kalimat itu selalu terngiang di otaknya yang cerdas.
“Apa ayah tak bangga kalau anakmu ini bisa mengibarkan Sang Saka Merah Putih di pentas dunia? Apa ayah tak bangga kalau lagu Indonesia Raya berkumandang di stadium terkenal dunia?” tanyanya.
“Ayah bangga sekali, Nak. Bangga sekali. Sebagai anak bangsa sudah menjadi kewajiban kita memartabat bangsa. Tapi setelah itu apa yang akan engkau terima? Paling-paling penyambutan. Dan dimuat di koran. Setelah itu….,” ayahnya tak melanjutkan kata-kata. Matanya menatap nanar pohon pisang yang sudah lama tak berbuah di samping rumahnya.
“Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang terbaik buat bangsa ini. Itu saja,” ujar perempuan itu.
“Kalau itu memang menjadi tekadmu, silahkan saja. Yang penting engkau tak menyesal di hari tuamu,” saran ayahnya dengan nada putus asa.

***

Perempuan itu berlatih dan berlatih dengan sekuat tenaga. Semua instruksi pelatih dilahapnya dengan kerja keras dibarengi hati yang bahagia. Berbalutkan semangat nasionalisme yang membara dalam dada sebagai anak bangsa. Tak heran kemampuannya mengangkat barbel terus menanjak. Berbagai kompetisi dijuarainya. Mulai dari level kabupaten hingga tingkat nasional. Namanya melambung tinggi diangkasa sebagai atlet nasional yang memiliki masa depan cerah. Wajahnya selalu menghiasi koran dan majalah. Dia merupakan satu atlet yang dipersiapkan negara untuk menyumbang medali dalam kompetisi angkat besi tingkat dunia.
“Saya yakin anak itu akan mampu menyabet medali dalam perhelatan olahraga tingkat dunia bulan depan,” ujar seorang petinggi negara yang membidangi olahraga.
“Iya, Pak. Ini momentum kita mengangkat harkat bangsa dimata dunia internasional. Dan yang paling penting nama Bapak pun akan tereskalasi di mata pimpinan tinggi bangsa ini,” ujar seorang pengurus olahraga.
Lelaki yang dipanggil bapak itu tersenyum lebar. “Setidaknya kalau atlet itu berhasil menyumbang medali, maka posisi saya sebagai petingi bidang olahraga akan aman. Tak tergoyahkan,” pikirnya dalam hati.
Sebagai anak muda, angan-angannya untuk mengharumkan nama bangsa adalah tekad yang harus diwujudkan. Apalagi dukungan yang diberikan petinggi olahraga menjelang persiapannya sungguh besar. Dia ingin menjadi pahlawan sebagaimana kisah pahlawan bangsa yang telah mengharumkan nama bangsa. Yang sering dibacanya dalam buku sejarah di perpustakaan sekolah. Bukan hanya uang saku yang melimpah, namun dukungan moril terus bergulir ke arahnya.
Dia merasa menjadi anak bangsa yang sangat istimewa. Mendapat perlakuan ekstra istimewa dari segenap lapisan masyarakat. Saat itu dia merasa bahwa dirinya adalah anak emasnya bangsa ini. Semua mata tertuju kepadanya. Semua perhatian diarahkan ke dirinya. Dia pun terangkat ke langit. Nama keluarga dan daerahnya tereskalasi ke langit nan biru.

***

Dan ketika dia mampu menjadi juara dunia, mampu menyumbang medali emas dalam perhelatan olahraga antar bangsa itu, namanya mendadak terkenal. Sangat terkenal. Semua orang membicarakannya. Mulai dari anak-anak hingga kaum dewasa. Seolah tiada hari tanpa membicarakan nama dan prestasinya. Seolah dengan membicarakan namanya dan prestasi emasnya, hidup ada kebahagian yang tak terperikan. Seakan-akan beban yang berat di pundak masyarakat terlepas sementara.
Perempuan itu makin tersanjung dan menjadi istimewa ketika kedatangannya kembali ke tanah air usai pesta olahraga dunia itu, disambut bak pahlawan perang yang baru pulang dari medan pertempuran. Dari mulai bandara hingga istana semua orang menyebut namanya. Mengelu-elukan prestasinya. Sejuta bonus mengalir bak air bah. Semua berebut menyumbang. Mulai dari perseorangan hingga elite politik. Seolah-olah mengaplikasikan prinsip kegotongroyongan yang menjadi simbol bangsa. Pundi-pundinya penuh.

***

Namun perempuan itu kaget. Suara lelaki kurus dan tua yang mengaku sebagai kolektor barang antik yang terus merayunya dengan narasi berbalut kesedihan, mengagetkannya. Dia tersentak. Tawarannya terus meninggi hingga perempuan itu tak mampu lagi mendengarkannya.
Suara lagu Indonesia Raya terus menjalari seluruh tubuhnya. Menghingarbingarkan telinganya. Nasionalismenya bangkit. Suara almarhum ayahnya seolah kembali terngiang mengaliri seluruh sendi tubuhnya yang perkasa. Dia pun terbangun dari mimpi sedihnya.
“Jangan sekali-kali engkau gadaikan medali emasmu ini. Berapapun nilai uangnya. Itu prasasti hidupmu,” pesan ayahnya.
Tiba-tiba suara perempuan bertubuh besar itu menggelegar. Mengagetkan lelaki tua dan kurus itu yang terus merayunya untuk menjual medali emasnya dengan menjadikan kesusahan hidup yang tengah dialaminya sebagai bujuk rayu dan senjata pamungkas. Tujuannya hanya satu, mendapatkan medali emas perempuan perkasa itu.
“Medali ini tak akan saya jual. Tidak akan pernah saya jual. Menjual medali ini sama saja saya telah menjual lagu Indonesia Raya. Apapun resikonya, sepahit apapun masalah hidup yang saya alami, medali ini tak akan saya jual,” ujar perempuan bertubuh perkasa itu.
Suaranya menggelegar. Menembus dinding nurani para petinggi bangsa yang sedang rapat di istana.
Tapi senja mulai tiba. Camar-camar menari di antara iringan awan yang putih. Kepaknya membentang luas. Seluas jaga cakrawala. Awan putih beringin di langit nan biru. Mengelilingi rumah reot perempuan perkasa yang masih tetap perkasa di masa senjanya. Sementara lelaki tua dan kurus itu segera ngacir. Meninggalkan perempuan perkasa itu dengan sejuta kekecewaan. (**)

Comment

BERITA TERBARU