Indonesia Negeri Mayoritas Muslim

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memastikan bahwa diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan segala syariat yang dibawa beliau bila diterapkan akan menjadikan rahmat untuk semesta alam sebagaimana firman-Nya“Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (TQS. Al-anbiya: 107).

Muat Lebih

Mahbub Zarkasyi

Dulu Indonesia disebut Nusantara. Di masa keemasan Khilafah Islam, Khalifah mengutus Ulama untuk mendakwahkan Islam di seluruh penjuru dunia. Kemudian di Nusantara Khalifah mengutus beberapa kali Ulama dari wilayah kekhilafahan untuk mendakwahkan Islam. Setiap pengiriman Khalifah mengirim 9 utusan atau wali yang kemudian kita kenal dengan istilah Wali Songo. Penyebaran Islam di Nusantara dilakukan dengan dakwah tanpa pengerahan pasukan. Para Raja yang menguasai wilayah-wilayah di Nusantara dengan banyak kerajaan menerima dakwah Islam yang ditandai dengan mereka masuk Islam. Setelah para raja masuk Islam dengan diterapkannya syariah Islam, rakyatnya pun berbondong-bondong memeluk Islam. Padahal, dalam Islam tidak ada paksaan dan tidak boleh dipaksa untuk memeluk Islam.
Peninggalan sejarah dakwah Islam itu sangat terasa hingga sekarang. Kerajaan yang dulu adalah penguasa tertinggi dalam pemerintahannya, kemudian berubah nama menjadi kesultanan. Kesultanan itu sebagai tanda di bawah kekuasaan Khilafah Islam yang tunggal yang dipimpin oleh seorang Khalifah di seluruh penjuru dunia. Istilah kesultanan tersebut hingga hari ini masih kita lihat masih digunakan di Yogyakarta. Bahasa di Nusantara yang hari ini disebut Indonesia pun banyak yang menggunakan bahasa Arab, seperti nama Hari, istilah benda dan lain sebagainya yang berasal dari Bahasa Arab. Yang lebih besar lagi peninggalan sejarah Islam adalah mayoritas penduduk di Nusantara memeluk Islam hingga sekarang.
Saat ini pun kesadaran kaum muslim yang dipaksa berhukum tidak dengan hukum Islam mulai nyaring terdengar suaranya untuk meminta kembali diterapkan syariah Islam. Hal ini wajar, karena Indonesia adalah negeri yang mayoritas muslim dan juga jumlah populasi muslim terbesar di dunia.
Istilah Serambi Makkah pun disematkan kepada Provinsi Nangroe Aceh Darussalam sebagai wilayah pintu masuk wilayah di Nusantara. Kemudian provinsi NAD yang ambil peran lebih awal sebagai provinsi yang memiliki hak istimewa boleh membuat perda syariah sesuai dengan Undang Undang No. 11 tahun 2006. Kemudian, daerah-daerah lainnya mulai berani menunjukkan kerinduan mereka terhadap syariah. Mereka mulai berani melarang terhadap apa yang Allah SWT larang. Sebagaimana yang dikatakan Dirjen Standarisasi Perlindungan Konsumen (SPK) Kemendag Widodo “Malah ada perda yang tertib di Bandung, Tangerang, dimana seluruh wilayahnya nggak boleh jualan minuman beralkohol,” (Detik.com, 29/04/2014).
Ada beberapa kepala daerah mengeluarkan Surat Edaran menghimbau jajarannya dan umat yang ia pimpin untuk menghentikan aktivitas mereka ketika adzan berkumandang dan menunaikan shalat fardhu berjamaah di awal waktu. Seperti yang dilakukan oleh Bupati Batang di akhir Tahun 2015, Walikota Bogor di akhir semester 1 tahun 2014, Walikota Samarinda di awal tahun 2016 lalu, dan masih banyak lagi kepala daerah yang melakukan hal yang sama. Hal ini tentu atas kerinduan mereka terhadap syariah Islam yang selama ini banyak dilalaikan oleh umat muslim. Selain kepala daerah yang menghimbau shalat berjamaah di awal waktu, turut juga kepala Instansi seperti General Manager Witel Jakarta Barat pada akhir Agustus 2015, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung di awal September 2015, atau dilakukan oleh beberapa kepala kepolisian daerah dan lain sebagainya.
Atau yang terbaru yaitu dikeluarkannya Peraturan Daerah pelarangan segala jenis minuman beralkohol (Khamr) di seluruh wilayah Kota Pangkalpinang pada pertengahan bulan Maret 2016. Semua ini menunjukkan begitu umat hingga penguasa merindukan syariah Islam agar menjadi rahmat di seluruh Nusantara. Apalagi setelah memanas dan mengetuk kaum muslim fakta penistaan agama yang dilakukan oleh Penguasa di Ibukota Negara. Kaum muslim dengan ikatan aqidah Islamnya bersatu padu mengorbankan harta, waktu, tenaga dengan meninggalkan keluarga dan segala aktivitas dunia lainnya. Mereka menghadapi setiap rintangan hingga berkumpul mendesak dihukum sang penista agama. Seruan tersebut pun berlanjut untuk kembali diterapkannya Syariah Islam di Indonesia sebagai hak mayoritas penduduk Indonesia.
Munculnya kerinduan umat muslim akan rahmat Allah bukan tanpa alasan. Teguran dan cobaan telah silih berganti menghantui Nusantara. Tsunami di Aceh, Tsunami di Mentawai Sumatera Barat, gunung meletus, tanah longsor, banjir bandang dan kebakaran hutan yang seolah langganan tiap tahun di bumi Nusantara milik Allah SWT ini. Belum lagi kemaksiatan yang merajalela saat ini seperti Korupsi, perzinahan, pembunuhan, aborsi, Narkoba dan lain-lain yang tiap tahun angkanya semakin bertambah. Terlihat yang lebih mengerikan yaitu Utang Indonesia yang semakin menumpuk, kelaparan, kemiskinan dan lainnya. Tentu ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar umat Islam sebagai umat mayoritas di Nusantara ini, karena telah menjadi warisan turun temurun yang sangat tidak menyenangkan.
Pergaulan manusia hari ini tak lagi syar’i, umbar aurat, berkhalwat, ikhtilath seolah hal biasa. Ribawi telah menjadi sistem ekonomi resmi di negeri ini, sedang sistem persanksian jauh dari apa-apa yang telah Allah SWT tetapkan. Sistem politik, pemerintahan, dan sistem lainnya sungguh sudah banyak melakukan pelanggaran dari Syariah-Nya.
Alhamdulillah, umat kini telah sadar atas upaya ormas Islam seperti Hizbut Tahrir dan ormas Islam lainnya yang terus menyadarkan umat akan bahaya meninggalkan Syariah Islam dalam kehidupan. Kemudian umat pun bahu membahu menyadarkan penguasa akan pentingnya penerapan syariah Islam di Nusantara khususnya dan tentunya di seluruh dunia umumnya agar rahmat Allah SWT menaungi bumi.
Untuk mengubah manusia secara massal, tidak mungkin dilakukan oleh individu maupun kelompok. Untuk melakukan perubahan ini tentu butuh sebuah institusi besar untuk melaksanakanya yang disebut negara. Maka kepemimpinan sebuah negara merupakan sarana berupa kekuasaan untuk melaksanakan hukum dan aturan. Dan kepemimpinan negara dalam Islam merupakan kekuasaan yang digunakan negara untuk menjaga terjadinya tindak kedzaliman serta memutuskan masalah-masalah yang dipersengketakan.
Teguran Allah SWT melalui berbagai musibah, penyakit dan kelaparan harusnya sudah cukup bagi kita untuk menyadari akan pentingnya hidup bernegara dengan mentaati Syariah-Nya. Allah SWT telah memberikan contoh tauladan bagi kita bagaimana kepemimpinan atas umat manusia yaitu diturunkannya Rasulullah SAW sebagai pemimpin di muka bumi yang estafet kepemimpinan tersebut kemudian dilanjutkan oleh khulafaurrasyidin.

Khatimah

Wahai kaum muslimin, Indonesia sebagai negeri mayoritas Muslim, sudah sepatutnya agama lain bertoleransi kepada mayoritas. Dengan diterapkannya Syariah Islam dipastikan tidak mengganggu agama lain dalam menjalankan ibadah agamanya. Sungguh Allah SWT telah menjanjikan kepada kita akan memberikan rahmat-Nya untuk kita umat Islam dan seluruh alam juga tentunya sebagaimana ayat pembuka di atas. Kemudian Allah pun memberikan peringatan untuk berpegang teguh kepada syariat Allah dan menjauhi prasangka dan hawa nafsu manusia. mari kita simak firman Allah SWT berikut ini,
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah SWT. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Q.S. Al Maidah: 49)
Dalam ayat ini tentu penerapan Syariah Islam secara menyeluruh oleh Negara menjadi sebuah kewajiban. Maka mari kita bersama-sama dengan lantang menyuarakannya hingga Nusantara ini menjadikan syariah Islam sebagai sistem negara. Ketika kaum muslim telah menjalankan Syariah Islam secara kaaffah, maka pasti Allah SWT memenuhi janji-Nya untuk menurunkan rahmat-Nya kepada seluruh alam. Artinya rahmat Allah akan dirasakan tidak hanya kaum muslim saja, namun juga nonmuslim dan makhluk-makhluk lainnya.(****)
Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. [] MZiS

Pos terkait