Indonesia Bangkit dengan Islam

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Muat Lebih

Mahbub Zarkasyi

Kita melihat fakta kaum muslim di Indonesia sebagai penduduk mayoritas di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, lebih dari 80% penduduk Indonesia adalah muslim dan merupakan penduduk muslim terbesar di dunia. Islam masuk ke Indonesia melalui dakwah para Utusan Khalifah ke para penguasa di Nusantara yang ketika itu terpecah menjadi puluhan kerajaan dengan agama Hindu dan Budha. Amiirul mu’minin mengutus beberapa gelombang utusan disebut Wali dan berjumlah sembilan atau disebut Songo yang dikenal di Indonesia disebut Walisongo. Para Wali sang utusan khalifah berhasil mengislamkan para Raja-raja di Nusantara kemudian menggabungkan pemerintahannya di bawah naungan Khilafah Islam. Namun para Raja tersebut tetap menjadi penguasa atas kerajaannya kemudian status kerajaan berubah menjadi kesultanan Islam dimana diterapkan Syariah Islam kepada rakyatnya. Dengan masuk Islamnya para rajanya dan begitu Indahnya penerapan syariah Islam, maka rakyatnyapun berbondong-bondong masuk Islam hingga hampir seluruhnya menjadi muslim.
Di masa keemasan Islam, kemudian kekhilafahan Islam dengan berbagai propaganda barat mentolerir penerapan hukum barat ke dalam tubuh kekhilafahan, sehingga sedikit demi sedikit melemahlah kekuatan Islam. Maka barat pun akhirnya berusaha memecah-belah wilayah kaum muslim dengan melakukan pendudukan di wilayah yang jauh dari pusat kekhilafahan seperti Nusantara dan wilayah kaum muslim lainnya. Walaupun kaum muslim di Indonesia dijajah silih berganti oleh Eropa hingga ratusan tahun lamanya dengan pastinya mengemban misi kristenisasi, kemudian diduduki jepang selama 3,5 tahun namun tetap dengan keimanannya memeluk agama Islam.
Memang kaum muslim bisa mempertahankan aqidahnya walaupun dengan tekanan penjajahan fisik. Namun keadaan kaum muslim dikuasai oleh Barat dalam bentuk neoimperialismenya seolah tak memiliki kehormatan. Ini bisa kita lihat di negeri kita yang Allah Subhanahu Wata’ala anugrahi dengan kekayaan alam berlimpah ruah. Kemudian bagaimana keadaan kaum muslim sebagai penduduk mayoritas? Penguasa dimana dalam hal ini Kepala Negara memang muslim dan Kepala Daerah di beberapa wilayah mayoritas muslim juga dipimpin oleh orang-orang kafir. Dari segi perekonomian Indonesia sudah dikuasai oleh orang-orang kafir baik dalam negeri maupun negara-negara luar. Kekayaan alam yang berlimpah ruah namun rakyat Indonesia masih sering mengalami kesulitan dalam mendapatkannya atau dipatok dengan harga tinggi. Semua itu karena kekayaan alam Indonesia sebagian besarnya dikuasai oleh negara lain.
Di dunia pendidikan kita tak lagi mendengar teori-teori dari ilmuan muslim, padahal dimasa keemasan Islam telah melahirkan banyak ilmuan muslim. sehingga generasi muda muslim tak lagi mengenal ilmuan muslim yang telah melahirkan peradaban emas dunia hingga 13 abad lamanya. Namun teori dan ilmuan yang diperkenalkan hanya dari ilmuan barat. Seolah hanya barat yang memiliki peradaban. Padahal peradaban barat baru muncul dalam kurun 200 tahun terakhir ini.
Mengapa kaum muslim hari ini mengalami kemuduran? Bagaimana mengembalikan peradaban emas ke tangan kaum muslim? Mungkin kita berfikir tak mungkin lagi kaum muslim memimpin peradaban dunia? Mungkin kita berfikir karena kita bukan hidup di zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, maka pertolongan Allah tidak melalui kita? Mungkin kita menunggu Imam Mahdi dan Nabi Isa yang akan Allah turunkan sebagai Khalifah kaum muslim di dunia sebagaimana yang dijanjikan?
Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran membuat kaum muslim pesimis dalam mendobrak tekanan kehidupan ini. Allah Subhanahu Wata’ala sebenarnya telah mengingatkan kita bahwa untuk mengubah keadaan kaum muslim hari ini, maka kita sendirilah yang harus mengubah keadaan yang menimpa kita ini sebagaimana yang Allah abadikan dalam ayat 11 Surat Arr-a’du di atas. Keadaan yang menimpa kaum muslim sesungguhnya karena kaum muslim sendiri yang meninggalkan syariah Islam dalam mengurus urusan kehidupan. kaum muslim saat ini telah menganut sekulerisme dimana terikat dengan hukum Islam hanya di perkara Aqidah dan ibadah ritual saja.
Apakah Allah memberikan keberhasilan hanya kepada generasi yang hidup di masa shahabat? Apa Istimewanya para Shahabat ra? apa Rahasia keberhasilan mereka?
Mereka mulia tentunya karena memegang Islam. Mereka berhasil menghancurkan peradaban jahiliyah menjadi peradaban Islam yang mulia tiada lain karena kesungguhan mereka dan keteguhan memegang Syariah Islam. Kita bisa lihat siapa sesungguhnya panglima perang terbaik? Dia adalah Khalid ibn Walid ra yang telah mengalahkan perang Rasulullah SAW. Khalid dulu hina karena telah memukul kekasih Allah hingga menanggalkan gigi beliau SAW ketika perang Uhud. Namun beliau kemudian berubah jadi mulia dan berhasil menaklukkan Persia. Siapa Umar ibn Al-Khaththab ra? Dia adalah orang pertama yang digelari Amiirul mu’miniin. Di masa Jahiliyahnya beliau pernah telah membawa pedang untuk membunuh Rasulullah SAW. kemudian beliau memeluk Islam hingga Syam dan Palestina di bawah kekuasaan Khilafah Islam. Namun kemenangan kaum muslim tidak hanya di era Shahabat, Thariq ibn Ziyad bukan dari generasi Shahabat, namun beliau mampu menaklukkan Cordoba hanya dengan 7000 pasukan melalui laut di tambah 5000 pasukan berkuda dari darat dan mengalahkan perang 200.000 pasukan kafir. Atau Panglima Perang yang lahir di Era kaum muslim di duduki, dialah Shalahuddin Al-Ayyubi yang telah membebaskan Yerussalem dari tangan tentara Salibis. Atau Panglima Perang terbaik sepanjang masa keemasan Islam hingga saat ini. Siapa lagi kalau bukan Sulthan Muhammad Alfatih. Hanya di usia 22 tahun beliau memimpin hingga usia 24 tahun beliau berhasil merebut Ibukota Negara Adidaya ketika itu Bizantium Konstantinopel Romawi. Mereka sukses bukan karena bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun mereka sukses karena mereka bersungguh-sungguh dalam perjuangan dan memegang teguh Islam hingga pantas membangun peradaban mulia.
Kita lihat, sesungguhnya kesungguhan tidak hanya muslim. Maka keberhasilan bisa dirasakan oleh orang-orang Jahat dan memusuhi Islam. Di zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, Khalid ibn Walid telah mengalahkan perang kaum muslim. Padahal ketika itu kaum para Shahabat terbaik melindungi Rasulullah. Namun karena banyak kaum muslim yang melepaskan diri ketaatan kepada Rasulullah dan kesungguhan Khalid ibn Walid, maka kaum muslim dikalahkan. Atau pasukan mongol yang meruntuhkan pusat kekhilafahan, tiada lain karena perencanaan yang matang dan kesungguhan mereka dalam berbuat. Bagaimana ketika Cordoba di inkuisisi setelah 800 tahun dipuncak keemasannya memegang peradaban tertinggi, harus hancur dan darah kaum muslim mengalir di seluruh penjuru negeri. Atau bagaimana sang agen Yahudi dan Inggris merobek-robek perisai penjaga kehormatan kaum muslim, Mustafa Kamal Attaturk La’natullah ‘Alaih. Dengan kesungguhannya mampu menghancurkan kekhilafahan kaum muslim hingga berakhir tinggal kenangan. Apakah mereka mendapat pertolongan Allah? ohh tidak. Tak mungkin Allah menolong orang-orang yang telah membuat makar terhadap agama Allah. Musuh-musuh Allah diberikan kemenangan tiada lain karena mereka bersungguh-sungguh dalam mengubah keadaan atau peradaban. Mereka bersungguh-sungguh dalam menghancurkan Islam. Sebelum Khilafah terakhir diruntuhkan, maka ratusan tahun sebelumnya, kekhilafahan kaum muslim mulai dilemahkan dari dalam. Disisipkan hukum-hukum barat untuk diterapkan dengan meninggalkan sedikit demi sedikit hukum Islam. Kemudian muncullah pemberontakan dari dalam dan melepaskan diri dari kekuasaan kaum muslim. Sosok pemimpin saat itu hanya menjadi simbol kekuasaan, namun yang berkuasa sesungguhnya adalah kaki tangan Khalifah ketika itu telah mulai disusupi pemikirannya cinta harta dan tahta. Gemerlap harta dan takutnya jatuh dari tahta yang dimiliki, membuat pemimpin kaum muslim kehilangan pertolongan Allah.
Apakah ketika itu tiada kaum muslim yang baik? Tidak. Kaum muslim yang baik dan berada dijalan yang benar tetap ada. Namun orang baik ketika itu diam atas kemunkaran sedang agen Barat ditubuh kekhilafahan bersungguh-sungguh. Maka orang kafir pun diberikan kemenangan. Sebagaimana hari ini, bumi Palestina di tengah-tengah wilayah kaum muslimin, namun tak mampu membebaskan diri dari pendudukan Yahudi Bani Israel laknatullah. Mengapa? Karena pemimpin kaum muslim hanya menonton saja takut gemerlap hartanya hilang dan takut jatuh dari tahta yang didudukinya. Penguasa di negeri kaum muslim lebih takut pada musuh-musuh Allah daripada Azab Allah yang kekal diakhirat nanti.

Khatimah
Dari fakta-fakta di atas, maka sudah sepatutnya bagi kita yang menyaksikan langsung di depan mata kita, sungguh kita sedang menyaksikan kemunkaran ini, untuk bersuara lantang atas pelanggaran syariat Allah agar kembali kepada hukum-hukum Allah. Jangan lah kita berdiam diri kemudian menyibukkan dengan amalan pribadi. Tidak, sungguh keadaan kita tidak akan berubah kecuali kita sendiri yang akan mengubahnya. Bukan menunggu Imam Mahdi dan Nabi Isa diturunkan. Bukan. Namun kita harus sungguh-sungguh berjuang hingga kita bisa bangkit dengan Islam. Kembali membangun peradaban Islam yang mulia.
Wahai kaum muslimin, bila kita ingin bangkit, sesungguhnya kemenangan Islam sudah di depan mata. Hanya dibutuhkan sedikit lagi kesungguhan kita hingga pertolongan Allah datang. Pertolongan Allah kepada kita pasti datang, namun Allah ingin menyaksikan bagaimana kita menolong agamanya. Kebangkitan kaum muslimin tidak akan pernah terjadi kecuali kaum muslim kembali berpegang teguh dengan Syariah Islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. An Nuur 55).
WalLâh a’lam bi ash-shawâb [] MziS (****).

Pos terkait