‘Iduladha : Momen Persatuan, Solidaritas dan Paripurna Islam

  • Whatsapp
Penulis: Desti Ritdamaya
Guru SMKN 1 Sungailiat, Bangka, Babel

Alhamdulillah, kaum muslim Jum’at pekan lalu (31 Juli)  merayakan ‘Idul Adha mubarak. Hari raya yang agung, karena di dalamnya terdapat integrasi ibadah ritual dan ibadah sosial sebagai penghambaan kepada Allah SWT. Dalam ‘Idul Adha ada tiga hal yang senantiasa harus dilakukan dan diingat oleh kaum muslim, yaitu ibadah haji, ibadah kurban dan wahyu terakhir dari Allah SWT.

Prosesi penunaian rukun Islam yang ke lima (ibadah haji) oleh kaum Muslim di bulan Dzulhijjah dimulai dari persiapan (tarwiyah) pada tanggal 8. Puncak pelaksanaannya adalah wukuf di Arafah pada tanggal 9, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Pada tanggal 10 Dzulhijjah dilakukan jumrah Aqabah, tahallul, menyembelih hadyu (hewan sembelihan) dan thawaf ifadhah. Dilanjutkan mabit di Mina, jumrah Ula, Wustha dan Aqabah  pada hari-hari tasyrik dan thawaf wada’.

Haji tidak sekadar ibadah ritual, tetapi di dalamnya sarat makna dan syi’ar Islam. Seluruh jamaah dari berbagai penjuru dunia dengan suku, warna kulit, negeri, dan mahzab berbeda dapat berkumpul dan bersatu menghadap Allah SWT. Karena semuanya diikat oleh aqidah yang sama. Semuanya sama di hadapan Allah SWT,  tidak ada yang membedakannya kecuali ketakwaannya.

Rutinitas ibadah haji ini, setiap tahun ditunaikan oleh kaum muslim. Karena selain kewajiban, kaum muslim yang bertakwa akan selalu rindu untuk bersujud dan bersimpuh tunduk di hadapan Ka’bah. Ingin mereguk nikmatnya ziarah pada dua kota suci (Mekah dan Madinah), untuk napak tilas perjuangan dakwah Rasulullah SAW dan para shahabat yang mulia. Termasuk tahun ini, walaupun pandemi Covid-19 secara global terus menanjak kasusnya. Pelaksanaannya tetap dilakukan tetapi dengan kuota terbatas dan protokol kesehatan yang ketat. Untuk Indonesia sendiri, pemerintah secara resmi telah mengumumkan bahwa tidak ada pemberangkatan jemaah haji tahun ini.

Baca Lainnya

Pun sama dengan ibadah kurban, tidak pernah terlewatkan setiap tahun. Untuk prosesi penyembelihan tahun ini tetap dijalankan, tetapi tetap menjaga protokol kesehatan untuk mencegah dan meminimalisir potensi penularan Covid-19. Bagi yang berkurban, tidak hanya meneladani pengorbanan dan ketaatan Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail. Tetapi ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mengharap ridha-Nya semata. Selain itu, sarana latihan membiasakan diri berkurban di jalan Allah SWT dengan harta dan jiwa, sehingga dengannya dapat meninggikan agama-Nya.

Dalam ibadah kurban, efeknya juga tidak hanya bersifat individual. Tetapi keberkahannya dirasakan oleh kaum muslim secara komunal. Makanya, disebut juga ibadah sosial. Daging kurban dinikmati secara bersama, terutama fakir miskin dan yatim piatu. Ibadah kurban menunjukkan solidaritas, kepedulian, dan cinta kasih antar sesama. Sehingga datangnya ‘Iduladha adalah  suka cita bagi seluruh kaum Muslim.

Dalam rangkaian prosesi ‘Iduladha, ada momen historis dakwah Rasulullah SAW yang harus selalu diingat dan dipegang teguh maknanya oleh kaum muslim, yaitu turunnya wahyu terakhir pada tahun ke sepuluh hijriah. Tepatnya setelah khutbah haji wada’ di hari tarwiyah. Wahyu terakhir tersebut adalah surat Al Maidah ayat 3, Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Setelah mendengar ayat ini, Abu Bakar As Shiddiq tiba-tiba menangis. Karena Beliau sangat memahami, ayat ini pertanda selesainya risalah kenabian dan semakin dekatnya waktu Rasulullah SAW menghadap Allah SWT.

Ibnu Katsir menjelaskan, tafsir ayat ini, yaitu menjelaskan nikmat terbesar yang Allah SWT berikan pada kaum Muslim. Karena Allah SWT telah menyempurnakan bagi kaum Muslim agama Islam. Allah SWT telah mencukupkannya dan tidak akan menguranginya untuk selamanya. Kaum Muslim tidak memerlukan tambahan lagi selamanya. Tidak memerlukan lagi agama yang lain. Islam adalah agama yang disukai dan diridai oleh Allah SWT. Mukmin sejati memahami makna ayat ini, bahwa Islam dengan syari’atnya sudah paripurna, yaitu syamil dan kamil. Syamil artinya syari’at telah menjelaskan semua hal dan mengatur segala perkara. Sedangkan kamil artinya syari’at Allah sempurna, tidak sedikit pun memiliki kekurangan.

Islam mempunyai prinsip bahwa kehidupan ini adalah materi yang tidak boleh dipisahkan dengan ruh (idrak shilah billah atau kesadaran hubungan dengan Allah SWT). Maksudnya kehidupan ini, harus terikat dan diatur dengan agama, baik aspek hablumminallah (ibadah ritual) maupun hablumminannas (politik, pendidikan, ekonomi, pergaulan, sosial, budaya, hukum dan sebagainya). Sehingga mewajibkan kaum Muslim untuk menerapkan syari’at Islam secara kaffah baik dalam lingkup kehidupan individu, masyarakat maupun negara (khilafah).

Tetapi hari ini, disadari atau tidak, kaum Muslim belum sepenuhnya mengamalkan wahyu terakhir ini. Belum memegang teguh makna ayat ini. Buktinya sekulerisasi (pemisahan agama dari kehidupan) merasuk dan diterapkan dalam berbagai sendi kehidupan kaum Muslim. Syari’at Islam termarginalkan hanya pada ibadah ritual (shalat, puasa, haji, kurban, zakat dan lain sebagainya) atau urusan nikah, cerai dan wafat. Sedangkan dalam hablumminannas,  aturan yang diterapkan bersumber dari buah pikir manusia yang terbatas yaitu ideologi kapitalisme dan demokrasi.

Dampak sekulerisasi ini sangat destruktif, karena berbagai kemaksiatan dan kejahiliahan menjamur dalam kehidupan kaum Muslim hari ini. Tidak hanya dilakukan oleh individu seperti zina, LGBT, konsumsi narkoba, pembunuhan sadis, aborsi, pornografi pornoaksi dan sebagainya. Tetapi juga dilakukan atas nama negara. Misalnya pelegalan zina dalam bentuk lokalisasi. Bahkan negara memfasilitasi pelaku zina berupa pembagian kondom gratis dengan alasan mencegah HIV AIDS. Pabrik minuman keras (khamar) dilegalkan bahkan menjadi sumber pendapatan negara lewat pajak. Riba menjadi penopang utama ekonomi melalui utang negara, dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, sekulerisasi inilah yang menjadikan kaum muslim menjadi sengsara, lemah, teraniaya dan tercabik kehormatannya secara sistematis. Lihatlah kondisi muslim Palestina yang selalu dibombardir oleh rudal-rudal Israel. ‘Pembersihan’ jutaan etnis Muslim Uighur oleh China dengan menempatkan mereka di kamp-kamp konsentrasi. Genosida muslim Rohingya yang sistematis di bawah pengawasan pemerintah Myanmar. Kekerasan dan penyerangan muslim di India yang selalu memakan korban. Belum lagi stigmatisasi dan monsterisasi syari’at Islam oleh pemerintah sekuler di negeri-negeri Muslim sendiri. Kemiskinan sistemik dan lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Hukum tajam ke rakyat dan yang ‘kontra’ penguasa, tetapi tumpul ke penguasa dan yang ‘pro’ kepadanya. Termasuk terus berjatuhannya korban Covid-19 dari hari ke hari.

Ya, ini semua adalah buah sekulerisasi yang mencampakkan syari’at Islam yang bersumber dari Allah SWT, Pencipta dan Pengatur terbaik dalam kehidupan. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 85, Artinya : Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.

Apakah kaum muslim hanya menerima pasrah sistem kehidupan sekuler seperti ini ? Tidak ! muslim yang bertaqwa, yang mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya harus menyadari bahwa sistem kehidupan sekuler bertentangan dengan aqidah Islam. Juga harus menyadari bahwa sistem ini, hanya akan semakin menjauhkan diri dari rida dan keberkahan dari Allah SWT. Sudah saatnya menghentikan sekulerisasi dan menerapkan kembali syari’at Islam secara kaffah yang haq dari Allah SWT. Agar kaum Muslim tidak tersesat, menjadi umat terbaik dan mampu mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamiin (rahmat bagi semesta alam).

Allah berfirman, Artinya : Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu (TQS.Al Abaqarah ayat 147). Wallahu a’lam bish-shawabi.(***).

Related posts