Ia Yang Dititipkan Surga

  • Whatsapp

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

Seorang perempuan dengan gincu merah serupa lampion berdandan di depan cermin. Sesekali ia melirik jam dinding. Bulan tenggelam ke dalam pelukan awan. Jam sebelas lewat. Makin jarum panjangnya bergeser, makin cepat pula perempuan itu untuk segera menyelesaikan dandanannya. Sudah lima belas menit ia merapikan tubuhnya, mengenakan rok pendek di atas lutut dan membiarkan belahan dadanya terbuka. Secepat mungkin ia harus berangkat, tanpa bilang hendak kemana pada bocah sepuluh tahun yang berdiri di belakangnya sejak tadi.
Perempuan itu melangkah keluar, menutup daun pintu pelan-pelan sampai tak menimbulkan bunyi sedikit pun. Dari dalam rumah, Hafidz menyingkap gorden, kaca yang transparan memperlihatkan ibunya dijemput seorang lelaki. Kening Hafidz berkerut membentuk garis terombang-ambing menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sang ibu dijemput oleh lelaki berbeda setiap malamnya.
Hafidz tidak pernah sekali pun mendengar dongeng sebelum tidur sebagaimana kerap dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Ia meringkuk kesepian seorang diri di dalam kamar. Hafidz tidak pernah tahu siapa nama ayahnya, apalagi mengetahui seperti apa rupa sang ayah. Semula Hafidz mengira seorang lelaki yang datang menjemput ibunya ke rumah tak lain adalah ayahnya sendiri, tetapi perkiraan itu meleset. Tidak mungkin ia punya banyak ayah.
Hafidz terlentang di atas ranjang. Dalam pejam matanya Hafidz mendadak ingat saat pertama kali bertanya kepada sang ibu perihal siapa ayahnya dan dimana keberadaannya. Ia sungguh ingin menemui lelaki itu dimana pun berada. Pertanyaan Hafidz malah dijawab dengan tamparan keras yang mendarat di pipinya. Wajah perempuan itu mengeluarkan api. Terjatuh ke lantai pandangan Hafidz. Bocah itu mengatur laju napasnya. Degup jantungnya bersahutan dengan detik jam dinding.
Kemurkaan Lastri, ibu Hafidz itu bukan tak beralasan. Ia terbaring sakit selama enam puluh hari seusai melahirkan Hafidz. Sebelum itu juga, Mak Yot, dukun beranak harus mengurut perutnya yang buncit sampai ia harus merasakan sakit yang teramat karena posisi bayinya sungsang. Jadi, wajar saja bila Lastri murka dengan pertanyaan Hafidz perihal siapa lelaki yang menanamkan janin di rahimnya itu.
Sampai saat ini Lastri sendiri tidak pernah tahu sperma lelaki siapa yang berhasil membuahi rahimnya itu. Perempuan itu tidak pernah menghitung berapa jumlah lelaki yang tidur dengannya dalam semalam. Ia tidak pernah mau ambil pusing soal itu. Baru setelah Lastri lambat datang bulan, pikirannya mulai bercabang-cabang, menduga-duga jika ada sesuatu yang tumbuh dalam perutnya. Keterkejutan melingkar di wajah Lastri setelah ia meminta Mak Yot, dukun beranak di Jalan Usah Kau Kenang Lagi itu mengatakan bahwa ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya.
Tentu saja, Lastri meminta Mak Yot agar menggugurkan kandungan itu. Lastri tak pernah berharap ada janin tumbuh di dalam perutnya, terlebih ia sendiri tidak tahu siapa lelaki yang berhasil membuahi rahimnya tersebut. Mak Yot menggelengkan kepalanya. Ia menolak permintaan Lastri. Tegas Mak Yot mengatakan tidak akan pernah mau menuruti keinginan Lastri.

“Saya tidak mau berdosa, saya bukan pembunuh.”
“Ini aib. Bantulah saya membuang aib ini Mak. Sama sekali tidak berdosa, justru pahala bagi Mak.” Lastri terus membujuk, coba meluluhkan hati Mak Yot. Tapi tetap saja Mak Yot menggelengkan kepalanya.

“Tetap jaga kandunganmu sampai lahir. Semoga ia yang dititipkan surga padamu.”

Sepanjang perjalanan pulang Lastri kepikiran dengan kata-kata terakhir Mak Yot. Kata-kata Mak Yot seperti memiliki kekuatan luar biasa menyentuh ulu hatinya yang terdalam. Pikiran Lastri tambah bercabang, antara mempertahankan bayi dalam kandungannya atau menggugurkannya.
Butuh waktu lama bagi Lastri untuk mengambil keputusan. Tercenung dan berpikiran macam-macam tempurung kepalanya. Tidak mudah bagi perempuan seperti Lastri memutuskan persoalan rumit yang tengah ditimpakan Tuhan kepadanya. Berhari-hari Lastri berpikir keras, mencari keputusan yang pas sampai akhirnya Lastri mengambil sikap tetap merawat janin yang tumbuh dalam perutnya itu.
Selama sembilan bulan Lastri juga harus membiarkan dirinya dikutuk, dikata-katai oleh para tetangga. Selalu setiap pagi, gendang telinga Lastri mendengar orang-orang mengatainya sebagai pendosa bahkan mereka terang-terangan berkata lantang di depan wajah Lastri. Perempuan itu tidak balas mengutuk, Lastri malah tersenyum menerima cibiran dan cacian itu apa adanya. Lastri mengaku bukan perempuan suci, bahkan pernah Lastri berkata ia memang tengah mengandung anak dari hasil perbuatan dosanya sendiri.

“Jangan kamu bertanya, siapa ayahmu. Masih untung kau lahir ke dunia, masih untung kau dirawat!” Lastri mengatakannya pada Hafidz. Bocah itu menundukkan wajahnya.

Sejak itu, Hafidz tak pernah berani lagi bertanya soal siapa ayahnya. Hafidz dapat memahami cerita yang dituturkan ibunya. Hafidz tak sanggup membendung air matanya untuk jatuh di atas bantal. Ia menangis bukan lantaran pekerjaan ibunya, tetapi bocah itu merasa kenapa dirinya dilahirkan tanpa tahu siapa ayahnya. Apa mungkin aku titisan dari banyak lelaki yang tidur dengan ibu? Hafidz menyimpan pertanyaan itu sendiri dalam dadanya.

****
Menjelang sore, entah malaikat dari mana yang menyambangi Hafidz, di usia yang cukup tua untuk ukuran bocah seperti dia belajar salat. Setelah sekian lama Hafidz berjalan di lorong gelap akhirnya malaikat itu menuntunnya ke masjid, tempat anak-anak seusianya belajar salat dan mengaji kepada Haji Dul selepas Maghrib. Bocah itu berdiri di depan masjid dengan rupa kebingungan. Haji Dul mengajaknya ke dalam.
Hafidz beroleh pertanyaan dari Haji Dul. Lirikan anak-anak yang lain membuat Hafidz agak gugup untuk menceritakan siapa dirinya. Hafidz menceritakan saja yang sebenarnya. Sesunggunya sudah sejak lama Hafidz ingin belajar mengaji di masjid itu, tapi Lastri tak pernah mengizinkannya lantaran khawatir orang-orang akan mengutuk, mengata-ngatainya sebagaimana yang dialaminya dulu. Kedatangannya ke masjid ini pun tanpa sepengetahuan sang ibu. Lagi pula, kata Lastri kepada Hafidz waktu itu, tak usahlah pandai mengaji kalau mulut tetap diperdaya iblis, digunakan untuk mengata-ngatai orang. Hal ini diucapkan Lastri, mengingat ia pernah dikutuk oleh orang-orang yang saban Maghrib dilihat oleh Lastri berbondong-bondong menuju ke masjid itu.
Hari pertama Hafidz membuka siapa sesungguhnya dirinya dan hari pertama itu pula bagi Hafidz belajar agama pada Haji Dur. Ia disambut baik oleh anak-anak yang lain. Mereka menerima Hafidz apa adanya. Tidak sedikit pun mulut mereka merobek perasaan Hafidz. Haji Dul mengagumi kepandaian Hafidz dalam belajar mengaji. Sangat cepat Hafidz menangkap pelajaran mengaji yang diuraikan Haji Dul.
Hampir satu bulan Hafidz diam-diam belajar mengaji di masjid. Lastri tak melihat gelagat mencurigakan yang ditunjukkan anak lelakinya itu. Empat bulan ini Lastriselalu berangkat bersamaan dengan adzan Maghrib dan saat itu pula Hafidz membawa langkahnya ke masjid. Kadang Hafidz terlambat datang dikarenakan sang ibu mengunci pintu rumah dan membawa serta kunci itu. Dengan susah payah Hafidz terpaksa mencongkel jendela dapur.
Setiap pelajaran mengaji selesai, Haji Dul kerap menceritakan kisah-kisah para nabi. Tidak hanya itu, Haji Dul juga membuka pertanyaan pada mereka mengenai apapun. Mata Hafidz berbinar-binar ketika Haji Dul menuturkan setiap kehebatan mukjizat yang dimiliki para nabi. Hafidz mengangguk-anggukan kepalanya melihat gaya bicara Haji Dul yang sangat memikat pendengarnya.

“Apa ada nabi yang dilahirkan tanpa seorang ayah?” Hafidz melihat ke wajah Haji Dul. Lelaki bersurban itu tersenyum memandangi raut muka Hafidz. Ia tahu kemana maksud pertanyaan Hafidz.

“Ada. Dia adalah putera Maryam. Nabi Isa.”

“Saya tak tahu siapa ayah saya. Apa ibu saya itu seperti Maryam?”

“Hanya ada satu Maryam di dunia ini. Selebihnya Wallahu A’lam”

“Apakah seorang anak bisa menyelamatkan ibu dari ancaman api neraka?” Hafidz tahu betul apa pekerjaan ibunya. Untuk itulah ia bertanya, khawatir sang ibu dilumat api neraka di akhirat kelak.

“Terputuslah semua amal manusia ketika ia meninggal, kecuali tiga hal, pertama sedekah, kedua ilmu yang bermanfaat, ketiga doa anak saleh yang senantiasa mengalir kepada orang tuanya.” Hafidz menghela napas, melegakan tenggorokannya yang terasa tersumbat sejak tadi.

Hafidz pun kian terobsesi menyelamatkan ibunya dari ancaman api neraka. Ia bahkan mulai punya nyali menegur ibunya agar berhenti melayani setiap lelaki yang membeli tubuhnya. Berulang-ulang tangan Lastrimendarat di pipi tirus Hafidz, berulang-ulang pula Hafidz mengingatkan ibunya pada kematian. Wajah Lastri merah padam.
Lastri tidak pernah kembali ke rumah sejak tiga hari lalu. Pastilah ia enggan pulang lantaran mulut Hafidz kerap bicara kematian. Hafidz memikirkan nasib ibunya. Bersila di atas sajadah, sembab matanya memohon kepada Tuhan agar sang ibu segera pulang. Rupanya, setelah sekian lama terjawab doa Hafidz pada sore yang kelam. Lastri pulang tanpa napas. Seseorang mengantarkan jasad Lastri. Ia meninggal setelah kelelahan melayani pelanggannya dan minum bir secara berlebihan.
Haji Dul datang menguatkan Hafidz. Tumpah air mata Hafidz dalam pelukan lelaki bersurban itu. Kematian ibunya dengan cara tragis seperti ini membuat mata Hafidz menerawang, membayangkan ibunya berada di tepi jurang neraka. Diseret tubuh Ibunya, lalu dilempar ke dalam api telaga. Sekejap api telaga itu mampu mengelupas seluruh kulit, sekejap pula tubuh yang hancur itu kembali seperti sediakala, dan begitulah terus menerus yang akan terjadi. Alangkah menakutkan bayangan itu di mata Hafidz.
Prosesi pemakaman dilakukan malam hari. Saat jasad Ibunya dibaringkan di liang lahat, terjatuh air mata bocah sepuluh tahun itu. Hafidz menabur bunga-bunga di atas pusara sang ibu. Terus menerus mulut Hafidz membaca doa sambil lalu mendongakkan wajah ke atas, pada langit malam yang temaram. Hafidz melihat doa-doa itu bertarung di atas langit sebelum akhirnya sampai ke hadirat Tuhan.

Pesisir Selatan Pulau Bangka, Mei 2019

R Sutandya Yudha Khaidar, Seorang imigran gelap dari Surga yang diselundupkan ke Bumi oleh Orangtuanya di kamar pengantin yang tegang.

Related posts