Huzarni Nilai Pembangunan Basel Stagnan

  • Whatsapp

PANGKALPINANG – Mantan Pj Bupati Bangka Selatan (Basel), Huzarni Rani melihat pembangunan di era kepemimpinan Justiar Noer terkesan jalan di tempat.

Menurut Huzar, tak ada pembangunan berarti selama kepemimpinan Justiar, apa lagi sisa masa bhakti Justiar yang tersisa 13 bulan lagi.

Muat Lebih

“Jujur saya sedih. Belum lagi nampak banyaknya Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terjerat kasus korupsi,”kata Huzar, Minggu (12/1/2020) kemarin.

Huzar menilai, Justiar juga tidak paham dengan manajemen sumber daya manusia (SDM) birokrasi yang menyebabkan pembinaan karir tidak berjalan dengan baik. Bahkan, nampaknya Justiar masih mempertimbangkan dukungan politik Pemilihan Bupati (Pilbup) 2015 ketika mengangkat pejabat sehingga terjadi penonjoban besar-besaran para pejabat eselon II dan III bahkan sampai ke eselon IV.

“Hal ini jelas banyaknya putra daerah Basel yang tersingkir dari birokrasi Pemkab sehingga menimbulkan banyak para ASN ramai-ramai mengajukan mutasi ke provinsi dan kabupaten/kota lainnya karena merasa kariernya sebagai ASN sudah habis di Basel,”jelasnya.

Ia pun sangat menyayangkan banyaknya putra daerah Basel yang harus tersingkir dari birokrasi Pemkab yang seharusnya putra daerah diberi peran yang lebih besar bukan justru jadi penonton di daerah sendiri. “Karena mayoritas yang dinonjob itu putra daerah Basel,”sebutnya.

Penunjukan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Basel, Ansori untuk menduduki jabatan Plt Sekretaris Daerah (Sekda) juga tak lepas dari pengamatannya. Huzar merasa hal itu merupakan kebijakan yang paling lucu. Pasalnya, dengan belatar Sarjana Hukum untuk menjabat sebagai Kepala Dinas PU pun sudah sangat tidak tepat.

“Sangat berat bagi yang bersangkutan, karena untuk posisi Kadis PU dipegang oleh Sarjana Teknik Sipil juga belum menjamin bisa bagus kinerjanya, apalagi dipegang oleh sarjana hukum yg merangkap ssebagai Plt Sekda, dan nampaknya Justiar belajar dari pendahulunya. Tapi saya lihat, agak lebih baik Jamro kdari Justiar dalam hal manajemen SDM birokrasi di Basel,” sindir Huzar.

Ia juga berasumsi, penunjukan Kadis PU merangkap Plt Sekda menunjukan Justiar sedang menerapkan manajemen tukang cukur, karena PU dengan anggaran terbesar kepala dinasnya merangkap Plt Sekda yang notabenen sebagai Ketua Tim Anggaran.

“Di ujung masa jabatannya dengan menunjuk Kadis PU sebagai Plt Sekda maka patut diduga ada target yang ingin dicapai, karena pengelolaan anggaran pemda yang mendekati Rp1 triliun dikelola oleh dua orang, yakni bupati dan kadis PU yang merangkap Plt Sekda,” ungkapnya.

Untuk itu, kata Huzar, Basel yang akan menghadapi pergantian kepemimpinan ini harus lebih disikapi dengan cerdas oleh masyarakatnya.

“Melihat pembangunan Basel yang terkesan jalan di tempat, saya sebagai orang yang pernah menjadi bagian dari Pemda dan masyarakat Basel merasa sedih. Saya cuma berdoa semoga pada Pilbup yang akan datang, masyarakat Basel lebih teliti dalam memilih dan jangan salah pilih bupati lagi! karena memang siapapun yang terpilih jadi Bupati Basel merupakan ketetapan Allah SWT dan setiap ketetapan itu bisa jadi berupa rahmat, ujian atau hukuman bagi masyarakat,”tukasnya. (bum/6)

Pos terkait