Hudarni Harapkan Masyarakat Mampu Implementasikan 4 Pilar

  • Whatsapp
Anggota DPD RI merangkap anggota MPR RI, Drs HA. Hudarni Rani SH, saat memaparkan materi terkait Pancasila, Undang – Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika, di Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung, Jum’at (15/3/2019).(foto: istimewa).

Sosialisasi di Desa Suak Gual Selat Nasik

BELITUNG – Anggota DPD RI yang juga merangkap anggota MPR RI, Drs HA. Hudarni Rani SH, melakukan tugas rutinnya yaitu melaksanakan Sosialisasi Pancasila, Undang – Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhineka Tunggal Ika di Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung, Jum’at (15/3/2019) lalu.

Sosialisasi dipandu oleh Moderator Deky Siswoyo, SE. Narasumber pertama adalah Anggota DPDRI, Drs HA Hudarni Rani, SH, yang menyampaikan bahwa Sosialisasi 4 Pilar ini, merupakan agenda pemantapan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sosialisasi ini, diharapkan Hudarni, menjadi panduan yang efektif dan nyata apabila semua pihak segenap elemen bangsa serta penerus generasi bangsa para siswa-siswi, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lainnya secara konsisten mengamalkan serta mengimplentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian rilis yang diterima harian ini, kemarin.

Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Bangka Belitung ini, juga mengharapkan masyarakat dapat lebih mampu mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan dalam kehidupan, menjaga kerukunan beragama dalam bertetangga dan bermasyarakat adalah salah satu bentuk pengamalan nilai-nilai kebangsaan.

“Insya Allah Bangka Belitung sejak dulu telah menerapkan pengamalan nilai – nilai kebangsaan. Namun, kita tetap harus waspada agar keadaan tetap aman dan masyarakat tetap sejahtera serta bisa bekerja mencari nafkah dengan aman. Terutama dalam menghadapi pesta demokrasi yang akan digelar pada bulan April yang akan datang. Pada masa kampanye ini, jangan sampai dalam satu keluarga bertikai karena berbeda pilihan. Pilihan boleh beda, tapi kekeluargaan harus tetap utuh, dan itu bisa tercapai hanya jika kita menerapkan nilai nilai luhur Pancasila,” jelasnya.

Sementara itu, dalam paparannya Mirza Daliyodi SE MM, Dosen Akademi Manajemen Belitung mengungkapkan bahwa diterimanya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai Pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi penyelenggaraan negara Indonesia. Dengan pernyataan secara singkat bahwa nilai dasar Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.

Drs. H. Suhardi Ishak, MSi, Dosen Akademi Manajemen Belitung, pada kesempatan itu, mengungkapkan, dalam Pembukaan UUD 45 tertuang Tujuan Negara adalah “Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Hal ini, merupakan tujuan Negara.

Rumusan “Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”, lanjut dia, merupakan tujuan Negara hukum material, yang secara keseluruhan sebagai tujuan khusus atau nasional.

Adapun tujuan umum atau internasional adalah “ikut melaksanakan ketertiban Dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Untuk mencapai tujuan tersebut, sambung dia, diperlukan aturan-aturan yang kemudian diatur dalam pasal-pasal.

Maka, ditambahkannya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegera semestinya mentaati aturan yang sudah diundang-undangkan. “Syarat berdirinya sebuah negara ada empat, yaitu memiliki wilayah, memiliki penduduk, memiliki pemerintahan dan adanya pengakuan dari negara lain,” .

Karena memenuhi empat syarat itulah, masih kata dia, kemudian Negara Indonesia lahir dengan nama NKRI. NKRI lahir dari pengorbanan jutaan jiwa dan raga para pejuang bangsa yang bertekad mempertahankan keutuhan bangsa. Sebab itu, NKRI adalah prinsip pokok, hukum, dan harga mati.
NKRI, ungkap Suhardi, hanya dapat dipertahankan apabila pemerintahan adil, tegas, dan berwibawa. Dengan pemerintahan yang adil, tegas, dan berwibawalah masalah dan konflik di Indonesia dapat diselesaikan.

“Demi NKRI, apapun akan kita lakukan. NKRI adalah hal pokok, harga mati yang harus kita pertahankan. Pancasila bukan hanya falsafah bangsa, tetapi juga bintang yang mengayomi kehidupan seluruh rakyat. Bhinneka Tunggal Ika adalah perekat semua rakyat dan semua kepulauan yang ada di Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”,” pungkasnya.

Sosialiasi tersebut, dihadiri 157 peserta yang terdiri dari para tokoh masyarakat, kepala desa, tokoh pemuda, para guru, ibu-ibu pengurus dan anggota PKK dari Desa Suak Gual Kecamatan Selat Nasik.
Sosialisasi kali ini merupakan kegiatan yang ketiga dari enam kegiatan sosialisasi yang telah diagendakan oleh MPR RI untuk tahun 2019 ini. (raw/3)

Related posts